Kilas Balik Perlawanan Kala Turun ke Jalan

Art Tape yang Dibuat Massa Aksi di Depan Gedung Balai Kota Semarang pada Senin, (26/8) (Sumber: Manunggal)

 

Opini – Siang yang menggigit itu ratusan manusia sok kritis turun ke jalan. Mereka memakai seragam kebanggaan kampus alih-alih dengan telanjang badan, sekalian kaki bila perlu dan mau. 

Dalam barisan yang dempet dan rapat itu, terlihat jelas wajah-wajah yang sebetulnya sedang meramu sebuah racun bagi dirinya sendiri. Bagaimana tidak, tanpa pengamanan apa pun, besar peluang untuk mati bila demokrasi tak memihak mereka semua. 

Dalam barisan yang bergandengan itu, tersorot jelas tatapan-tatapan yang mendidih oleh amarah. Teriakan-teriakan lantang yang mencemari udara siang hari, bersahutan dengan suara klakson kendaraan yang merasa diusik jalannya. Kepalan tangan yang menembak udara, seperti sebuah pemberontakan untuk tidak tunduk pada satu hal yang telah lama merajalela.

Pada akhirnya, demokrasi memihak mereka. Itulah alasan untuk tetap turun ke jalan, untuk tetap sok kritis, untuk tetap berpihak pada perubahan walau sesekali insan-insan yang berkuasa di atas sana menganulirnya dengan berbagai peralatan, mulai dari hukum, aparat, bahkan keluarganya sendiri. Sejatinya, dengan sikap berani itu, mereka semua bisa jadi siap mati. Siapa yang tahu?

Mari jangan cari bukti dari pernyataan sederhana barusan, karena toh kepolisian negara ini sering melarung bukti dengan kemampuan-kemampuan klise yang mereka miliki. Sebutkan saja Closed-Circuit Television (CCTV) yang hilang, pelaku salah tangkap, atau ketakutan korban. 

Jadi, kesiapan massa dengan menjelma pahlawan di jalan adalah noktah yang akan menyambungkan napas demokrasi. Sekali lagi, kematian bisa lebih dekat untuk manusia-manusia yang berani. Sebab bagi mereka, nyawa adalah urutan kesekian setelah gugatan yang disertai pembelaan dengan cara melawan.  

Kaki mereka tidak lebih kuat dari cengkeraman penguasa yang berupaya menggerogoti bangsa ini dengan mengangkangi hukum, membagi jatah “kue politik”, ataupun mengobrak-abrik lembaga yang harusnya mengayomi bahkan mengadili. Kepalan tangan mereka bisa jadi tak lebih kokoh dari senyum-senyum penguasa yang merasa menang tiap kali berhasil meloloskan keinginanya dengan cara paling mengerikan, yakni menjungkir balik konstitusi. Namun satu hal yang pasti, amarah mereka dapat lebih dahsyat dari rancangan penguasa untuk memuaskan dahaganya agar tetap di atas sana.

Langit pun tahu harus apa, sebab tidak ada hujan hari itu. Matahari jadi penguasa tunggal yang merekam tuntutan, desakan, serta perlawanan. Banyak yang diam dan hanya membuka mulut ketika orator berseru, tapi lebih banyak emosi yang disimpan untuk menyampaikan pernyataan di waktu yang tepat. Kalaupun orasi mereka diwakilkan oleh satu atau dua orang, mereka tahu, suaranya bulat, tuntutannya jelas, dan amarah mereka sudah ditumpuk untuk siap disiram bensin kemudian berkobar.

Baik aksi pertama maupun kedua, semuanya pasti penuh persiapan. Walaupun gerakan turun ke jalan selalu hasil dari reaksi, mari tetap tilik jerih lelah orang-orang yang berupaya mengomando dan menyusun strategi, serta insan-insan yang turut dalam gerakan agar aksi ini berjalan dan tuntutan sampai ke telinga yang pura-pura tuli di atas sana. 

Hebatnya, aksi ini berjalan dengan semangat yang tidak padam, mengingat massa di aksi kedua lebih besar. Sedihnya, selalu saja ada ganjaran yang mengerikan dari pihak yang katanya mengayomi, tapi justru bersikap represif.

Tidak bisakah membicarakan tuntutan dengan baik, memberikan jalan kepada massa agar mereka menyampaikan pernyataan sikap sesuai dengan rencana semula? Mengapa harus semena-mena dan memukul mundur massa dengan cara paling gila? 

Walaupun harus diakui, massa yang berada di jalan tidak pernah bisa diprediksi. Kapan pun mereka bisa mendadak beringas, kemudian menjelma setan yang lebih galak dari polisi dengan tameng dan senjatanya. Akan tetapi, bila bercermin dari aksi yang lalu, justru intel milik polisilah yang mengobrak-abrik massa seolah mereka datang hanya untuk mengajak ribut dengan semua keresahan yang tertimbun.

Kalaulah benar terkait video yang beredar, sosok pria yang berjaket putih dengan tulisan “NASA” di dadanya adalah utusan polisi untuk jadi bagian dari massa, bukankah polisi harusnya tahu malu? Berserak rekaman pria itu seolah berpihak pada massa, mencumbui polisi dengan tendangan dan pukulan. Gerak dan lakunya begitu provokatif. 

Lantas, dengan lebih kuat lagi polisi merasa tersakiti, kemudian menyerang balik. Padahal, penyusup tadi adalah bagian dari instansinya. Bukankah seharusnya polisi sadar bahwa banyak cacat-cacat di tubuh mereka yang kian membelatung?

Ironinya, video yang ada bersanding dengan unggahan foto si penyusup di tengah-tengah manusia berseragam polisi yang diduga adalah temannya. Haruskah tertawa melihat manusia yang tadi memprovokasi, lantas melempar dosa pada massa dengan menyerukan; “pendemo hanya tahu buat rusuh! Pendemo hanya merepotkan!” 

Padahal, pihak polisilah yang sedang melakoni sebuah dunia seolah mereka adalah pelaku sekaligus korban, tapi gas air mata beserta alat-alat gagahnya pun ikut turun ke jalan.

Siapa tak kalah bila diserang habis-habisan, padahal datang dengan tangan kosong, selain tuntutan dan kerinduan akan perubahan. Siapa tak jatuh bila hujaman gas air mata mengudara mengalahi pasokan oksigen seharusnya. Siapa tak murka ketika aksi damai mereka ditengarai oleh lakon penyusupan yang tengil, kemudian dengan gamblang menyalahkan massa yang tak tertib. 

Percayalah, selepas melakukan kegagahannya ketika memukul mundur massa, para manusia berseragam itu akan tertawa puas tanpa tahu ada berapa banyak yang tumbang dan berapa orang yang terluka. Kebrutalan polisi bukanlah jawaban atas dalih membubarkan massa. 

Mengenai massa, gerakan sosial politik yang didorong oleh sikap ugal-ugalan penguasa, tetaplah marah dan kecewa. Kesemuanya adalah bensin untuk terus mengawal. Catatannya, bila keadaan negeri ini seolah baik-baik saja, tetaplah tak percaya, agar aksi dalam gelombang besar yang terjadi bukan hanya sekadar reaksi.

Sikap sok kritis akan membuat sebuah gerakan progresif, tapi tetaplah substantif. Menggiring langkah-langkah penguasa beserta kebijakannya adalah langkah kecil untuk terus mendiskusikan apa yang salah, apa yang kurang, dan apa yang harus dibenahi. Sebab, kemenangan disusun dari bata-bata kecil.

Bila kemarin habis-habisan dipukul mundur, tak berarti kalah. Sejatinya, kita semua sedang mempersiapkan diri untuk peperangan yang lebih besar, melalui latihan-latihan kecil seperti diskusi dan aksi sederhana agar terus mengawal.

Biarlah manusia yang keranjingan kuasa dan kekerasan paham bahwa kita semua sedang menyusun strategi, tetapi bersembunyi di balik pukulan yang membuatnya tersenyum tempo hari. Menunduk, tapi melawan. Menolak tunduk pada Raja Jawa. Panjang umur perjuangan! 

 

Penulis  : Mitchell Naftaly

Editor   : Ayu Nisa’Usholihah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top