
Peristiwa–– Film Sang Kiai karya sutradara Rako Prijanto menjadi salah satu film tersukses di tahun 2013. Pasalnya, film yang menampilkan kisah perjuangan KH Hasyim Asy’ari dan santri-santri pesantren Tebuireng dalam memperjuangan kemerdekaan Indonesia ini berhasil menyabet piala Festival Film Indonesia (FFI) pada kategori film terbaik di tahun tersebut. Namun terdapat adegan menarik ketika terjadi perundingan di Gedung Internatio pada 30 Oktober 1945. Bagi yang mengerti sejarah, hari itu merupakan pemantik pertempuran antara Inggris dan Indonesia yang mencapai puncaknya pada 10 November 1945.
Saat itulah Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby menemui ajalnya yang kemudian menyulutkan kemarahan pasukan Inggris. Pembunuhan terjadi ketika sang jenderal hendak menuju ke Gedung Internatio. Mobil yang ditumpanginya tidak dapat mencapai gedung tersebut lantaran jalannya dikerumuni massa arek-arek Suroboyo. Pada film ini ditampilkan ketika kekacauan terjadi akibat perselisihan antara massa dengan tentara Inggris berujung rusuh.
Supir beserta ajudannya kemudian pergi menuju Gedung Internatio untuk menyampaikan pesan sang jenderal, meninggalkan komandannya sendiri yang sedang mengamati kerusuhan massa dari dalam mobil. Tiba-tiba mobil didatangi oleh seorang pemuda yang kemudian dikenal sebagai santri Pondok Pesantren Tebuireng bernama Harun. Ia kemudian menoleh ke pemuda tersebut setelah mendengar ketukan di jendela mobilnya. Pintu depan terbuka dan pemuda tersebut langsung menembak sang Jenderal Mallaby. Sang supir beserta ajudannya yang melihat kejadian itu lantas berusaha menolong sang Jenderal, namun seorang diantaranya terkena tembakan dari pemuda tersebut.
Sementara yang selamat kemudian melempar granat ke arah mobil dan sukses membunuh santri dan (mungkin) Jenderal Mallaby yang terluka didalamnya. Lantas film ini kemudian mengundang perdebatan di antara pemerhati sejarah lantaran hingga kini pembunuh sang jenderal masih diselimuti misteri.
Pelaku
Adegan dari film tersebut sebetulnya tidak sejalan dengan salah satu artikel ilmiah karya J. G. A. Parrott berjudul Who Killed Brigadier Mallaby, dimana ia menulis berdasarkan kesaksian Kapten R.C. Smith, mengatakan bahwa seorang pemuda menembak Mallaby dari kaca pintu depan mobil menggunakan pistol. Artikel tersebut juga menampilkan kesaksian Dr. Ruslan Abdulgani dimana ia mendapatkan kabar dari beberapa pemuda bahwa mobil sang jenderal meledak – dan sesaat sebelum meledak, mobil tersebut ditembaki oleh orang dari pihak Indonesia. Dr. Ruslan pun kaget dan memerintahkan untuk tutup mulut perihal masalah ini lantaran dapat membawa konsekuensi buruk bagi rakyat Surabaya.
Perihal siapakah pemuda itu hingga kini masih misteri. Dari hasil penelusuran penulis, ditemukan dua orang yang diduga membunuh sang Jenderal. Orang pertama bernama H. Abdul Aziz, seorang mantan anggota Pemuda Rakyat Indonesia yang diklaim sebagai penembak Mallaby oleh anaknya, Muhammad Chotib. Seperti yang dilansir Historia.id, Ia mendekati mobil Mallaby pada malam hari selepas keadaan mereda. Sang jenderal sedang memantau situasi dari mobil bersama dua perwira Inggris yang lain. Lantas H. Aziz melepas tembakan ke arah mobil. Pengakuannya ini serupa dengan kesaksian Kapten Smith sebelumnya, namun dengan perbedaan sedikit.
“Seorang Indonesia datang ke jendela dekat Brigadir membawa senapan. Ia menembak empat (peluru, red) ke arah kita, semuanya meleset. Ia kemudian meninggalkan mobil sementara kami pura-pura mati. Pertempuran kembali memanas sekitar pukul 20:30, keadaan sudah gelap. Menjelang akhir waktu itu, suara tembakan mereda. Kami mendengar teriakan dan melihat orang Indonesia sedang dikumpulkan. Dua orang Indonesia mendatangi kami dan berusaha membawa mobil pergi. Aksinya tersebut gagal dan salah satunya membuka pintu belakang di sisi brigadir berada. Brigadir bergerak dan mereka (orang Indonesia) melihat bahwa brigadir masih hidup. Ia kemudian meminta untuk dipertemukan dengan ketua partai (ketua KNI, red). Kedua orang Indonesia itu kemudian keluar untuk berunding dan seorang diantaranya kemudian kembali ke pintu depan di sisi Brigadir. Brigadir bertanya kembali, orang Indonesia itu menjawab, kemudian ia menembak Brigadir. Diperlukan 15 detik hingga setengah menit bagi Brigadir untuk benar-benar tewas…”
Cerita Chotib juga selaras dengan kesaksian yang diberikan Ruslan Abdulgani, dimana seusai “membunuh” Jenderal Mallaby, H. Aziz kemudian melapor di Doel Arnowo. Dia kemudian diperintahkan untuk tutup mulut perihal hal ini. Ruslan Abdulgani memberikan kesaksian bahwa seorang pemuda mendatanginya ketika sedang berlindung di tepi Kali Mas. Ketika itu ia bersama dengan Dul Arnowo, Residen Sudirman, dan beberapa tokoh lain yang berencana menghadiri perundingan di Gedung Internatio sebelum kerusuhan mengacaukan rencana tersebut. Pemuda itu kemudian berbisik ke mereka, “Sudah beres, Pak.” Rombongan tersebut keheranan dengan pernyataan sang pemuda.
“Apa yang sudah Beres?” tanya Dul Arnowo
“Jenderal Inggris, Pak. Mobilnya meledak dan terbakar,” jawab pemuda itu. “Ada granat yang meledak dari dalam mobil, tapi dari pihak kita pun ada yang menembak ke arah mobil tersebut.”
Keduanya terkejut mendengar hal tersebut. Dan meminta mereka untuk tutup mulut. Rahasia itu disimpan oleh Dul Arnowo hingga pada tahun 1970-an dibuka walau tidak menyebutkan nama pemuda yang menembaknya (Tirto.id). Namun, tanpa konfirmasi dari pihak-pihak yang terlibat atau melihat peristiwa tersebut, kesaksian Chotib tidak dapat menjadi fakta sejarah.
Sementara dugaan kedua ialah pelaku merupakan pasukan Inggris yang tidak sengaja menembak mobil Mallaby. Kisah tentang versi ini ditulis oleh Des Alwi dalam buku Pertempuran Surabaya November 1945. Seperti yang dilansir Liputan6.com, ia menggunakan kesaksian dari Muhammad, tokoh pemuda dan juga perwira TKR yang masuk ke Gedung Internatio untuk mendinginkan suasana. Namun, dalam perjalanannya menuju meja perundingan, ia melihat pasukan Inggris telah menyiapkan mortir untuk ditembakkan ke arah deretan mobil yang terparkir di Jembatan Merah dengan harapan rakyat Surabaya disekitar mobil tersebut akan panik, dan memberi kesempatan Mallaby untuk kabur.
Dugaannya terbukti benar ketika melihat mobil residen Sudirman terbakar. Akan tetapi yang terjadi selanjutnya adalah sebuah ledakan yang ikut menghancurkan mobil Mallaby. Sementara dari kesaksian Abdulgani, konvoi kendaraannya diarahkan ke Jembatan Merah dan berhenti sebentar menunggu Muhammad yang masuk ke gedung bersama Kapten Shaw (wakil Inggris). Tidak beberapa lama kemudian, beliau melihat ledakan granat yang dilemparkan dari dalam gedung, dan kekacauan pun dimulai. Kesaksian keduanya dapat dikatakan sesuai, lantaran ledakan dari mortir memang serupa dengan granat. Menurut Des Alwi, ledakan mortir tersebutlah yang menewaskan Mallaby. Pelakunya tidak lain merupakan pasukannya sendiri yang salah sasaran dalam menembak.
Saling menyalahkan
Berdasarkan kedua kesaksian tersebut, terlihat seolah-olah kedua belah pihak saling menyalahkan terkait pembunuhan ini. Mereka saling melempar perihal siapa yang memulai kekacauan yang mengakibatkan sang jenderal terbunuh. Di kemudian hari, pasukan Inggris menyerang kota Surabaya dengan kekuatan penuh yang dilawan dengan arek-arek Suroboyo dengan berani. Pertempuran 30 Oktober 1945 yang tadinya akan didamaikan oleh kedua pihak ini ternyata berlanjut dan mencapai klimaks pada 10 November, tanggal yang kemudian dikenal sebagai hari Pahlawan.
Seusai 23 hari pertempuran akhirnya Surabaya dapat dikuasai oleh Inggris, namun pertempuran kecil-kecilan tetap berlangsung di sekitar kota. Kematian Jenderal Mallaby juga dapat dikatakan menjadi titik balik bagi sejarah Indonesia. Pasukan Inggris yang awalnya hanya bertugas melucuti pasukan Jepang, ikut terjebak dalam perseteruan yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan negara tersebut. Menurut penulis, sangatlah unik bila 10 November diperingati sebagai hari pahlawan dimana arek-arek Suroboyo ini melawan Inggris yang notabene bukan musuh mereka. Belanda ketika itu juga memanfaatkan keadaan ini dengan membawa pasukan tambahan dari Eropa. Ketika pasukan Inggris telah meninggalkan Indonesia, Belanda diwakili NICA telah siap dengan pasukannya. Namun Indonesia mendapatkan bantuan dari Inggris melalui jalur diplomasi untuk menekan Belanda lantaran ia sebelumnya ditipu untuk membantu negara kincir angin tersebut dalam mengatasi “pemberontak” Indonesia.
Bagi beberapa orang yang menjadi saksi, dari pihak Indonesia, beberapa orang seperti Cak Dul Arnowo menyimpan rahasia perihal identitas pemuda yang kemungkinan merupakan pembunuh Jenderal Mallaby. Dijaganya rahasia tersebut menimbulkan misteri hingga kini.
Penulis: Fidel Satrio Hadiyanto
Editor: Winda N, Alfiansyah




