
Sesi Dialog Publik “Komitmen Jawa Tengah dalam Perlindungan Kanker Serviks Sejak Usia Anak,” pada Rabu (7/8) .
(Sumber: Manunggal)
Semarangan – Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi Human Papillomavirus Vaccine (HPV), Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas) bekerja sama dengan Nations Children’s Fund (UNICEF) Indonesia serta Kelompok Kerja Komunikasi Risiko dan Pelibatan Masyarakat (Pokja RCCE) menggelar Training of Trainers (ToT) Komunikasi Antar Pribadi (KAP) untuk imunisasi HPV di Hotel Khas, Semarang.
Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 6 hingga 9 Agustus 2024 dengan tujuan memberdayakan tokoh-tokoh kunci dalam mengomunikasikan pentingnya imunisasi HPV guna mencegah kanker serviks sejak usia sekolah. Melalui program bertajuk “Jaga Bersama”, kegiatan ini melibatkan 33 peserta dari guru dan tenaga kesehatan yang merupakan representasi dari berbagai wilayah di Jawa Tengah.
Menurut dr. Basra Ahmad Amru, selaku Direktur Eksekutif Portkesmas, ia menekankan bahwa fokus program Jaga Bersama ini ialah pada peningkatan cakupan imunisasi anak dari sisi minat atau demand masyarakat.
“Fokus kami bukan hanya pada penyediaan vaksin (supply), tetapi juga pada peningkatan minat masyarakat (demand) melalui peningkatan kecakapan tenaga kesehatan, guru, dan kader kesehatan,” jelas dr. Basra.
Salah satu acara utama dalam rangkaian kegiatan ini adalah sesi dialog publik bertema “Komitmen Jawa Tengah dalam Perlindungan Kanker Serviks Sejak Usia Anak,” yang digelar pada Rabu, (7/8).
Acara ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk dari Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah, Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Wilayah Jawa, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Diponegoro (LPPM Undip), serta Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia.
Hadirnya kegiatan pelatihan ini masih berkaitan dengan kebijakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) pada tahun 2022 tentang penambahan beberapa imunisasi baru, salah satunya adalah imunisasi vaksin HPV.
Adanya imunisasi HPV saja tidak cukup karena diperlukan edukator yang mendorong masyarakat untuk mau melakukan imunisasi. Ditambah lagi, fakta terkait kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker paling mematikan di Indonesia.
Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia, Rizky Ika Syafitri, menyampaikan bahwa dalam menyikapi permasalahan kesehatan, solusinya tidak hanya seputar pengobatan penyakit, tetapi juga perlu adanya upaya pencegahan melalui aktor komunikasi.
Aktor komunikasi berperan dalam mengoptimalkan penggunaan layanan kesehatan dengan memperkenalkan dan mengajak masyarakat memberdayakan fasilitas yang tersedia, termasuk soal imunisasi. Oleh sebab itu, output dari Jaga Bersama diharapkan dapat melahirkan para komunikator di masyarakat yang dapat mempromosikan imunisasi, khususnya melalui bidang pendidikan serta kesehatan.
“(Alasan, red) kenapa investasi besar di upaya pencegahan salah satunya membangun kapasitas kader, tenaga kesehatan, dan guru untuk bisa mempromosikan, mengedukasi, serta meyakinkan warga (maupun, red) orang tua yang masih ragu atau belum mau untuk imunisasi,” ujar Rizky dalam sesi acara dialog publik.
Selain itu, pemerintah Provinsi Jawa Tengah sendiri telah menunjukkan komitmen dalam upaya promosi kesehatan yang disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Tengah, dr. Irma Makiah.
Ia menjelaskan bahwa upaya promosi kesehatan ini terlaksana dalam berbagai bentuk, seperti advokasi lintas sektor termasuk sektor pendidikan dan keagamaan serta penyiaran radio edukatif.
“Saya berharap kolaborasi ini dapat meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat untuk imunisasi. Jangan sampai anak-anak kita menderita karena penyakit berbahaya termasuk kanker serviks yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi,” ujar dr. Irma dalam siaran pers.
Disdikbud Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu dinas yang bekerja sama untuk mempromosikan kesehatan juga memaparkan komitmennya. Melalui pernyataan dari Kepala Dinas Dr. Uswatun Hasanah, M. Pd., pemerintah provinsi melakukan promosi dalam bentuk perlombaan serta program sekolah wajib, seperti Gerakan Sekolah Sehat dan Gerakan Kantin Sehat.
Kepala Disdikbud menegaskan pula bahwa promosi kesehatan oleh dinasnya tidak hanya dilakukan di lingkup sekolah. “Kami tidak hanya mendukung pelaksanaan imunisasi di sekolah, tetapi juga aktif memberikan informasi yang tepat kepada siswa dan orang tua. Dengan kolaborasi yang erat, kami percaya bahwa bisa menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan anak-anak,” tukasnya.
Adapun, Prof. Dr. Ing. Ir. Suherman, M.T selaku Ketua LPPM Undip yang hadir dalam dialog publik pun turut menyampaikan komitmen universitas dalam bidang kesehatan, seperti riset kesehatan, pengabdian, serta peran alumni dalam pengembangan pengobatan penyakit tropis.
Prof. Suherman juga menuturkan kesiapan kolaborasi Undip dalam edukasi peningkatan kesadaran kesehatan melalui imunisasi pada masyarakat dengan memberdayakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
“Salah satu potensi yang bisa (diberikan, red) dari Undip, kita punya KKN Tematik,” terang Prof. Suherman.
Sementara itu, Kepala Kantor UNICEF Wilayah Jawa, Arie Rukmantara, menyampaikan aspirasi UNICEF agar Indonesia di masa depan memiliki lebih banyak pemimpin dan tokoh hebat dari kalangan perempuan.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencapai hal ini adalah dengan menjaga kesehatan, termasuk melalui imunisasi HPV, mengingat kanker serviks merupakan salah satu penyakit yang mematikan bagi perempuan.
Arie juga mengungkapkan pendapatnya tentang signifikansi imunisasi untuk anak-anak. Ia menyatakan bahwa anak-anak yang mendapatkan imunisasi memiliki potensi untuk berkembang menjadi individu yang cerdas dan dapat memberikan kontribusi yang istimewa.
“Anak-anak yang diimunisasi, anak-anak yang belajar dengan pinter, adalah anak-anak yang mampu menawarkan keistimewaan-keistimewaan yang tidak tergantikan,” ungkap Arie.
Adapun langkah selanjutnya dari program Jaga Bersama ialah pemantauan dan evaluasi yang fokus pada tindak lanjut. Para pelatih yang telah dilatih diharapkan untuk melatih di wilayah mereka masing-masing.
Meskipun dijadwalkan selesai pada Desember, dr. Basra Amru menegaskan komitmen Portkesmas untuk memastikan keberlanjutan program ini. Ia berharap bahwa kolaborasi yang terbentuk, terutama antara tenaga kesehatan dan guru dalam edukasi kesehatan dapat terus berlanjut dan berkembang, melibatkan lebih banyak pihak demi kesehatan anak-anak Indonesia di masa depan.
“Harapannya semoga makin banyak yang terlibat, berkolaborasi, dan mau kolaborasi terus di tahun-tahun mendatang untuk membuat anak-anak indonesia makin sehat,” tutup dr. Basra.
Reporter : Nabiih Nashirah, M. Irham Maolana
Penulis : Nabiih Nashirah, M. Irham Maolana
Editor : Ayu Nisa’Usholihah

