Isu Fatherless yang Jarang Jadi Wacana Publik

Opini – Indonesia jadi negara ke-3 di dunia untuk anak-anak fatherless. Menurut data yang diperoleh dari Penelitian survei penelitian dan pengembangan (Litbang) Kompas 2025, sebanyak 20,1 persen atau 15,9 juta anak Indonesia mempunyai potensi tumbuh tanpa ayah atau fatherless. Kondisi fatherless apabila dilansir dari Tempo, merupakan sebuah kondisi ketika seorang orang tumbuh tanpa kehadiran ayah. Hal ini bisa terjadi secara harfiah (red, ayah meninggal dunia) dan secara metafora (red, anak mempunyai ayah tapi tidak berperan maksimal). Dari 15,9 juta anak yang disebutkan tadi, 4,4 juta anak tinggal di keluarga tanpa ayah. Sementara itu, 11.5 juta anak lain tinggal bersama ayah yang bekerja 60 jam per minggu atau lebih dari 12 jam dalam sehari. Maka, seorang ayah justru lebih banyak menghabiskan waktu tanpa bertemu anak di rumah.

Kondisi absennya ayah bisa terjadi karena orang tua yang bercerai hingga ayah yang tidak memahami tugas dan tanggung jawabnya, sehingga membuat anak terlantar. Menurut data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik 2024 (BPS), angka perceraian di Indonesia menyentuh angka 399.921 kasus dengan 13 jenis faktor perceraian, beberapa di antaranya faktor perceraian mabuk, faktor perceraian judi, faktor meninggalkan salah satu pihak, hingga faktor poligami dan lainnya.

 

Psikologis dan Intelektualitas Anak Jadi Taruhan 

Bagi anak, ayah adalah sosok utama dalam melihat dunia. Bagi anak perempuan, ayah adalah cerminan untuk melihat bare minimum laki-laki yang akan bergaul dengannya. Bagi anak laki-laki, ayah adalah teladan sekaligus pengarah di setiap langkahnya. Ketiadaan sosok ayah bagi anak merupakan tikaman panah pertama, yang membuat lukanya ikut tumbuh bersama anak hingga menuju dewasa. Pribadi anak jadi cenderung tertutup serta memendam banyak hal hingga depresi. Selain itu, anak juga mengalami krisis identitas, mempertanyakan apakah ia layak dicintai atau tidak. Karakter anak terancam dan daya juangnya jadi taruhan besar, karena support system yang nihil.

Bagi anak perempuan, ayah bukan sekadar pemenuh rasa kasih sayang yang harus dimiliki. Lebih dari itu, ayah adalah sosok yang akan menentukan caranya melihat dunia, percaya pada kehidupan dan nyali bertaruh yang disokong oleh semangat melalui ucapan sang ayah. Bagi anak perempuan, ayah adalah gambaran besar untuk melihat apakah dunia ini terlalu kecil atau terlalu besar untuk ditaklukkan. 

Sementara bagi anak laki-laki, ayah merupakan teladan. Anak laki-laki cenderung mengikuti setiap jejak ayah–baik langkah kecil maupun besar–jadi sebuah hal krusial bagi mereka. Keberanian untuk melawan serta menghadapi segala carut-marut kehidupan kuncinya ada pada kedekatan antara ayah dan anak laki-laki. Hal ini juga berpengaruh besar pada bagaimana ia akan membawa dirinya ketika berada di antara perempuan, baik yang bergaul dengannya ataupun hanya sekadar lalu-lalang. 

Menyoal tentang intelektualitas anak, banyak penelitian menunjukkan bahwa kehadiran sosok ayah dalam keluarga akan menjadi kontribusi positif bagi perkembangan kognitif dan emosional anak. Maka sebaliknya, anak yang tumbuh tanpa figur ayah akan menghadapi banyak rintangan, termasuk dalam hal kemampuan kognitif. Karena ketika ayah hadir di sisi anak, maka ada sebuah dukungan emosional dan intelektual yang berbeda dibandingkan dengan ibu. Sebab ayah seringkali mempunyai pola asuh yang berbeda, yang akan mendorong anak-anak untuk lebih eksploratif, berani mengambil risiko, serta mengembangkan keterampilan sosial. 

Hal ini didukung oleh pernyataan dari seorang ahli perkembangan sosial dan kognitif, yang mengatakan bahwa, “apa yang dapat dilakukan seorang anak dengan bantuan hari ini, maka dia akan mampu melakukannya sendiri besok.” Pernyataan tersebut menjadi sebuah tolak ukur yang membuktikan bahwa pentingnya proses belajar anak didampingi oleh orang tua.

 

Ayah Hilang secara Metafora

Isu fatherless tak pernah jadi konsentrasi wacana publik. Isu ini   teredam oleh banyak hal lain,sehingga menjadikannya seolah kurang bermakna, padahal tidak.. Merujuk pada data yang telah dijabarkan sebelumnya, hal tersebut merupakan  bukti bahwa keadaan anak-anak per hari ini tidak baik-baik saja. Beberapa dari mereka berpotensi tak pernah benar-benar merasakan kasih sayang ayah, sebagian lagi justru akan bertanya bagaimana nantinya kehidupan ini dengan ketiadaan ayah.

Mungkin setiap kita pernah melihat bagaimana anak-anak yang baru masuk sekolah diantar oleh sang ayah di hari pertamanya. Hal tersebut menjadi sebuah anugerah sekaligus barang langka bila bercermin pada keadaan hari ini. Bagaimana kita justru melihat seorang ibu  pontang-panting membesarkan anak dengan peran ayah yang seperti sebuah bayang-bayang yang semu. 

Mudah sekali untuk melihat bagaimana perilaku seseorang yang memang sudah tidak memiliki peran ayah sedari kecil atau cukup lama. Tumbuh menjadi lebih temperamen karena kontrol emosinya seperti baut lepas menjadi salah satu contohnya. Anak laki-laki yang dalam masa pancaroba misalnya, saat  bergaul dengan sebayanya, dia akan lebih cenderung mengokohkan diri dengan cara-cara cerdas yang sebenarnya jadi sebuah luka bagi dirinya, seperti keras kepala. Tapi di sisi lain, dia bisa tumbuh jadi manusia yang pengecut, sebuah karakter yang dunia inginkan untuk kita tumbuh tapi ayah tak pernah menghiraukan itu.

Kehilangan ayah secara metafora adalah eksistensi ayah hanya secara fisik tapi tidak memberikan hal apapun bagi anak. Ayah hidup tapi perannya hilang. Ayah ada tapi tak pernah berupaya merangkul dan mendidik. Anak seperti kehilangan kompas dalam hidupnya. Bagi anak perempuan yang kata orang, ayah adalah cinta pertamanya, maka standarnya melihat dunia dan teman lawan jenisnya jadi berantakan. Dia tak bisa mematri keinginannya sendiri untuk berteman ataukah lebih dari sekadar itu. Tidak heran pula, ketika anak perempuan berupaya mencari kasih sayang dari lawan jenis yang ia anggap sebagai pengganti ayah. Bagi mereka, selama tong kasih sayang itu penuh – yang harusnya diisi oleh ayah – maka akan serta-merta merasa cukup.

Ibu tidak bisa menggantikan ayah, seberapa berjuangnya pun ibu untuk mengambil dan melakoni peran ayah. Bukan karena kurangnya kapasitas ibu, tapi ada hal-hal yang memang dari ayahlah sumber penghidupannya dan ibu tidak segamblang ayah dalam memberikannya. Sebagai contoh, naluri liar. Hal ini berkaitan dengan ketangkasan anak dalam menghadapi berbagai persoalan. Ibu yang identik dengan kelemah-lembutan dan pengajarannya yang penuh ganjaran, ayah justru membiarkan emosi anak beterbangan kemudian mendekapnya dalam rengkuhan yang mengajarkan bahwa hidup ini selalu tentang bertahan. Ibu bukan tak mampu mengajarkan cara bertahan, tapi ibu tidak seambisi ayah untuk membiarkan anaknya takut gagal. Rasa percaya diri inilah yang terbentuk oleh ayah. 

Ketidakhadiran ayah adalah sebuah borok dalam hati setiap anak. Baik yang mengungkapkannya melalui sikap setelah merasa kehilangan, maupun  bagi anak yang hanya menahan dan merasa seolah segalanya baik-baik saja. Keterpukulan yang dialami oleh anak-anak yang tidak mendapatkan peran ayah, melebihi segala sakit yang bisa diderita karena pada akhirnya, ketiadaan ayah tak ada obatnya selain dari kesadaran ayah untuk berupaya hadir dan memeluk anak-anaknya.

 

Harusnya Anak Tidak Fatherless

Sebagian emosi jadi tumpukan yang tidak pernah berupaya dibicarakan akan terus mengendap sehingga  tentu punya waktu sendiri untuk meledak. Itulah anak-anak yang tumbuh tanpa figur ayah. Terlebih bagi mereka yang melihat ayahnya setiap hari tapi tak bisa mencicipi peran yang seharusnya, anak akan mencari caranya sendiri dengan cara-cara sinting dan anak juga tetap akan tumbuh, dan tanpa perlawanan. Namun bukan berarti kebisuan hanya akan jadi lakon utama selama mereka hidup, pasti ada waktu tertentu mereka akan mempertanyakan mengapa ayah yang diagung-agungkan orang lain itu berbanding terbalik dengan ayahnya.

Tidak, ini bukan sekadar tentang ayah yang mampu memberikan pemenuhan kebutuhan secara materi, lebih dari itu, kejiwaan, intelektualitas, serta keberanian anak tumbuh dari ayah-ayah yang hadir bersama anak. Harusnya anak-anak bisa mendapatkan peran maksimal dari kedua orang tuanya, tapi per hari ini, melihat bagaimana lonjakan angka perceraian, itu semua melumpuhkan harapan kita. Pada akhirnya anak-anak akan memikul beban ketiadaan ayah seorang diri dengan taruhannya adalah dirinya sendiri.

Kalau boleh berandai, tidak ada yang menginginkan ayah hilang secara metafora, tapi beda cerita bila ayah meninggal dunia, tapi lukanya tetap sama. Apapun yang menjadi latar belakang kenihilan seorang ayah dalam kehidupan anak, semuanya adalah tentang hilangnya banyak hal dalam diri anak.

 

Penulis: Naftaly Mitchell 

Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah

 

Referensi:

BPS. (2024). Jumlah Perceraian Menurut Provinsi dan Faktor Penyebab Perceraian. Dilansir melalui url https://share.google/LZg7DlHDTraumeb8e

Tempo. (2024). Mengenal Apa Itu Fatherless dan Dampaknya pada Anak. Dilansir melalui url https://share.google/ZMaThjafATrgddLUJ

Kompas.id (2025). Tahukah Kamu Apa Itu ‘Fatherless’?. Dilansir melalui laman https://www.kompas.id/artikel/apa-itu-fatherless?open_from=Tagar_Page

Kompas.id. (2025). “Fatherless”, Ara dan Media Sosial. Dilansir melalui laman https://www.kompas.id/artikel/fatherless-ara-dan-media-sosial?open_from=Search_Result_Page

Scroll to Top