
Gaya Hidup – Saat menggulir For You Page (FYP), pernahkah kamu melihat video dari kreator yang memegang dua buah kartu sambil memintamu memilih salah satunya untuk mendengarkan pesan hari ini? Atau, pernahkah tanpa sengaja melihat akun X atau Instagram yang menawarkan tempat untuk berbagi keluh kesah menggunakan kartu tarot?
Saat ini, penggunaan kartu tarot sudah tidak asing lagi. Kartu ini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari dipelajari sebagai hobi, digunakan bersama teman untuk seru-seruan, menjadi bagian dari rutinitas spiritual, hingga dijadikan jasa tarot reader untuk pembacaan secara personal. Bentuknya memang berbeda-beda, tetapi ada satu hal yang sering mempertemukan berbagai pengalaman tersebut, yakni cerita yang dibawa seseorang ketika kartu mulai dibuka.
Tarot dalam Kehidupan Sosial
Ketertarikan terhadap tarot tidak selalu dimulai dari pertanyaan besar. Ada yang awalnya iseng, kemudian membeli satu set kartu tarot dan mulai mempelajarinya. Ada juga yang mengenalnya dari teman lalu mencoba melakukan reading sekadar untuk seru-seruan.
Ketika dibawa ke lingkungan pertemanan, satu set kartu bisa menjadi bagian dari aktivitas saat berkumpul. Pertanyaannya bisa serius, seperti “Aku bakal dapat kerjaan sesuai sama yang aku mau nggak, ya?”, atau ringan, seperti “Bulan ini, akan ada hal seru apa di hidup aku?” Melalui tarot, seseorang bisa membicarakan kehidupannya, sementara yang lain mungkin sekadar bertanya mengenai hal random yang membuat penasaran. Dari situ, obrolan dapat berkembang mengikuti cerita masing-masing.
Situasinya sedikit berbeda ketika reading dilakukan bersama seorang reader. Seseorang biasanya datang dengan pertanyaan tertentu, sementara reader membantu membaca kartu dan membicarakan interpretasinya. Pertanyaan seperti “Ini arah hubungannya ke mana, ya?” atau “Mending lanjut atau berhenti, ya?” dapat menjadi awal pembicaraan mengenai hubungan, karier, keputusan, atau situasi yang sedang dihadapi.
Pertanyaan tersebut sering kali belum menggambarkan keseluruhan cerita. Di balik pertanyaan tentang hubungan, misalnya, mungkin terdapat komunikasi yang tidak jelas atau perasaan yang belum selesai. Begitu juga dengan pertanyaan tentang karier yang mungkin sebenarnya berkaitan dengan pilihan yang sulit ditentukan.
Kartu tarot kemudian menjadi titik awal untuk membicarakan hal tersebut. Seseorang tidak harus langsung menjelaskan seluruh situasinya karena percakapan dapat dimulai dari gambar, simbol, atau interpretasi yang muncul dalam reading. Dari sana, seseorang dapat menentukan sendiri bagian mana yang berkaitan dengan pengalamannya.
Di balik pengalaman tarot reading, terdapat proses ketika seseorang menghubungkan interpretasi kartu dengan pengalaman yang sedang dialami. Salah satunya dapat dijelaskan melalui Barnum effect. Mengutip studi klasik Bertram R. Forer (1949), fenomena ini merupakan kecenderungan seseorang menerima deskripsi kepribadian yang sebenarnya bersifat umum sebagai sesuatu yang spesifik dan unik bagi dirinya. Dalam tarot reading, interpretasi mengenai keraguan, perubahan, atau hubungan dapat terasa sangat akurat karena seseorang secara natural mengaitkannya dengan hal yang sedang mereka pikirkan.
Selain itu, proses ini juga diperkuat oleh studi akademisi Inna Semetsky (2006). Ia menggarisbawahi bahwa kartu tarot berfungsi sebagai media proyeksi tempat seseorang menuangkan dinamika emosi dan pikiran bawah sadarnya. Kartu tersebut kemudian menjadi semacam cermin refleksi untuk mengurai pengalaman hidup dan memvalidasi perasaan yang sedang dialami.
Cerita Personal yang Menjadi Pengalaman Sosial
Salah satu momen yang sering muncul dalam pengalaman tarot reading adalah ketika seseorang merasa interpretasi sebuah kartu cukup menggambarkan situasinya.
“Lah, kok ini bener banget?”
Respons tersebut muncul ketika seseorang menghubungkan interpretasi yang diberikan reader dengan pengalaman yang sedang mereka alami. Kartu yang sama tentu bisa mendapatkan respons berbeda dari orang lain karena setiap pengguna datang dengan cerita dan situasi yang berbeda.
Menariknya, pembicaraan tidak selalu berhenti pada pertanyaan awal. Seseorang yang datang untuk bertanya tentang orang lain bisa saja berujung pada pembicaraan mengenai perasaannya sendiri. Pertanyaan tentang hubungan juga dapat berkembang menjadi pembicaraan mengenai pilihan atau hal yang sebenarnya mereka inginkan.
Pengalaman ini menunjukkan adanya interaksi antara simbol pada kartu, interpretasi reader, dan cerita dari orang yang melakukan reading. Tarot dalam konteks tersebut menjadi aktivitas yang melibatkan lebih dari satu orang, sehingga pengalaman personal dapat berkembang melalui percakapan.
Topik yang muncul pun dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari hubungan yang tidak jelas, perasaan yang belum selesai, kebingungan menentukan pilihan, karier, hingga keinginan mengetahui kemungkinan yang akan terjadi.
Oleh karena itu, pengalaman reading seseorang bisa terasa relevan bagi orang lain meskipun ceritanya berbeda. Teman yang mendengar cerita hasil reading, misalnya, mungkin tidak mengalami situasi yang sama persis, tetapi dapat mengenali perasaan atau persoalan yang pernah mereka hadapi sendiri.
Di sinilah tarot menunjukkan sisi sosial budayanya. Praktik tersebut hidup melalui cara orang mengenalnya dari lingkungan sekitar, menggunakannya dalam aktivitas bersama, membicarakan hasilnya, lalu membagikan pengalaman tersebut kepada orang lain. Tarot tidak berdiri sendiri sebagai benda atau aktivitas membaca kartu, karena cara orang menggunakannya juga dipengaruhi oleh hubungan dan kebiasaan di lingkungan mereka.
Perbedaan penggunaan tarot tersebut memperlihatkan bagaimana satu praktik dapat menempati ruang yang berbeda dalam kehidupan penggunanya. Pada akhirnya, pengalaman setiap orang tetap dipengaruhi oleh cerita yang mereka bawa ketika melakukan reading. Pertanyaan yang terdengar sederhana di awal bisa berkaitan dengan persoalan yang jauh lebih panjang, sementara satu interpretasi dapat membuka pembicaraan mengenai hal yang sebelumnya belum sempat dibicarakan.
Penulis: Adelia N.
Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya
Referensi: Forer, B. R. (1949). The fallacy of personal validation: A classroom demonstration of gullibility. The Journal of Abnormal and Social Psychology, 44(1), 118–123. https://doi.org/10.1037/h0059240
Semetsky, I. (2006). Tarot as a projective technique. Spirituality and Health International, 7(4), 187–197. https://doi.org/10.1002/shi.252



