sumber: manunggal
Warta Utama – Mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) melakukan aksi di Widya Puraya pada Senin (6/3).
Aksi ini menuntut audiensi dan penandatanganan pakta integritas oleh para Bakal Calon Rektor (BCR). Namun, tuntutan tersebut gagal terealisasi akibat pembatalan sepihak oleh para BCR.
“Sebetulnya kita mau memberikan pakta integritas, kemudian ditandatangani oleh Bakal Calon Rektor, tapi nyatanya tiga dari empat membatalkan, satu belum ada kepastian,” ungkap Hanif Alfattah, Ketua BEM Undip 2023 ketika di wawancara langsung oleh awak Manunggal.
Hanif juga menyampaikan bahwa aksi ini sebelumnya dijadwalkan di Gedung Prof Soedarto. Namun, massa mendesak aksi ini dilakukan di Widya Puraya.
“Benar, sebetulnya kemarin ketika izin, kami diarahkan ke Prof Soedarto, tapi dari teman-teman menginginkan disini (Widya Puraya) agar bisa duduk bareng,” ujar Hanif.
Fakta tersebut dikonfirmasi langsung oleh Wakil Direktur Kemahasiswaan Nuswantoro Dwiwarno. “Permohonan mereka menyampaikan audiensi, kita fasilitasi di Prof Soedarto,” katanya.
Lebih lanjut, Nuswantoro menuturkan pihaknya tidak memiliki wewenang untuk mengabulkan permohonan massa aksi. Sebab, otoritas sepenuhnya berada di tangan Panitia Pemilihan Calon Rektor.
“Sudah disampaikan kepada Pak Rektor, Disini Pak Rektor tidak mau menemui, karena izinnya tidak ada, kita siapkan di Prof Soedarto karena suratnya pertama begitu,” tutur Nuswantoro.
Reporter: Tim LPM Manunggal
Penulis: Zahra Putri
Editor: Fahrina Alya Purnomo, Arbenaya Candra