Buy Now Pay Later: Kemudahan Berbelanja Online atau Jebakan Utang?

Promosi Fitur SPayLater pada Website Shopee. (Sumber: Shopee.co.id)

Opini — Belanja online semakin mudah dan menarik berkat berbagai inovasi pembayaran. Salah satu tren yang sedang naik daun adalah sistem “beli sekarang, bayar nanti” atau Buy Now Pay Later (BNPL), yang memungkinkan konsumen membeli barang terlebih dahulu dan membayar kemudian. Namun, di balik kemudahan ini, tersimpan pula potensi berbahaya yang perlu dicermati oleh pengguna.

BNPL memberikan alternatif pembayaran yang lebih fleksibel, terutama bagi generasi muda yang suka berbelanja online tanpa perlu membayar di awal. Hanya dengan beberapa klik dan verifikasi singkat, barang impian dapat segera dimiliki konsumen. Selanjutnya, pembayaran dapat dilakukan secara cicilan dalam periode yang ditentukan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika layanan ini semakin populer di berbagai platform e-commerce.

Bayangkan betapa kuatnya keinginan untuk memiliki barang yang diidamkan, sementara saldo rekening semakin menipis. BNPL di sistem pembayaran e-commerce muncul sebagai solusi cepat, seolah-olah memberikan kesempatan bagi para pencari diskon dan penggemar barang-barang baru untuk mewujudkan impian mereka. Bahkan, banyak penyedia layanan e-commerce berlomba-lomba memperkenalkan sistem pembayaran ini dengan menawarkan promosi menarik, seperti cashback, gratis ongkir (ongkos kirim), dan diskon besar-besaran.

Namun, penawaran yang menarik minat konsumen menggunakan sistem BNPL ternyata menyimpan jebakan. Kemampuan untuk berbelanja secara impulsif tanpa mempertimbangkan dampak finansialnya, dapat menyebabkan kebiasaan belanja yang merugikan. Anggapan seolah-olah uang tidak ada batasnya, sering kali menggoda konsumen untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan. Cicilan pun mulai menumpuk dan tanpa disadari, tagihan sudah membengkak. 

Banyak konsumen yang terjebak dalam pola belanja impulsif karena merasa bebas bayar nanti. Kenyataannya, mereka hanya menambah nominal utang di platform e-commerce yang seakan memberikan harga lebih ekonomis. Terlebih, sistem beli sekarang bayar nanti ini sebenarnya memiliki periode atau tenggat waktu pembayaran, yang sering kali dilupakan oleh sebagian konsumen. Permasalahan lain yang timbul adalah minimnya pemahaman mengenai cara kerja BNPL. Pengguna kurang menyadari bahwa cicilan yang diberikan disertai bunga atau biaya tambahan jika pembayaran terlambat. Situasi ini akan mengejutkan konsumen ketika mereka melihat tagihan yang membengkak di akhir bulan.

Direktur Utama PEFINDO Biro Kredit (IdScore), Tan Glant Saputrahadi, menyatakan bahwa situasi ini mengindikasikan bahwa perilaku konsumtif masyarakat Indonesia masih tinggi. Konsentrasi BNPL didominasi Pulau Jawa, khususnya di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) yang memiliki pangsa pasar sebesar 31,71%, potensi pertumbuhan yang signifikan di daerah lainnya. 

Dikutip dari Liputan6.com, Generasi (Gen) Z dan Milenial masih dominan sebagai debitur BNPL. Gen Milenial dengan rentang kelahiran 1981-1996 mendominasi sebesar 48,27 persen. Kemudian, Gen Z yang lahir antara 1997-2012 tercatat 39,94 persen. Sisanya Gen X yang lahir pada 1965-1980 turut andil 11,35 persen.

“Tujuan penggunaan fasilitas BNPL pun beragam, seperti belanja e-commerce sebanyak 33%, pembelian tiket (termasuk travel) 21,1% dan transaksi lainnya seperti pembayaran via QRIS yang tercatat sebanyak 41,9%,” ujar Glant dikutip dari Liputan6.com, Sabtu (25/1).

Kemudahan BNPL bukan hanya untuk berbelanja barang, tetapi dapat dimanfaatkan pada beberapa platform yang menyediakan layanan ojek online, pesan antar makanan dan paket, bahkan pembelian produk digital. Platform yang menyediakan fitur BNPL di Indonesia semakin marak, di antaranya SPayLater, SPinjam, GoPayLater, Traveloka Paylater, Kredivo PayLater, dan lain sebagainya. 

Kemudian, bagaimana cara pengguna BNPL menikmati kemudahan tanpa terjebak dalam utang? Kuncinya terletak pada pengelolaan keuangan yang cermat dan disiplin saat berbelanja. Buatlah daftar antara kebutuhan dan keinginan, utamakan barang-barang yang benar-benar diperlukan, dan hindari pembelian impulsif hanya karena tergoda oleh potongan harga di laman promosi e-commerce.

Pendidikan keuangan memainkan peran penting dalam menghadapi meningkatnya tren belanja online. Dengan adanya pengetahuan yang memadai tentang pengelolaan keuangan, pengguna dapat memanfaatkan kemudahan teknologi tanpa terjebak dalam utang. Oleh karena itu, literasi keuangan harus ditingkatkan agar masyarakat dapat lebih cerdas dalam mengatur keuangannya. Salah satu tips yang penting adalah menyadari batas kemampuan dalam membayar cicilan. Menggunakan sistem BNPL dengan bijak dapat membantu dalam mengatur keuangan tanpa harus mengorbankan kebutuhan penting lainnya.

Tren belanja menggunakan sistem BNPL menjadi solusi yang bermanfaat bukan beban finansial, apabila adanya kesadaran dan pengelolaan yang baik. Mari belanja dengan bijak dan manfaatkan kemudahan teknologi tanpa rasa khawatir!

Penulis: Ayu Novita Sari

Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah

Referensi:

Liputan6.com. (25 Januari 2025). Mengenal Buy Now Pay Later, Tren Baru dalam Belanja Digital. Diakses pada Senin, (21/4) dari 

https://www.liputan6.com/bisnis/read/5894762/mengenal-buy-now-pay-later-tren-baru-dalam-belanja-digital.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top