Bonus Demografi Dikoar-koarkan Penerus Dinasti: Refleksi yang Terlupa

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam video “Generasi Muda, Bonus Demografi dan Masa Depan” (Sumber: Detik.com)

Opini – Di tengah huru-hara politik, Indonesia tampaknya masih memiliki hal baik untuk dinanti. Ya, bonus demografi. Bonus demografi selalu menjadi topik hangat setiap kali membicarakan masa depan Indonesia. Bonus Demografi yang dicanangkan terjadi pada tahun 2045 menjadi salah satu keuntungan karena usia produktif mendominasi penduduk Indonesia. Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI) 2024-2029, Gibran Rakabuming Raka, sempat menyinggung hal ini dalam sebuah video berdurasi sekitar 6 menit yang diunggah di akun YouTube pribadinya, “Gibran Rakabuming”. Gibran mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling berpegangan tangan, berpijak dalam satu ambisi demi mencapai realisasi bonus demografi. Namun, video bertajuk “Generasi Muda, Bonus Demografi dan Masa Depan Indonesia” itu justru menimbulkan tanda tanya. Apakah Gibran dan kata demi kata yang keluar hanya bentuk validasi atas pencalonan dirinya yang menyalahi aturan?

Gibran menyatakan bahwa bonus demografi hanya akan terjadi sekali dalam sejarah peradaban suatu bangsa. Oleh karena itu, ini merupakan momen emas yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia. “Ini adalah kesempatan emas kita untuk mengelola bonus demografi agar bukan menjadi sekadar bonus, bukan menjadi sekadar angka statistik yang fantastis, tapi justru sebagai jawaban untuk masa depan Indonesia,” katanya. Kalimat tersebut keluar dari mulut generasi muda yang bangga menduduki kursi Wapres sebuah negara. Bukan karena dirinya pantas, tapi karena relasi tiada batas. Bukan karena dirinya mampu, tapi karena keluarganya takut kehilangan kuasa untuk sementara waktu. 

Gibran dan omong kosongnya yang tak pernah habis. Lebih dari satu dekade yang lalu, Gibran mengaku dirinya enggan memanfaatkan posisi sang ayah sebagai jalan instan baginya berkarier. Wawancaranya dengan majalah SWA yang rilis pada tahun 2012 memperlihatkan sosok dirinya yang seolah tetap ingin berdikari di atas kaki sendiri. Bahkan, meneruskan bisnis orang tuanya saja ia enggan.Tekadnya yang kuat untuk tetap mendirikan bisnis kateringnya sendiri dengan menolak segala bentuk pesanan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Solo nampaknya hanya pencitraan belaka.  Benar saja, omong kosong tetaplah omong kosong. Kelihatannya, ia mulai menyayangkan jika posisi ayahnya tak dimanfaatkan dengan baik olehnya. Sebuah kesempatan berharga, pikirnya. Dari posisinya sebagai Wali Kota Solo hingga kini Wapres, nampaknya tak lepas dari privilesenya sebagai putra sulung Jokowi. 

Alih-alih dirinya, Gibran menyebutkan film ‘Jumbo’, animasi karya anak bangsa yang mencuri banyak perhatian dan Tim Nasional (Timnas) sepak bola Usia (U)-17 yang berhasil tembus menuju Piala Dunia sebagai contoh bahwa generasi muda di Indonesia mulai mendunia. Juga, rasanya percuma menjadikan dirinya sebagai contoh nyata muda mudi berdaya. Kerja dicarikan orang tua, pun setelah menjabat, realisasi dari visi misinya masih buram terlihat. Hal ini semakin memperjelas bahwa sebenarnya Gibran belum siap menduduki posisinya saat ini.

Kita hidup di era yang penuh kompetisi, penuh tantangan. Mencapai segala hal butuh perjuangan panjang. Kata Gibran, saat ini bukan siapa paling kuat, tapi siapa yang paling cepat belajar, cepat beradaptasi, dan cepat memanfaatkan peluang. Mengulik hingga dalam pun, tak ditemukan relevansi antara kalimat dengan bagaimana ia mendapatkan kursinya. Mungkin benar, orang yang cepat beradaptasi dan memanfaatkan peluang akan lebih mudah sampai pada tujuannya. Lantas bagi Gibran, dirinya lah yang paling cepat menangkap peluang untuk menduduki kursi Wapres karena ayahnya adalah Joko Widodo. Yang paling cepat belajar untuk mengubah konstitusi demi kepentingan dinasti Jokowi.  

Melalui video tersebut, Gibran menegaskan bahwa generasi muda adalah penentu masa depan bangsa. Inilah waktunya muda mudi bangun, unjuk bakat, dan berjuang sebagai bentuk dukungan untuk mencapai bonus demografi. Di atas kaki sendiri, mencari peluang, menangkap segala kesempatan. Bukan menggantungkan pada relasi orang tua. Bukan mati-matian dicarikan kerja karena orang tua memiliki kuasa. Terdengar seperti sindiran bagi dirinya sendiri. Ya, sangat tidak mencerminkan perilakunya. Tapi, terima kasih Bapak Wapres atas wejangannya. Paling tidak, ada pesan moral di dalamnya. Meskipun nampaknya, narasi itu lebih baik disampaikan di depan cermin.

Rasanya tak pantas semangat perjuangan didapat dari sosok yang bahkan tak berjuang untuk mencapai tujuannya. Nampaknya, rakyat juga tak terlihat senang dengan Gibran dan omong kosongnya. Kolom komentar pada video yang diunggah melalui kanal YouTube pribadinya itu dipenuhi oleh kritik, ungkapan kekecewaan, dan satire bagi sang Wapres. Masalahnya, seorang yang dengan bangga dicarikan kursi hingga pengorbanan mengubah aturan batas usia Wapres, seorang yang melanggengkan politik dinasti di negeri ini, muncul dengan video motivasi. Wajah serius dan narasi seakan tak pantas keluar dari mulut pelaku nepotisme yang tak perlu keringat untuk menduduki posisi teratas kedua di sebuah negara. 

Ferry Irwandi, pendiri Malaka Project yang kerap kali mengulik kebusukan pemerintah dan mengemasnya dalam sebuah video edukasi, turut membuat video dengan judul dan konsep yang mirip dengan sang Wapres. Bedanya, Ferry tak menyampaikan omong kosong belaka. Ferry juga menekankan bahwa videonya berisi edukasi, tanpa suntingan yang basa-basi. Bukan cuma motivasi dan janji manis penerus dinasti. 

Jika Gibran hanya mengajak masyarakat untuk bersiap merealisasikan bonus demografi tanpa langkah nyata, Ferry menyoroti peran pemerintah dalam mewujudkan bonus demografi tersebut. Dalam videonya, Ferry menekankan bahwa Indonesia sangat berpotensi memanfaatkan bonus demografi dengan baik dibandingkan dua negara lain yang telah mengalaminya, yakni Cina dan India. Indonesia dengan segala potensinya sejatinya sudah sangat siap menyambut bonus demografi. Namun, bonus demografi tak akan benar-benar terjadi jika hanya generasi mudanya yang berkontribusi. Melainkan, pemerintah juga menjadi kunci utama yang memberikan wadah bagi muda-mudi untuk berkarya dan mengembangkan potensi. Gibran seharusnya mengevaluasi kabinetnya, bukan sekadar memotivasi generasi muda untuk lebih produktif. 

Kepercayaan rakyat tak bisa dibeli dengan video berkualitas tinggi, suntingan menarik, dan narasi motivasi. Nepotisme adalah seburuk-buruknya sikap elit negeri. Kinerja Prabowo Subianto-Gibran yang kian menurun rasanya semakin pantas menerima kritik dan kecaman di ruang demokrasi. Gibran seharusnya melakukan evaluasi atas kinerjanya yang busuk. Indonesia butuh generasi muda yang berdaya. Indonesia butuh pemimpin yang adil. Indonesia tak butuh anak laki-laki yang terlalu takut menghadapi dunia hingga harus dicarikan lowongan kerja oleh ayahnya. Narasi berbobot kini menjadi tak bernilai karena yang menyampaikan bahkan tak merasakan pahitnya perjuangan. Lebih baik meningkatkan kinerja daripada berbicara omong kosong di depan ratusan juta jiwa jika enggan memperlihatkan pola pikir ceteknya. 

Penulis: Raisya Nurul Khairani

Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah

Referensi

Tempo. (April 22, 2025). Gibran Bicara Soal Bonus Demografi: Giliran Kita Mengambil Peran. Diakses melalui https://www.tempo.co/politik/gibran-bicara-soal-bonus-demografi-giliran-kita-mengambil-peran-1234223

Tempo. (April 25, 2025). Ferry Irwandi Tiru Video Gibran, Blak-blakan Kritik Bonus Demografi. Diakses melalui https://www.tempo.co/teroka/ferry-irwandi-tiru-video-gibran-blak-blakan-kritik-bonus-demografi-1247727

Tokoh.id. (April 23, 2025). Gibran: Dari Monolog ke Mosi Tak Percaya. Diakses melalui https://tokoh.id/berita/lorong-kata/gibran-dari-monolog-ke-mosi-tak-percaya/

Gibran Rakabuming. (April 19,2025). Generasi Muda, Bonus Demografi dan Masa Depan Indonesia. YouTube. Diakses melalui https://youtu.be/SzXMacu80o8?si=ulciKETUvLUE_WrI

Ferry Irwandi. (April 21, 2025). Generasi Muda, Bonus Demografi dan Masa Depan Indonesia. YouTube. Diakses melalui https://youtu.be/e5gGf–7YtU?si=XsyaEz9YtQEQtmbY

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top