
Prosesi pengucapan ikrar kepengurusan oleh pengurus LKS-BMh Periode 2024-2026, pada Sabtu (24/5) di Aula Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah. (Sumber: Manunggal)
Warta Utama – Lembaga Kesejahteraan Sosial Berbasis Mahasiswa () menggelar acara Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus 2024-2026 di Aula Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), pada Sabtu (24/5). Pelantikan ini menghadirkan Wakil Wali Kota Semarang periode 2025-2030, Iswar Aminuddin dan Endah selaku Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinsos Jateng. Selain itu, acara ini turut mengundang perwakilan dari pengurus Yayasan Difabel Adhikari Gantari dan Rumah Difabel Indonesia.
LKS-BMh merupakan Lembaga Kesejahteraan Sosial unsur mahasiswa yang dibina langsung oleh Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin. Organisasi ini telah menjalankan tugas administrasi sejak tahun 2017 dan mulai dikukuhkan di tahun 2019. Hingga saat ini di tahun 2025, LKS-BMh telah bertugas selama kurang lebih 7 tahun dengan tiga kali periode kepemimpinan. Dalam satu periode berlangsung selama 2 tahun.
“Jadi, LKS-BMh itu salah satu organisasi dari Lembaga Kesejahteraan Sosial berbasis mahasiswa, berdiri sejak 2017, yang pengukuhan pertama itu 2019. Tapi, untuk administrasi dan sebagainya itu kami susun dari 2017,” jawab Alvina Dwi Damayanti, ketua LKS-BMh 2024-2026 saat dimintai penjelasan mengenai organisasi LKS-BMh. Alvina juga menyebutkan bahwa LKS-BMh demisioner dan pergantian pengurus setiap dua tahun sekali.
“Jadi, kurang lebih usianya sekarang 7 tahun dan ini merupakan kepemimpinan ketiga karena satu periode 2 tahun,” tambahnya.
Berdirinya organisasi LKS-BMh diprakarsai oleh masyarakat kampus Fakultas Humaniora (Fuhum), Program Studi (Prodi) Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Walisongo (UIN Walisongo). Alasan utama LKS-BMh dibentuk, yaitu guna mewadahi minat mahasiswa dalam bersosialisasi dengan sesama tanpa memandang asal jurusan atau prodi.
“Ini rintisan dari Fuhum, Fakultas Humaniora, Prodi Filsafat Islam. Dari situ kita bisa bergerak di bidang manapun. Jadi, banyaknya dari teman-teman Fuhum Filsafat itu tadi banyak program yang membuat tidak memandang prodi. Ketertarikan dari diri sendiri untuk bersosial,” tutur Alvina.
Program kerja LKS-BMh berfokus pada kegiatan sosial masyarakat di seluruh Provinsi Jateng. Dalam menjalankan tugas-tugasnya, LKS-BMh bermitra dengan Dinsos Jateng. Organisasi kemanusiaan ini memiliki 6 divisi, yaitu divisi pemberdayaan sosial, perlindungan sosial, bimbingan dan penyuluhan sosial, jaminan sosial, rehabilitas sosial, serta Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Mereka melakukan banyak program kerja yang melibatkan peran masyarakat setempat.
Selama kepengurusannya, LKS-BMh telah berhasil menjalankan program kerja rutin, seperti podcast di media Radio Republik Indonesia (RRI) Kota Semarang, pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM), menggiatkan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), volunteer mengajar, hingga program unggulan yakni magang inklusif di berbagai badan kedinasan dan instansi pemerintahan.
Kepengurusan baru LKS-BMh yang diketuai oleh Alvina mengangkat program unggulan yang melibatkan keenam divisi yang telah disebutkan. Selain itu, Alvina menyebutkan bahwa akan ada serangkaian kegiatan yang mengikutsertakan peran mahasiswa, ibu-ibu PKK, manusia lanjut usia (lansia), hingga teman-teman penyandang disabilitas. Pemerataan lapisan masyarakat ini sejalan dengan output yang diharapkan, yaitu bermanfaat untuk masyarakat luas.
“Untuk program unggulan, kami fokuskan satu. Tapi, di setiap program yang saya sebutkan, ada enam tadi, itu masing-masing punya program lagi yang akan dilaksanakan juga, melibatkan mahasiswa, ibu-ibu, lansia, dan difabel,” jelas Alvina.
Kiat-kiat Alvina dan pengurus untuk mencapai visi organisasi terlihat dari serangkaian acara pelantikan dan pengukuhan yang melibatkan peran teman-teman difabel untuk turut serta memeriahkan acara. Mereka diberi kesempatan untuk menampilkan bakatnya untuk disaksikan oleh tamu undangan yang hadir di acara tersebut. LKS-BMh bekerja sama dengan Yayasan Adhikari Gantari dan Rumah Difabel Indonesia, serta menargetkan teman-teman yang ada di yayasan tersebut untuk menerima manfaat programnya.
“Memberikan ruang mereka untuk berkarya. Dari situ poinnya adalah mereka semakin menerima dirinya dan teman-teman (red, difabel) juga berpikiran aku ini di dunia ini tidak sendirian. Saya lebih bersyukur diberikan kelebihan dari teman-teman yang lain,” tutur Alvina ketika diwawancarai Awak Manunggal pada Sabtu (24/5).
Selama kegiatan pelantikan berlangsung, peran teman-teman disabilitas terlihat sangat dilibatkan. Di akhir kegiatan setelah penampilan selesai dilaksanakan, dilanjutkan dengan pelatihan pewarnaan batik yang diikuti oleh seluruh tamu undangan yang hadir.
Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinsos Jateng, Endah sebelumnya menegaskan bahwa LKS-BMh ini tidaklah akan berjalan sendiri, membutuhkan berbagai peran dari masyarakat, anak muda, maupun Dinsos itu sendiri. Endah menyatakan bahwa selama keberjalanan LKS-BMh, Dinsos khususnya Provinsi Jateng akan memberikan kesempatan untuk berkolaborasi dalam program kerja yang relevan dan dapat disinergikan bersama. Selain itu, Dinsos akan tetap terbuka untuk membantu dalam pembinaan bagi pengurus maupun masyarakat. Pembinaan tersebut akan meliputi pembinaan kelembagaan, administrasi, hingga manajemen kepengurusannya. Berdasarkan pernyataan Alvina juga, kegiatan yang diselenggarakan LKS-BMh tidak luput dari biaya anggaran yang diberikan oleh Dinsos Provinsi Jateng. Ia menyatakan, untuk setiap program kerja LKS-BMh ini akan bergantung dengan proposal yang diajukan kepada Dinsos Jateng.
Menanggapi harapan Endah yang mengharapkan LKS-BMh ini tidak hanya sekedar diisi oleh mahasiswa dalam kepengurusannya. Ia menyampaikan bahwa seluruh anak muda dari latar belakang apapun dapat menjadi bagian dari LKS-BMh.
“Tidak hanya berkutat kepada anak-anak mahasiswa saja tetapi anak-anak di luar yang notabene yang tidak sekolah, tidak kuliah, dia pun untuk bisa bergabung dengan anak-anak muda yang ada di BMh,” tutur Endah.
Namun tampaknya hal tersebut belum dapat direalisasikan oleh Alvina karena sudut pandang yang berbeda.
“Kalau teman-teman mahasiswa ini kan memang lebih dari daya berpikir ada kesempatan lebih untuk belajar. Jadi sebenarnya untuk pengurus sendiri kita fokusnya di S1 Tapi kalau untuk kami juga ada dari S2 yang sudah lulus,” jelas Alvina.
Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat secara luas tetap mampu terlibat sebagai volunteer maupun peserta kegiatan. Alvina menjelaskan meskipun pengurus merupakan mahasiswa namun ketika mereka turun kepada masyarakat mereka melepaskan label mahasiswanya.
“Karena kalau mahasiswa saat itu masih menjadi mahasiswa tapi ketika sudah kembali ke masyarakat kita harus mengabdi ke masyarakat,” lanjut Alvina.
LKS-BMh ini menjadi terobosan baru bagi masyarakat, terlebih anak muda. Kehadiran LKS-BMh dapat menjadi ruang baru bagi anak muda untuk berkreasi menyalurkan kreativitas dan kebermanfaatan bagi permasalahan yang ada di masyarakat Jateng.
“Menemukan potensi-potensi anak muda yang selama ini hanya berpaku pada Information Technology (IT), tapi disinilah anak-anak muda bisa berkreasi menumbuhkan rasa empati untuk bisa bersama pemerintah menangani permasalahan khususnya di kalangan anak muda.” harap Endah.
Meskipun LKS-BMh belum dikenal secara luas oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, namun Alvina berusaha untuk semakin mengenalkan LKS-BMh melalui media, pers mahasiswa, dan rekan pengurus yang berasal dari berbagai universitas. Ia juga menyampaikan harapannya agar LKS-BMh tetap dapat menjaga hubungan baik dengan badan kedinasan di daerah, juga masyarakat setempat. Dengan dikenal lebih luas, harapannya mereka mampu memperluaskan kebermanfaatan di berbagai daerah, juga sebagai bentuk silaturahmi dengan berbagai elemen masyarakat.
Reporter: Hanifah Khairunnisa, Sintya Dewi Artha
Penulis: Hanifah Khairunnisa, Sintya Dewi Artha
Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah