Bantu Atasi Hipertensi Desa Kudu! Mahasiswa KKN Undip Racik Ramuan Herbal Berbasis Simplisia

Demonstrasi Pembuatan Ramuan Herbal Berbasis Simplisia Bersama Kader Kesehatan Desa Kudu, Senin (4/8) (Sumber: Dok. Pribadi)

Citizen Journalism – Jumlah penderita hipertensi di Desa Kudu, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo semakin hari semakin meningkat. Hal tersebut menjadi salah satu problematika yang harus segera ditemukan solusinya. Mengonsumsi obat kimia secara terus menerus bukanlah solusi yang tepat karena dapat memberikan dampak yang berkelanjutan.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) tahun 2023/2024 ciptakan inovasi ramuan herbal berbasis simplisia yang dapat bermanfaat mengatasi hipertensi di Desa Kudu.
Program kerja (proker) tersebut bertajuk “Transformasi Alam sebagai Peluang Usaha Pemberdayaan Masyarakat melalui Produksi Ramuan Herbal Berbasis Simplisia untuk Hipertensi”.
Menyasar 25 kader kesehatan Desa Kudu, proker tersebut bertujuan untuk memperkenalkan seduhan minuman herbal berbasis simplisia. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan inovasi serta pemberdayaan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pasar yang semakin pesat.
Inovasi tersebut mendapat sambutan baik oleh Ketua Tim Penggerak Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Desa Kudu, Endang Sugiyono, “Terima kasih banyak atas ilmu barunya, semoga bisa kami terapkan nantinya.”
Simplisia merupakan bahan alami yang telah dikeringkan dan belum melewati tahap pengolahan apa pun. Ramuan herbal yang berhasil diciptakan tersebut menggunakan bahan-bahan simplisia seperti daun belimbing wuluh dan jahe.
Belimbing wuluh mengandung kalium sitrat yang berfungsi untuk diuretik sehingga pengeluaran natrium meningkat dan dapat membantu menurunkan tekanan darah. Kandungan flavonoid pada daun belimbing wuluh memiliki potensi sebagai antioksidan yang berguna untuk menurunkan tekanan darah.
Sementara itu, jahe memiliki manfaat dalam sistem kardiovaskular yang dapat menurunkan tekanan darah melalui blokade saluran kalsium voltage dependent. Jahe juga dapat menghalangi kalsium yang menyebabkan kontraksi jaringan otot polos pada organ dan dinding arteri.
Hal tersebut mengurangi kontraksi sehingga menghasilkan relaksasi otot maupun dinding arteri. Dengan demikian, maka aliran darah menjadi lancar dan terjadilah penurunan tekanan darah. Selain itu, jahe dapat merangsang pelepasan hormon adrenalin dan memperlebar pembuluh darah. Akibatnya, darah mengalir lebih cepat dan lancar, serta memperingan kerja jantung dalam memompa darah.
Cara pembuatan ramuan herbal tersebut terdiri atas tiga langkah. Pertama, daun belimbing wuluh dan jahe yang sudah dipotong tipis dikeringkan di bawah sinar matahari selama kurang lebih 3 hari. Setelah kadar air pada daun belimbing wuluh dan jahe berkurang, kemudian digiling kasar menggunakan mesin grinder atau blender. Siapkan kantong teh, kemudian masukkan daun belimbing wuluh dan jahe yang telah digiling kasar dengan perbandingan komposisi 2 : 1.
“Bahan yang digunakan mudah diakses karena sudah familier, proses pembuatannya pun juga tidak susah,” ungkap salah satu kader kesehatan, Atin.
Sebagai penunjang, ramuan herbal tersebut dapat pula ditambahkan kayu manis, bunga lawang, serta sereh ketika proses penyajian untuk menambah aroma harum.
Cara penyajiannya pun seperti teh celup pada umumnya. Masukkan kantong teh ke dalam teko, tuangkan air panas, tambahkan sereh yang telah ditumbuk, dan ramuan hipertensi siap untuk disajikan.
Dengan tagline “Tekanan Darah Normal, Hidup Lebih Optimal”, harapannya inovasi tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Desa Kudu mengenai pentingnya mencegah hipertensi melalui pemanfaatan tanaman obat lokal serta dapat menjadi peluang usaha yang dapat dikembangkan.

Penulis: Tim II KKN Undip Desa Kudu, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo
Editor: Ayu Nisa’Usholihah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top