Banjir Rob Rendam Pelabuhan Tanjung Emas Semarang Akibat Air Pasang Ekstrem dan Tanggul Jebol

Semarangan – Banjir rob kembali melanda wilayah Pantai Utara Jawa, termasuk kawasan Pelabuhan Tanjung Emas pada Senin (23/5). Ketinggian pasang air laut diketahui mencapai lebih dari 210 sentimeter Mdpl. Naiknya muka air laut tersebut dinilai cukup ekstrem jika dibandingkan dengan pasang surut dalam lima tahun terakhir.

Meluapnya air akibat kebocoran tanggul (sumber: antaranews.com)

Jebolnya tanggul laut yang berada di kawasan industri Lamicitra tersebut memperparah terjangan air. Akibatnya, terjadi kemacetan parah di sekitar kawasan Pelabuhan Tanjung Emas dan aktivitas industri menjadi terhambat. Sebanyak 600 karyawan dari sejumlah pabrik di kawasan industri Pelabuhan Tanjung Emas terpaksa dievakuasi karena air yang semakin tinggi.
Dosen Teknik Lingkungan Undip, Dr. Ir. Anik Sarminingsih, M.T menjelaskan bahwa banjir rob merupakan banjir yang diakibatkan naiknya muka air laut hingga menggenangi daratan.

“Banjir rob disebabkan karena muka air laut yang semakin meningkat dan wilayah kota Semarang yang secara topografi itu rendah. Tanah di Semarang Utara atau wilayah Pantai Utara mengalami penurunan, sedangkan muka air laut semakin tinggi, sehingga potensi terjadi banjir ke daratan semakin tinggi,” jelasnya kepada Awak Manunggal pada Sabtu (28/5).

Sebagai tindak lanjut, tim Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memasang geobag atau karung pasir sebagai tanggul sementara untuk menahan terjangan air. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo juga mengerahkan sejumlah pompa air berkapasitas besar untuk mengurangi debit air akibat banjir rob yang menerjang wilayah Pelabuhan Tanjung Emas.

Banjir rob ini bukan lagi fenomena baru bagi warga Semarang. Namun, banjir rob yang melanda Kota Semarang baru-baru ini menyebabkan berbagai kerugian, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan, seperti kebersihan lingkungan dan sanitasi yang terganggu.

“Kawasan Semarang Utara rata-rata kawasan industri, dengan adanya banjir industri terhenti, transportasi terhenti, aktivitas perekonomian terhenti, hingga kerugian seperti rumah-rumah yang terendam. Hampir mustahil jika kita mengatakan bisa mengendalikan banjir 100 persen, yang bisa dilakukan adalah mengurangi kerugiannya saja.” pungkas Dr. Ir. Anik Sarminingsih, M.T.

Reporter: Fahrina Alya
Penulis: Fahrina Alya
Editor: Rafika Immanuela, Malahayati Damayanti F

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top