Clash of Champions oleh Ruangguru (Sumber: ruangguru.com)
Peristiwa – Ruangguru telah dikenal sebagai perusahaan digital yang berfokus pada bidang pendidikan nonformal. Baru-baru ini, Ruangguru menarik perhatian warga internet (warganet) Indonesia karena menyelenggarakan kompetisi permainan akademik nan menegangkan dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ternama sebagai pesertanya.
Clash of Champions merupakan program game show Ruangguru yang menampilkan kompetisi antar peserta dalam menyelesaikan tantangan di bidang matematika, deduksi, dan hafalan. Sejak tayang perdana pada 29 Juni lalu, program tersebut telah meraup jutaan penonton.
Para peserta sebelumnya mendapatkan undangan dari pihak Ruangguru, kemudian terdapat seleksi lebih lanjut untuk bisa tampil dalam permainan. Terdapat 40 perwakilan mahasiswa dari kampus-kampus ternama Indonesia dan luar negeri yang siap berkompetisi, seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga (Unair), National University of Singapore (NUS), Yale University, (Yale), University of Oxford, dan masih banyak lagi. Universitas Diponegoro (Undip) pun tidak ketinggalan berpartisipasi dalam kompetisi tersebut.
Muhammad Barir Faqih Hermawan, atau yang akrab disapa Barir, merupakan satu-satunya perwakilan Undip dalam program Clash of Champions oleh Ruangguru. Mahasiswa Departemen Arsitektur 2023 tersebut memiliki segudang prestasi memukau. Di antaranya adalah peraih medali emas dalam Scientific Paper Competition di Malaysia International Young Inventors Olympiad 2022 dan juara ketiga dalam Essay Competition di Arabic Fair Universitas Sebelas Maret (UNS) 2022. Barir juga dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dalam organisasi kampus, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tenis Meja, dan Indah Persaudaraan Islam (Insani).
Program Clash of Champions rupanya menjadi sorotan oleh banyak mahasiswa Undip. Kharisma Maharani, mahasiswi Departemen Kimia 2023, memberi pendapatnya mengenai program tersebut.
Menurutnya, persaingan mahasiswa-mahasiswa berprestasi dalam Clash of Champions cukup memotivasi dirinya untuk lebih giat belajar. Ia juga tidak membenarkan anggapan bahwa keberadaan program tersebut memperkuat stereotipe rumpun sains dan teknologi (saintek) lebih unggul dibanding rumpun sosial dan humaniora (soshum).
“Menurutku, penggunaan matematika di kompetisi ini, ya, karena sebagai ilmu exact (dan, red) tentunya parameter penilaiannya lebih gampang dan pasti dibanding ilmu-ilmu soshum,” jelasnya.
Kharisma juga menambahkan bahwa kompetisi tersebut tidak hanya merujuk ke perhitungan matematika belaka, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, penyelesaian masalah, daya ingat, dan ketahanan mental yang tentu dapat dilakukan oleh mahasiswa saintek maupun soshum.
Pendapat lain datang dari Yovita Restu Susanti, mahasiswi Program Studi (Prodi) Informasi dan Hubungan Masyarakat 2023. Sama seperti Kharisma, ia pun merasa Clash of Champions adalah program edutainment yang dapat mendorong semangat mahasiswa untuk memaksimalkan perkuliahan, terlebih setelah mengetahui usia para peserta tidak terlalu jauh dengan darinya.
Meskipun berasal dari rumpun soshum, Yovita mengaku ikut merasakan kesulitan dan tekanan peserta dalam mengerjakan soal.
“Soal olimpiade aja udah susah banget (sementara, red) ini harus cepet-cepetan dan saingan kita adalah orang-orang hebat dari universitas lain. Another of pusing tujuh keliling,” terang mahasiswi Sekolah Vokasi (SV) tersebut.
Salah satu mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Rizki Fahrizal Aziz, turut memberi tanggapannya. Meskipun hanya memiliki satu perwakilan, ia merasa bangga karena Undip dapat semakin dikenal sebagai salah satu kampus berprestasi. Kendati demikian, ia cukup menyayangkan jumlah screen time Barir yang tidak sebanyak peserta lain. Meski begitu, ia tetap berharap Barir dapat meraih kemenangan dalam game show tersebut.
“Semoga dengan adanya Mas Barir ikut lomba ini pastinya bisa memperkenalkan bahwa (di, red) Undip ini ada mahasiswa berprestasi seperti itu. Tapi, sayang sekali, apalagi screen time dari Mas Barir juga kan nggak terlalu banyak, ya, sampai episode 2 ini.”
Baik Kharisma, Yovita, maupun Rizal, ketiganya sangat mendukung Barir sebagai satu-satunya partisipan dari Undip agar dapat melaju hingga babak terakhir.
“Tapi, yang paling penting semoga ini bisa jadi pengalaman berharga buat Kak Barir, ya. Apa pun hasilnya, you are the best. Semangat Kak Barir! Rusa Undip, sapi Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP), ikan Marlin menyertaimu,” kata Kharisma.
“Harapannya lanjut terus! Semangat buat Mas Barir yang mewakili Undip, warga Undip selalu mendukungmu!” ungkap Yovita.
“Intinya semangat dan semoga hasilnya bisa sesuai dengan usaha yang diberikan. Umur boleh paling muda, tapi kalau masalah otak jangan mau kalah. Oke, semangat!” imbuh Rizal.
Tidak hanya itu, dengan adanya program tersebut, mereka berharap agar mahasiswa lain juga dapat berlomba-lomba meraih prestasi dalam berbagai kompetisi. Clash of Champions juga diharapkan dapat memberi semangat kepada calon mahasiswa untuk dapat meraih kampus impian mereka, khususnya Undip.
Diketahui, Clash of Champions menjadi perhatian warganet karena memiliki konsep seperti game show asal Korea Selatan, University War, yang juga pernah viral beberapa bulan lalu. Kepopuleran program tersebut dibuktikan dengan penonton Clash of Champions yang telah mendapat jutaan penonton di setiap episodenya. Clash of Champions saat ini dapat disaksikan melalui aplikasi, Tik Tok, dan Youtube Ruangguru.
Penulis: Hildha Muhammad Tahir
Editor: Ayu Nisa’Usholihah, Hesti Dwi Arini
Referensi
“Daftar Peserta Clash of Champions & Jadwal Tayangnya,” Ruangguru, diakses pada 1 Juli 2024, https://www.ruangguru.com/blog/Clash-of-champion-ruangguru.




