
Musik – Menjadi lagu kebangsaan bagi jutaan insan yang sedang patah hati, lagu garapan Taylor Swift yang berjudul All Too Well ini kini telah sampai ke ratusan juta telinga di seluruh penjuru dunia. Terhitung hingga awal Maret 2022, lagu ini telah meraup sebanyak 237.144.278 pendengar di aplikasi pemutar musik, Spotify. Tidak hanya itu, film pendek yang sekaligus menjadi Music Video (MV) dari lagu ini dan diunggah di kanal YouTube milik Taylor pun, telah menyentuh angka 61 juta lebih penonton.
Masuk dalam jajaran lagu di repackage album Red (Taylor’s Version) yang dirilis pada 12 November 2021 silam, versi baru dari All Too Well hadir dengan durasi lebih dari 10 menit! Cukup panjang memang jika dibandingkan dengan lagu-lagu pada umumnya yang hanya berdurasi kurang dari 5 menit. Namun, berkat kepiawaian Taylor dalam memadukan lirik yang mengiris jiwa dan melodi yang menyayat hati, saat mendengarkan lagu ini, audiens tentu tidak akan menyadari bahwa ternyata penghujung lagu tinggal tersisa beberapa detik lagi. Bahkan, apabila ada versi 10 hours dari lagu ini, saya tidak akan segan menyetelnya setiap hari untuk menemani saya ketika mengejar dateline yang tiada henti.
Bukan hal yang mengherankan, lagu yang pertama kali dirilis pada tahun 2012 ini memang bisa menyihir audiens hingga merasa tidak cukup jika hanya mendengarkannya satu kali. Apalagi jika mengetahui pesan yang ingin disampaikan oleh Taylor dalam lagu ini. Kesedihan yang tiada henti tentang perpisahannya dengan sang mantan kekasih berhasil dirangkai apik dalam setiap lirik yang ia tulis.
Hubungan yang awalnya begitu manis, dalam waktu sekejap berubah menjadi miris, begitulah stigma awal dari All Too Well. Taylor seolah-olah menceritakan bagaimana ia dan mantan kekasihnya berpikir bahwa mereka tercipta untuk memiliki satu sama lain. Cerita-cerita masa lalu yang dibagi bersama, kencan perjalanan mereka yang selalu penuh cinta, juga bagaimana mereka menjadi satu dalam keluarga satu sama lain, semuanya masih tercetak amat jelas di memori Taylor.
Wind in my hair, I was there, and I remember it all too well.
And there we are again when nobody had to know
You kept me like a secret, but I kept you like an oath
Ikatan keduanya yang tampaknya dari awal tidak ingin diumbar oleh sang mantan kekasih membuat Taylor mempertanyakan lagi hubungan mereka. Bagaimana ia mencintai kekasihnya layaknya sumpah yang tak akan ia langgar, sedangkan kekasihnya justru ingin merahasiakan rapat-rapat hubungan mereka.
You said if we had been closer in age, maybe it would be fine
And that made me want to die
Jarak umur antara keduanya yang dikisahkan cukup jauh juga diyakini menjadi masalah yang serius dalam hubungan mereka. Hal ini pula yang mungkin menjadi suatu alasan bagi mantan kekasih Taylor untuk memilih menyembunyikan hubungan mereka. Dan alasan-alasan tersebutlah yang sangat menyiksa diri Taylor.
And I was never good at telling jokes, but the punchline goes
“I’ll get older, but your lovers stay my age”
Taylor juga menambahkan sedikit sarkasme pada bait ini. Mantan kekasihnya yang menganggap perbedaan usialah yang menjadi pemicu berakhirnya hubungan mereka, kini justru memiliki kekasih yang berumur jauh lebih muda darinya dan berusia sama dengan Taylor kala itu. Tampaknya semesta memang senang bercanda.
And did the twin flame bruise paint you blue?
Just between us, did the love affair maim you too?
Twin flame dapat diartikan sebagai dua belahan jiwa yang menyatu. Namun, dalam lirik ini Taylor mengartikannya sebagai jiwa yang terluka. Taylor yang merasa amat bahagia saat ia rasa telah menemukan separuh jiwanya, ternyata pada akhirnya harus merasakan kecewa yang membuatnya merasa sangat hancur dan terluka. Ia pun bertanya-tanya, apakah rasa sakit yang ia terima juga dirasakan oleh mantan kekasihnya?
Taylor sungguh tidak main-main dalam memilih padanan kata yang ia gunakan. Ia berhasil memberikan kesan berbunga-bunga, sedih, marah, dan kecewa dalam porsi yang pas sesuai dengan babaknya masing-masing. Ia tidak hanya membuat sebuah lagu, tetapi juga melahirkan sebuah sejarah yang melegenda. Kisah patah hatinya kini telah diketahui oleh satu dunia.
Drama kegagalan hubungan yang Taylor sajikan dalam lagu ini ternyata juga bisa banyak kita temui di kehidupan nyata. Awal hubungan yang terasa amat indah hingga kita merasa bahwa dialah satu-satunya, sangat mungkin untuk berakhir dengan tragis sampai-sampai hanya kenangan menyakitkan yang tersisa, padahal alasan dibaliknya terkadang hanyalah hal-hal klise yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan.
Apa yang membuat kisah Taylor menjadi berbeda adalah dia dapat membungkus rasa sedih dan amarahnya dengan sangat elegan. Tanpa mengumbar sumpah serapah pun kita bisa tahu bagaimana kacaunya hubungan mereka. Ketika patah hati berubah menjadi karya, adakah yang bisa menandinginya?
Penulis: Ayu Nisa’Usholihah
Editor: Rafika Immanuela, Christian Noven




