Selasa (24/9) pagi, Jalan Pahlawan nampak berbeda dari biasanya. Hari itu mahasiswa Semarang Raya, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang dan organisasi kolektif lainnya sepakat untuk turun ke jalan. Massa datang dari berbagai penjuru menuju titik kumpul di depan Patung Pangeran Diponegoro, Undip Pleburan. Bersama-sama mereka saling menyuarakan yel-yel seperti, “Tolak RUU” “Rakyat bersatu, tak bisa dikalahkan” dan lain sebagainya.
Semua bermula sejak isu dari Senayan membuat publik gundah. Berawal dari langkah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang merevisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) -sehingga dinilai melemahkan lembaga antirasuah tersebut- dan bahkan telah disahkan Jumat (20/9) lalu. Permasalahan Revisi UU KPK belum selesai, DPR juga berniat merevisi beberapa produk legislasi lainnya seperti Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), RUU Ketenagakerjaan, dan RUU Pertanahan. Padahal, RUU Perlindungan Kekerasan Seksual (PKS) yang kehadirannya menjadi angin segar bagi korban pelecehan seksual justru ditunda pembahasannya.
Saat Tim Manunggal sampai di lokasi aksi, terlihat sudah banyak kendaraan yang terparkir di sepanjang Jalan Imam Bardjo, dekat Undip Pleburan. Beberapa mobil dan ratusan motor tersebut diduga milik massa yang melakukan aksi hari itu. Terlihat pula rombongan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang mulai mengarahkan barisan ke Jalan Pahlawan, depan Kantor Gubernur Jawa Tengah. Terlihat pula rombongan organisasi masyarakat (ormas) Pemuda Pancasila yang juga berjalan sembari menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Dalam Kerumunan Massa
Aksi yang menggunakan tagar #SemarangMelawan tersebut menjadikan pintu gerbang utara Kantor Gubernur Jawa Tengah, sebagai pusat aksi. Pada barisan terdepan terdapat sebuah mobil bak terbuka yang dialihfungsikan sebagai mobil komando. Di atas mobil tersebut perwakilan massa aksi menyuarakan aspirasinya, terkait tuntutan mereka dan permasalahan yang ada.
“Datang dari kanan datang dari kiri, mahasiswa”, yel-yel semacam itu kerap terdengar mengiringi orasi. Mars Mahasiswa dan lagu Maju Tak Gentar pun seakan menjadi lagu wajib yang dihapal massa aksi. Bersama dengan nyanyian tersebut terseling harapan agar para elitis Kota Semarang turun membersamai mereka.
Selain itu yang perlu menjadi sorotan adalah kreatifitas massa aksi dalam hal atribut. Di samping membuat poster protes dengan nada satir, mereka juga membuat poster berbau humor yang bahkan tidak ada hubungannya dengan aksi #SemarangMelawan ini. Beberapa poster itu berbunyi “Tolak Revsi Skripsi”, “Aku pengen es teh”, “I Love You 3000”, “Demi Indonesia aku rela Skinkerku sia-sia” dan lain sebagainya.
Pertemuan Ayah dan Anak
Hari semakin siang, matahari semakin naik, cuaca pun semakin terik. Pukul 11.50 emosi massa mulai terpancing dengan ajakan untuk masuk ke dalam Kantor Gubernur. Dorongan pun tidak terelakan dan berujung robohnya pintu gerbang utara yang disambut sorak-sorai mahasiswa.
Namun, belum sempat meringsek masuk, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mendadak hadir menjumpai kerumunan massa. Layaknya seorang anak yang ingin bertemu ayahnya, kedatangannya pun membuat massa yang sebelumnya mulai panas, kembali kondusif. “Ketika kemudian seluruh ruang sudah saya buka untuk bicara, kami sebenarnya sangat welcome. Bahkan sejak dari tadi pagi, saya sudah stand by di Gubernuran,” terang Ganjar dalam sambutannya di atas mobil komando.
Usai sambutan oleh Ganjar, dilanjutkan pembacaan tuntutan massa oleh salah satu perwakilan. Tuntutan tersebut salah satunya terkait penolakan upaya pelemahan KPK, penolakan pasal ngawur RKUHP, dan pengesahan RUU PKS. Ganjar pun mengamini tuntutan tersebut dengan mengatakan akan menyampaikan aspirasi massa kepada Pemerintah Pusat. Terkahir, Ganjar juga menandatangani surat tuntutan bermaterai yang disajikan oleh massa aksi.
Selepas kesepakatan tersebut, perlahan-lahan massa mulai mundur sedikit demi sedikit. Mereka mulai kembali ke titik kumpul semula, Patung Pangeran Diponegoro Undip Pleburan. Tidak sedikit pula yang melepas dahaga pasca bersuara dengan menghampiri kaki lima.
Hingga akhirnya massa aksi sepenuhnya bubar. Kantor Gubernur Jawa Tengah hanya menyisakan gerbang yang roboh dan berbagai baner serta poster tuntutan yang ditempelkan disana-sini. (Alfiansyah)





