Warta Utama – Tuntut penarikan aparat kepolisian dari Desa Wadas, Aksi Kamisan bertajuk “Solidaritas Terhadap Perjuangan Warga Wadas adalah Ibadah: Lawan Represifitas Aparat dan Pelanggaran HAM oleh Ganjar” pun digelar pada Kamis (10/2). Aksi yang dilaksanakan di depan Mapolda Jawa Tengah dan Kantor Gubernur Jawa Tengah ini dihadiri oleh Aliansi Mahasiswa Semarang Raya dan beberapa aktivis lainnya.
Massa yang hadir meminta dengan tegas kepada aparat untuk tidak lagi bersikap represif pada warga dan segera menarik pasukannya menyingkir dari Desa Wadas. Permintaan ini disampaikan oleh perwakilan Aliansi Mahasiswa Semarang Raya di depan Mapolda Jawa Tengah.
“Tuntutan kami adalah mengecam dan mengutuk tindakan represif dan nonprosedural yang dilakukan aparat serta meminta pihak kepolisian menarik personilnya dari Desa Wadas. Kemudian, meminta penundaan pengukuran sampai permusyawaratan dengan warga Wadas selesai,” jelas Naufal Ramadhan, koordinator lapangan Aksi Kamisan saat diwawancarai oleh Awak Manunggal via pesan WhatsApp pada Jumat (11/2).
Naufal menyatakan bahwa saat ini belum ada perwakilan dari Aliansi Mahasiswa Semarang Raya yang menilik langsung keadaan di Desa Wadas karena akses masuk sangat dibatasi oleh sejumlah polisi yang berjaga.
Salah seorang aktivis lingkungan yang turut serta dalam aksi ini, Jamilah, sangat menyayangkan tindakan represif aparat yang dinilai tidak hanya mengusik warga secara fisik, namun juga secara mental. Beliau berharap segala aksi kekerasan yang dilakukan oleh aparat dapat diminimalisir.
“Hentikan proyek Wadas Lintang. Kalau proyek itu berhenti, otomatis aparat tidak akan datang. Selain itu, sangat jelas kalau proyek itu sangat merusak lingkungan hidup,” tambah Jamilah. Dalam pelaksanaannya, aksi yang dilakukan di dua tempat berbeda ini diisi dengan orasi dan pembacaan puisi dari beberapa perwakilan. Bagian menariknya adalah pertunjukan adegan teatrikal pengusiran setan menggunakan dupa dan penaburan garam yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa di depan Mapolda Jawa Tengah. Aksi kemudian ditutup dengan pembacaan doa untuk warga Desa Wadas.
Reporter: Patia Atalian F, Malahayati Damayanti
Penulis: Patia Atalian F
Editor: Rafika Immanuela A, Malahayati Damayanti F
