Aklamasi dan Minim Informasi, BEM Undip 2021 Selesai Sertijab

Unggahan Pemira Undip menetapkan Ketua dan Wakil Ketua BEM Undip 2021. (Sumber: Instagram @pemiradiponegoro)

Warta Utama— Pemira Undip telah mencapai titik akhir. Serah Terima Jabatan atas terpilihnya Ketua dan Wakil Ketua BEM Undip 2021 telah dilakukan, Kamis (31/12). Thufail Addausi dan M. Chory Firdaus menjadi satu-satunya Pasangan Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM Undip 2021.

Berdasarkan Peraturan Senat Mahasiswa Nomor 5 Tahun 2020 tentang perubahan atas Peraturan Senat Mahasiswa Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pemilihan Umum Raya, Pasal 28 (b) menyatakan bahwa ‘apabila hanya terdapat satu pasangan calon yang mendaftar, maka akan dilakukan aklamasi terhadap calon tersebut’. Aklamasi tersebut menjadikan Daus-Chory yang merupakan satu-satunya pasangan calon yang memenuhi persyaratan dinyatakan sebagai Ketua dan Wakil Ketua BEM Undip 2021.

Respon Mahasiswa

Tanggapan berdatangan melalui kolom komentar pada unggahan penetapan Ketua dan Wakil Ketua BEM Undip 2021 di Instagram dan juga pada kanal @undipmenfess di Twitter. Banyak mahasiswa menanyakan siapakah Daus-Chory ini dan bagaimana tahapan Pemira Undip sampai ‘tiba-tiba’ terpilihnya mereka.

Demi apa ini kepilih krn apa? Kok gada vote2 gitu yah, apa emang akunya yang kudet (emoticon menangis)”, ketik akun @Freswater dalam kiriman menfess.

“saking nolepya tau tau udah ada ketua sama wakil baru,” kicau akun @stxrnggrni.

Sudah tidak adanya waktu lagi untuk melaksanakan Pemira ulang atau Musyawarah Mahasiswa, dan tidak disetujuinya penurunan syarat LKMM-TM oleh pihak rektorat menjadikan aklamasi adalah jalan satu-satunya.

“Pemira ulang waktunya sudah mepet, Senat hanya mengurusi sampai 31 Desember sesuai SK. Kalau misal calonnya satu, ya sudah kita aklamasi saja, yang penting memenuhi syarat. Kalau misalkan ada dua calon lolos verifikasi kita tetap adakan pemilihan,” jelas Edy Hartanto, Ketua SM Undip 2020 melalui daring pada Senin, (04/01).

Kendala Internal Senat

Di sisi lain keluhan mahasiswa mengenai infromasi Pemira terutama aklamasi dirasa kurang merata, di mana akun Instagram sebagai media informasi Panlih kepada mahasiswa berbeda dari tahun lalu. Akun @pemiradiponegoro baru memiliki sekitar 500 pengikut yang diartikan banyak mahasiswa yang belum mengetahui informasi Pemira.

“Saya juga menyesalkan penyelenggara Pemira kenapa akses tidak diberikan, saat sudah diberikan passwordnya juga diganti. Namun itu tidak kami jadikan keluhan karena kita selalu berkoordinasi dengan Senat Fakultas untuk tolong teman-teman repost disampaikan ke teman-teman fakultas,” kata Edy.

Menanggapi ramainya Pemira melalui media daring seperti menfess, Edy berpesan agar mahasiswa pada konteks demokrasi dapat memiliki kedewasaan dalam berpolitik. “Ketika prosesnya sudah sesuai ya kita terima, tapi kalau tidak sesuai misal aklamasi karena memang kondisinya seperti itu kita sebagai mahasiswa jika ingin berperan sebagai oposisi silakan menjadi oposisi yang konsisten,” tutup Edy.

Reporter: Fidya Azahro

Penulis: Fidya Azahro

Editor: Winda N, Alfiansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *