Activist Fair: Upaya Pengenalan Aktivisme oleh Amnesty Undip

Kegiatan Sharing Session dalam rangkaian Activist Fair (Sumber: Dok. Pribadi)

Warta Utama – Amnesty Undip baru saja melaksanakan rangkaian kegiatan Activist Fair: Aktivis Adalah Kita, pada Sabtu-Minggu (25/26) lalu. Activist Fair merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan aktivis dan aktivisme hingga peran-perannya di masyarakat.

Rangkaian kegiatan yang diadakan selama dua hari berturut-turut tersebut mengangkat tema yang berbeda di hari pertama dan hari kedua. Pemilihan konsep tersebut memperkenalkan dan mengangkat kisah para aktivis secara lebih mendalam khususnya di Semarang dan Jawa Tengah. Adapun penggelaran pameran umum terkait aktivisme diselenggarakan yang diselingi dengan diskusi, sharing session dan live musik.

“Inti acaranya kita ingin memperkenalkan dan mengangkat kisah-kisah para aktivis-aktivis yang ada di Semarang dan Jawa Tengah yang mungkin juga punya kisah yang besar tetapi tidak pernah diangkat,” terang Togar selaku Ketua Amnesty Chapter Undip, ketika diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Senin, (27/6) melalui Whatsapp.

Adapun tema yang diangkat pada hari pertama ialah Rekam Jejak Aktivisme di Semarang. Kegiatan yang berlangsung pada hari tersebut di antaranya Diskusi Aktivis tentang Mengenal Aktivis dan Aktivisme dalam Kehidupan dan Sharing Session. Berbeda dengan diskusi, Sharing Session diadakan agar dapat lebih mengenal sosok aktivis.

“Diskusi aktivis diisi sama Dewan Kesenian Semarang, Pak Aditya. Selanjutnya ada Sharing Session, dalam sesi Sharing Session kita punya 2 aktivis, ada Pak Marzuki dari dari temen-temen Tambak Rejo. Lalu, ada Pak Wawan Koordinator Pelita Semarang, beliau adalah aktivis toleransi,” Ungkapnya

Berbeda dengan hari pertama, di hari berikutnya yang merupakan acara puncak dan bertepatan dengan Hari Peduli Korban Penyiksaan Internasional, maka diadakan diskusi terbuka terkait pelanggaran kebebasan para aktivis kegiatan khususnya di semarang, yakni Pelanggaran Kebebasan Berekspresi Bagi Para Aktivis. Narasumber yang didatangkan ialah seorang akademisi yang memiliki ketertarikan khusus terhadap aksi mahasiswa serta sudah meneliti banyak hal terkait aksi massa, yakni Donny Danardono, selaku dosen FHK dan PMLP Unika Soegijapranata. Selain itu, narasumber lainnya ialah Ignatius Radhite perwakilan dari Lembaga Badan Hukum (LBH) Semarang yang merupakan salah satu pengacara lokal dan memiliki ketertarikan untuk mengikuti aksi sebagai konseptor, massa aksi, dan lainnya. 


“Karena bertepatan di Hari Peduli Korban Penyiksaan Internasional, kita angkat pelanggaran kebebasan berekspresi di aktivis-aktivis kegiatan semarang. Pembicaranya  diisi oleh perwakilan dari LBH Semarang, Ignatius Radhite dan Bapak Donny Danardono, selaku dosen FHK dan PMLP Unika Soegijapranata,” tuturnya.

Selain itu, Togar menambahkan bahwa acara puncak dari rangkaian kegiatan Activist Fair merupakan Pagelaran Seni atau Panggung Ekspresi. Adapun pameran-pameran yang berisikan kumpulan kolase-kolase aktivisme, lukisan-lukisan, hingga pembelian dan pemberian buku secara gratis.

“Acara puncaknya itu adalah pagelaran seni. Di pagelaran seni ini ada pengamen jalanan, dan lain-lain. Kita juga buka pameran-pameran yang isinya kayak kolase-kolase aktivisme, lukisan-lukisan dari beberapa lembaga, salah satunya dari teman-teman Unnes. Ada juga pembelian dan pemberian buku gratis,” tambahnya.

Selama berlangsungnya acara, Togar menuturkan bahwa terdapat beberapa kendala seperti telatnya kehadiran narasumber, hingga sempat didatangi intel. Namun, kendala tersebut masih dinilai kendala yang wajar dan bukan suatu kendala yang berarti.

“Kendala kegiatan kemarin, ada beberapa pembicara yang datangnya telat, kemudian jadi ga sesuai rundown, ada gangguan teknis juga. Tapi, gak ada kesulitan yang berarti. Kemudian, karena kemarin acaranya indoor dan kami gak melapor ke pihak keamanan jadi tiba-tiba didatangi intel tapi semua tetap aman,” ujarnya

Lebih lanjut, Togar berharap bahwa melalui Activist Fair akan lebih banyak orang yang mengapresiasi para aktivis. Menurutnya, perjuangan para aktivis perlu diapresiasi meski mereka tidak benar-benar memerlukan hal tersebut. Ia pun turut mengingatkan bahwa aktivis merupakan seseorang yang dapat menggerakan lembaga dan orang-orang lainnya untuk merespon suatu isu.

“Harapan besar dari saya, melalui Activist Fair ini harus dilihat bahwa banyak teman-teman aktivis kita di semarang yang mungkin kurang dapet apresiasi. Banyak juga aktivis semarang adalah korban dari framing media bahwa aktivis itu sangat berbahaya, dunia yg penuh dengan politik. Aktivis itu adalah orang yang bisa menggerakan lembaga dan orang untuk merespon suatu isu. Aktivis itu adalah kita, jadi teman-teman undip jangan pernah takut dalam menyuarakan isu apapun,” pungkasnya.

Reporter: Zahra Putri Rachmania

Penulis: Rafika Immanuela

Editor: Malahayati Damayanti F

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top