Warta Utama – Meskipun pesta ulang tahun Republik Indonesia yang ke-77 telah usai, tapi euforia hari merdeka masih terus berlanjut di RW 04, Desa Jurang Blimbing, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.
Bersama tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP), warga RT 04 menyukseskan kegiatan Jalimbing’s Duwe Gawe 2022 yang diselenggarakan selama empat hari berturut-turut, mulai tanggal 25 hingga 28 Agustus 2022.
Jalimbing’s Duwe Gawe merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh warga Jurang Blimbing sebagai simbol dari rasa kekeluargaan dan kebersamaan, seperti yang dituturkan oleh Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), Slamet Suwardji.
“Tujuannya yang pertama adalah memperingati acara 17 Agustus. Kedua, mempererat tali persaudaraan dan silaturahmi antar warga. Ketiga, antar warga bisa lebih saling mengenal, saling men-support, menyemangati, sekaligus mewujudkan rasa nasionalisme, karena sebagian dari kita pakai baju adat, jadi kelihatan rasa nasionalismenya”, jelasnya ketika dimintai keterangan Awak Manunggal pada Minggu, (28/08).
Rangkaian kegiatan diawali dengan tasyakuran atau selamatan di Sendang yang berlokasi di depan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UNDIP. Sebagai wujud kecintaan atas negeri ini, Jalimbing’s Duwe Gawe juga menggelar pertunjukkan budaya, seperti wayangan, kuda lumping, dan ketoprak.
Meskipun bukan lagi budaya populer, nyatanya atraksi kuda lumping yang dipentaskan oleh paguyuban Turonggo Tunggak Semi (TTS) berhasil menggaet puluhan penonton dari berbagai desa.
“Kuda lumping itu kan tradisi budaya yang sudah turun temurun. Kemudian, karena kuda lumping itu sudah seni yang mengakar kuat, jadi tanpa promosi, tanpa gembar-gembor itu sudah otomatis menarik penonton dari kampung sana, kampung sini. Masyarakat sudah antusias bahkan tanpa diundang”, tutur Slamet Suwardji.
Atraksi kuda lumping selalu menjadi pertunjukkan yang dinanti warga setempat setiap tahunnya. Sebab, tak hanya di kegiatan Jalimbing’s Duwe Gawe saja, kuda lumping juga sering “manggung” ketika terdapat acara-acara tertentu, seperti tradisi Suroan atau malam tahun baru.
“Konsepnya (Jalimbing’s Duwe Gawe, red) sudah lama, cuma kali ini berkolaborasi dengan mahasiswa KKN. Artinya ada semacam inovasi, karena biasanya anak muda kan punya tambah-tambahan dan sejenisnya gitu. Dulu nggak ada karaoke, sekarang ada. Dulu karnavalnya biasa, sekarang ada benderanya, terus ada petasan gitu-gitu. Ada kreativitas nya lah intinya”, imbuh Slamet.
Dalam wejangannya, Slamet Suwardji berpesan kepada pemerintah untuk kembali memperhatikan kelestarian budaya lokal dengan memberikan dukungan, baik finansial maupun non finansial.
“Bantuan secara langsung belum ada. Anggaran untuk budaya ini ya harusnya dianggarkan, untuk lakon ketoprak, kuda lumping, atau wayangan. Padahal kan kita disini menggerakkan budaya dan menjaga budaya itu agar tidak hilang atau dicuri bangsa lain, ” ujarnya.
Reporter: Fahrina Alya, Hasna Okta
Penulis: Fahrina Alya
Editor: Rafika Immanuela, Christian Noven
