Banjir Rob, Permasalahan yang Tak Kunjung Usai Bagi Jakarta dan Semarang

Materi yang disampaikan Diskusi Publik pada Selasa (31/05) (Sumber: Manunggal)

Warta Utama – Maleh Dadi Segiro (MDS)  menggelar Diskusi Publik yang bekerja sama dengan Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) bertajuk Tanggul Jebol dan Rob: Pengalaman Jakarta dan Semarang, pada Selasa (31/05).

Sebelumnya telah diketahui bahwa baru-baru ini banjir rob melanda Pantai Utara Jawa (Pantura) termasuk Kota Semarang khususnya Pelabuhan Tanjung Emas. Rob ialah banjir di tepi pantai karena naiknya permukaan air laut menjadi lebih tinggi sehingga meluap ke daratan.

Warga Semarang dan sekitarnya dinilai sudah tidak asing lagi dengan adanya banjir rob. Namun, banjir kali ini diduga lebih parah dari banjir-banjir sebelumnya. Prof. S. Imam Wahyudi DEA., Ph.D selaku Pemantik pada acara Diskusi Publik yang juga Guru Besar Fakultas Teknik Unissula menuturkan bahwa Indonesia memiliki potensi tinggi terhadap adanya kenaikan muka air laut.

“Indonesia sendiri memang merupakan negara yang termasuk 5 besar punya potensi untuk rob/kenaikan muka air laut,” ungkapnya.

Adapun bahayanya dari tanggul jebol ialah ketika air laut naik, maka seluruh sistem polder yang ada di daratan akan hilang. Sistem polder sendiri ialah sistem penanganan bencana banjir. Fungsi utama dari sistem polder adalah sebagai pengendali muka air untuk kepentingan permukiman, muka air di dalam sistem tersebut dikendalikan supaya tidak terjadi banjir/genangan.

“Batas atau limit dari sistem polder adalah kalau tanggulnya limpas atau jebol, utamanya jebol,” tuturnya.

Kemudian, Imam menjelaskan bahwa terdapat 4 kluster sistem drainase pada Pelabuhan Tanjung Emas. Ia menyampaikan jika ada kluster yang jebol dan juga limpas (terlampaui oleh air, red)

“Kluster yang kemarin jebol itu ada di kluster I dan II, kemudian yang limpas itu kluster III dan IV,” jelasnya.

Lebih lanjut Ia menerangkan jika khusus pada lokasi Pelabuhan Tanjung Emas memerlukan perlindungan Sea Wall  (tanggul laut) di sisi barat (Kali Baru dan Ujung Seng), sisi timur (alur air pendingin PLTU Tambak Lorok), dan sisi utara di beberapa area pelayanan pelabuhan, serta perlunya rehab break water Pelabuhan Tanjung Emang dalam jangka panjang.

“Beberapa area khususnya Semarang sudah terlindungi dengan sistem polder. Khusus di lokasi Tanjung Emas, ada 2 titik roboh dan 1 titik kebocoran, jadi ada 3 titik ditutup. Kemudian, Sea Wall (tanggul laut) yang kritis masih banyak, perlu untuk dievaluasi dan diperbaiki,” tuturnya.

Selain Semarang, Jakarta yang merupakan ibu kota Indonesia juga kerap mengalami permasalahan yang sama terkait banjir rob. Kasus berulang tersebut membuat masyarakat harus berjuang untuk menghadapi banjir rob hingga tanggul jebol yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Elisa Sutanudjaja, Pemantik Diskusi dari Rujak Centre for Urban Studies menerangkan bahwa jika di Muara Angke banjir rob dapat datang sampai satu bulan sekali hingga masyarakat pun mendesain rumahnya sendiri untuk menghindari banjir tersebut.

“Untuk yang di Muara Angke itu sebenarnya ada poldernya. Lalu warga mendesain rumahnya sendiri karena mereka berpikir tiap bulan itu pasti ada rob. Ketinggiannya beda-beda, bisa 60-70 cm,” ungkapnya 

Elisa juga menambahkan jika pembuatan tanggul oleh pemerintah selama ini tidak pernah diikuti dengan perbaikan kawasan sekitar.

“Selama ini bikin tanggul itu intinya tembok tanggul, tetapi pembuatan tanggul ini cuma sepihak dari pemerintah aja, dia nggak ikut memperbaiki kawasan dan kondisi masyarakatnya,” ujar Ia.

Menurutnya, pembuatan tanggul secara sepihak tersebut belum tentu memperbaiki masalah di kawasan sekitar karena warga yang terkena dampak dari banjir rob sendiri tidak memiliki kekuatan untuk negosiasi sehingga perlu adanya pendekatan antara solusi teknis hingga ekonomi politik.

“Apakah warga di kawasan terdampak itu punya kekuatan untuk negosiasi, itu kerap kali kan nggak ada. Nah, ini yang kerap kali dilupakan dalam solusi teknis, ini yang saya rasa perlu diintegrasikan antara pendekatan teknis dan pendekatan ekonomi politik,” jelasnya.

Reporter: Rafika Immanuela

Penulis: Rafika Immanuela

Editor: Malahayati Damayanti F

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top