Gerakan Aksi Tanam Pohon (GESIT) Proker Bidang Baru BEM Undip, Triwijayanto: Patut Diapresiasi Meski Masih Banyak Kekurangan

Aksi tanam pohon oleh Bidang Lingkungan Hidup Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Diponegoro, Minggu (24/10) di Mawar Camp Ungaran. (Sumber: Manunggal)

Warta Utama – Kesadaran terhadap perubahan kondisi lingkungan menjadi hal yang diperhatikan dan ditumbuhkan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Diponegoro. Minggu (24/10), telah berlangsung acara Gerakan Aksi Tanam Pohon (GESIT) yang dilaksanakan di Mawar Camp, Ungaran. Acara ini termasuk ke dalam program Integral BEM Undip dan seluruh pelaksanaannya diinisiasi serta dipegang oleh Bidang Lingkungan Hidup BEM Undip. GESIT tidak hanya melibatkan pihak internal kampus, tetapi juga komunitas-komunitas peduli lingkungan di Semarang, di antaranya: Solidaritas Anak Kluwihan Peduli Alam (Sakpala) Mawar, Resopala, Forum Potensi Relawan Semarang (FPRS), dan Safe Indonesia.

Pelibatan komunitas eksternal Undip ini dimaksudkan sebagai upaya untuk memasifkan atau menyosialisasikan gerakan-gerakan peduli lingkungan kepada masyarakat. Selain itu juga sebagai ajang silaturahmi antar komunitas yang memiliki fokus serupa di ranah atau bidang lingkungan.

Fajar Kurniawan selaku ketua pelaksana acara ini menyatakan bahwa tujuan dari diadakannya acara GESIT yakni agar masyarakat lebih sadar dan peduli akan pentingnya menjaga lingkungan. Melalui kepedulian tersebut, masyarakat diharapkan akan bergerak mengaplikasikan gerakan menjaga alam, salah satunya dengan tanam pohon.

“Yang pertama untuk menghijaukan lahan, yang kedua untuk menjaga kelestarian lingkungan, dan yang ketiga adalah untuk aspek lingkungan dalam lingkup keberlanjutan,” paparnya pada awak Manunggal mengenai tujuan dari acara GESIT.

Menurut Fajar, lingkungan merupakan suatu medium tempat manusia hidup. Tanpa lingkungan, manusia tidak memiliki tempat hidup sehingga manusia akan kembali kepada lingkungan.

Pemilihan lokasi di jalur pendakian gunung Ungaran didasarkan atas pertimbangan kebutuhan tanaman hijau guna resapan air. Lahan tersebut dulunya merupakan tempat aliran air. Namun, kondisi sekarang tidak lagi terdapat air yang tertahan karena jarang ditemukan pohon resapan air. Oleh sebab itu, lokasi tersebut dipilih sebagai fokus reboisasi.

“Kita butuh penghijauan gunung yang berguna untuk resapan air. Sebagai penyangga dari gunung itu sendiri, kan butuh yang namanya pepohonan,” imbuhnya.

Fajar juga menyatakan bahwa ia dan kawan-kawan dari Bidang Lingkungan Hidup BEM Undip akan menindaklanjuti kegiatan penanaman pohon ini dengan rutin melakukan pengecekan rutin. Sehingga, pohon-pohon yang sudah ditanam akan tetap terawat dan terjaga.

Jenis-jenis tanaman yang dipilih, yakni pohon randu, pohon buah (nangka), dan spesies endemik di wilayah tersebut, seperti pohon kendal, pohon sapu tangan, dan sebagainya. Pemilihan tanaman tersebut disesuaikan dengan medan, teritori, dan lahan yang ingin ditanam. Meski begitu, Triwijayanto selaku aktivis Boja Peduli menyebutkan beberapa pemilihan bibit tanam ini kurang tepat.

“Penentuan bibit pohon yang mau ditanam itu harus ada kesesuaian dengan tujuan kita. Tujuannya tidak serta merta reboisasi, tapi ada goal yg lebih substansi. Bukan hanya sekedar reboisasi,” kata Tri ketika diwawancarai oleh awak Manunggal di lokasi acara.

Ia juga menyatakan bahwa arena tempat pelaksanaan acara merupakan daerah tangkapan air, sehingga pemilihan pohonnya harus pohon yang mampu menyerap atau mengikat air. “Karena lokasi ini adalah lokasi tangkapan air, jadi harapannya ini kan bisa untuk jalur air. Harapannya ada air yang bisa diikat. Berarti pemilihan pohonnya adalah pohon yang mampu menyerap air, seperti pohon beringin, kolang-kaling, dan lain-lain” ucap Tri.

Selain itu, Tri beranggapan kalau acara ini belum terkoordinasi dengan baik. Bukan hanya dalam pemilihan bibit, tetapi juga dari sisi pemilihan lahan dan langkah serta tujuan akhir penanaman yang belum jelas.

Meski demikian, Tri cukup mengapresiasi keberlangsungan acara GESIT. Ia menyatakan bahwa Indonesia masih butuh kegiatan-kegiatan peduli lingkungan seperti ini.

“Kalau masalah hidup dan mati pohon, kita hanya berharap pada Tuhan. Dari gerakan ini akan muncul orang-orang peduli dan memang benar peduli bukan hanya sebagai euforianya saja. Dan menanam itu keren.”

 

Reporter : Siti Latifatu S, Aslamatur Rizqiyah

Penulis : Siti Latifatu S

Editor : Aslamatur Rizqiyah, Fidya Azahro

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top