Sambut PIMNAS ke-34, Bagaimana Persiapan Kontingen Undip?

Keterangan foto: Tangkapan layar saat upacara pembukaan PIMNAS ke-34 yang dilaksanakan hybrid di depan Biro Rektor Universitas Sumatera Utara, Selasa (26/10). (Sumber: YouTube USU Official Social Network).

Joglo Pos, Edisi IV Tahun 2021 – Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-34 menunjuk Universitas Sumatera Utara (USU) sebagai tuan rumah. Hal tersebut sesuai dengan surat No.0989/J3/KM.02.13.2021 tentang Penetapan Tuan Rumah Penyelenggara Kompetisi jenjang Pendidikan Tinggi Tahun 2021. Kembali digelar hybrid pada tahun ini, tema yang akan dibawakan adalah “Menuju Indonesia Emas Melalui Kolaborasi untuk Inovasi dalam Bingkai Kearifan Lokal”.

Setelah dinyatakan berhasil lolos 37 kontingen pada akhir September lalu, Universitas Diponegoro menyusun serangkaian kegiatan sebagai bentuk persiapan. Salah satunya adalah pemusatan pembinaan kontingen Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) di MG Setos Hotel, Semarang selama tiga hari pada 12-14 Oktober 2021.

“Kegiatan tersebut berisi pendampingan penyusunan artikel ilmiah, pembuatan poster hingga penjelasan teknik presentasi. Kami didampingi oleh dosen-dosen Undip yang menjadi juri pada acara PIMNAS nanti. Pendampingan tersebut berisi penjelasan teknis, review, hingga koreksi,” tutur Tegar Pratama Kayong Wardana, ketua tim dari salah satu kontingen PKM Undip pada awak Manunggal, Minggu (17/10).

Lebih lanjut, mahasiswa semester lima jurusan Fisika yang akrab disapa Tegar itu memaparkan bentuk pendampingan setelahnya yang berupa kegiatan “Basecamp” pada 15 – 22 Oktober 2021 di ruang sidang BK-NWA. Bimbingan ini bersifat fleksibel yang diisi dengan perbaikan atau revisi artikel ilmiah, poster, dan sebagainya yang telah disusun sebelumnya.

Salah satu anggota kontingen PKM Undip, Mirra Halizah Septiana mengatakan bahwa esensi dari adanya bimbingan tersebut adalah untuk memacu semangat para peserta. Menurutnya – sebagaimana yang dikatakan oleh dosen pembimbingnya – pemusatan bimbingan merupakan awal dari persiapan menghadapi PIMNAS tahun ini.

“Jadi, Undip itu memberi semangat, udah diberi fasilitas, kita harus semangat mendapat medali. Pemusatan bimbingan diwajibkan bagi orang-orang yang ada di Tembalang,” ungkap mahasiswi jurusan perikanan tangkap angkatan tahun 2020 itu.

Kolaborasi Peserta-Pihak Undip Hadapi PIMNAS Tahun Ini

Monitoring dan evaluasi (monev) telah rutin dilakukan kepada para peserta sejak awal pembinaan. Hal tersebut, menurut Mirra, merupakan suatu kolaborasi yang baik antara pihak kampus dengan mahasiswa. Ia bahkan mengakui bahwa pembinaan di tahun ini jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya.

“Kalau menurut aku, dari Undip kayak niat dan baik banget sama anak-anak kontingen. Lebih baik dan lebih niat juga dari tahun sebelumnya karena dari awal udah ada monev yang timeline-nya dari pihak Undip, terus juga banyak pembinaan-pembinaan lainnya,” jelas Mirra lagi.

Selain bimbingan terpusat, pihak Undip utamanya bagian Akademik dan Kemahasiswaan juga menetapkan berbagai regulasi baru untuk menunjang persiapan, salah satunya adalah kebijakan tentang keikutsertaan dalam Ujian Tengah Semester (UTS). Dijelaskan oleh Prof. Heri Sutanto, salah satu dosen pembimbing (dosbing) kontingen PKM Undip bahwa pihak fakultas menerbitkan surat resmi berisi kelonggaran untuk tidak mengikuti UTS hingga kegiatan akademik lainnya.

“Mahasiswa terkait boleh tidak mengikuti UTS atau pembelajaran di kampus sehingga mereka bisa tenang,” ucap Prof. Heri saat diwawancarai Awak Manunggal via percakapan WhatsApp, Jumat (22/10).

Prof. Heri juga menuturkan bahwa pihak kampus memberikan fasilitas serta dukungan penuh agar kontingen Undip bisa meraih hasil semaksimal mungkin nantinya, mulai dari pendampingan penyusunan proposal di masing-masing fakultas, bantuan pinjaman pendanaan, sampai group coaching untuk mengingatkan capaian-capaian yang harus dipenuhi oleh tim.

“Setelah diumumkan lolos pendanaan, biasanya dana dari pilmawa/dikti untuk dicairkan butuh waktu 2-3 bulan, dari universitas biasanya melakukan pinjaman dulu sehingga tidak ada (kendala penelitian, red). Setelah (ada pendanaan, red) dana tadi harus dikembalikan,” ujar Prof Heri yang telah menjadi dosen pembimbing PKM sejak tahun 2016.

Hambatan: dari Pembuatan Video hingga Pengambilan Data

Mirra memaparkan bahwa ia dan tim membuat inovasi PKM Gagasan Futuristik Konstruktif (PKM-GFK) dan merupakan satu-satunya tim bidang GFK yang lolos dari Undip. Menjelang PIMNAS, masih Mirra menjelaskan bahwa terdapat agenda pengumpulan poster serta video sebelum tahap presentasi. Hambatan yang dirasakan salah satunya saat eksekusi pembuatan video. Adanya perbedaan tempat tinggal dan kesibukan masing-masing anggota menyebabkan pembuatan video terbilang memakan waktu yang cukup lama.

“Tim kami ada 4 orang, karena kita bikin videonya itu luring dan ada scene yang harus shoot langsung jadi aku yang dari Kepulauan Riau harus ke Semarang. Dua temenku emang di Semarang, kalau satunya lagi dari Lampung dan lagi KKN juga,” cerita Mirra.

Ia juga mengatakan proses pembuatan video berlangsung pada bulan Juni hingga Juli saat kasus Covid sedang tinggi-tingginya di Semarang sehingga ada halangan PPKM pula.

Sebagai dosen pembimbing, Prof. Heri juga merasakan beberapa hambatan saat melakukan bimbingan, di antaranya adalah proses pengambilan data serta pembelian bahan kimia yang tidak ready di toko.

“Pembelian bahan kimia habis pakai untuk penelitian yang tidak ready di toko membuat keterlambatan capaian oleh mahasiswa. Sedangkan, analisa penelitian lab juga membutuhkan waktu untuk menerima hasil,” tandasnya.

Akan tetapi, apabila dibandingkan tahun lalu yang murni dilaksanakan daring, tahun ini disebutkan Prof. Heri bahwa eksplorasi mahasiswa lebih banyak karena penelitian offline telah mendapatkan izin dari pihak laboratorium.

“Tahun lalu 100 persen pengambilan data menggunakan review dari literatur sehingga hanya ada data sekunder. Tahun ini 50 persen data primer penelitian dan 50 persennya lagi data literatur sehingga mahasiswa lebih pede mempresentasikan data tersebut,” ungkap salah satu dosen Departemen Fisika itu.

Harapan-Harapan pada PIMNAS ke-34

Prof. Heri menyatakan telah memberikan kiat-kiat menghadapi PIMNAS tahun ini. Menurutnya, yang paling utama adalah adanya kekompakan tim dan kesesuaian antara proposal dengan presentasi yang akan disampaikan. Dia juga berharap agar semua kontingen Undip dapat meraih medali baik dari presentasi maupun posternya.

“Medali akan menjadi indikator bahwa kualitas substansi dari PKM dari tim sudah kreatif dan inovatif termasuk performance dari anggotanya. Prestasi ini tentu bisa membawa kebanggan tim, dosbing, dan Undip,” tegas Prof. Heri.

Menanggapi saran Prof. Heri, Tegar selaku ketua tim merasa memiliki tanggung jawab untuk mensinergikan anggotanya sehingga dapat terjalin kekompakan di dalamnya.

“Mottoku dalam tim adalah kerja minimal hasil maksimal, artinya (berusaha seefisien , red) mencapai hasil akhir. (Perlu ada, red) perencanaan, penugasan, supervisi, hingga evaluasi terhadap kinerja tim. Terakhir, sebagai ketua tim, aku bertanggung jawab memastikan kondisi terbaik dari anggotaku,” ujarnya.

Lebih lanjut, selain persiapan materi dan bahan presentasi, menurut Tegar ada satu persiapan yang paling mendasar, yaitu mental juara. Ia menganggap pentingnya memiliki hal itu saat menghadapi sebuah kompetisi seperti PIMNAS. Karena apabila tidak, maka akan muncul perasaan rendah diri saat bersaing dengan kampus besar yang lain. Sebagaimana Prof. Heri, ia juga berharap kontingen Undip dapat menjadi juara umum di tahun ini.

Berbeda dengan keduanya, Mirra menganggap hasil tidak terlalu penting saat mengikuti sebuah kompetisi. Ia hanya berharap dapat memaksimalkan kerja kerasnya dan tidak menjadikan PIMNAS tekanan untuk meraih kemenangan.

“Karena menurutku esensi sebenarnya dari PKM itu bukan hanya medali. Medali itu bonus. Aku cuma berharap gimana caranya inovasi kita ini benar-benar solutif dan membangun sektor perikanan tangkap. Kalau memang niat kita membantu orang dan memberikan kebermanfaatan bagi orang banyak, hasilnya akan mengikuti,” pungkasnya di penghujung wawancara.

Reporter : Rafika Immanuela, Christian Noven, Diana Putri

Penulis : Diana Putri

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Fidya Azahro

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top