Tim PKM-PM Undip Coba Lestarikan Wayang Potehi di Tengah Pandemi

Pemantasan Wayang Potehi saat Imlek, Kamis (11/2). (Sumber: Dok. Pribadi)

Citizen Journalism – Kota Semarang merupakan salah satu kota dengan sejuta khazanah budaya. Masyarakatnya pun tidak hanya terdiri dari satu elemen saja, namun beragam. Mulai dari masyarakat asli Jawa, sampai dengan masyarakat keturunan Arab dan Tionghoa, semuanya bisa dijumpai di Kota ini. Termasuk dalam hal kesenian, Semarang memiliki satu kesenian hasil akulturasi dua budaya, yaitu Wayang Potehi.

 

Dewasa ini, eksistensi kesenian Wayang Potehi menurun – ditambah dengan kondisi pandemi Covid-19 – sehingga penggiat Wayang Potehi semakin sulit melakukan pementasan. Oleh tim PKM Pengabdian Masyarakat Undip, kesenian Wayang Potehi mendapat perhatian khusus. Tim yang diketuai Febrian Andika (Sastra Indonesia 2018) ini melakukan pengabdian masyarakat dengan mitra kelompok kesenian Wayang Potehi Tek Gie Hien. Tim tersebut beranggotakan Ilma Zulfa (Sastra Indonesia 2018), Maydi Hanivirgine (Sastra Indonesia 2018), dan Rio Dwi Cahyono (Manajemen 2019) di bawah arahan Laura Andri Retno Martini, S.S., M.A. sebagai dosen pendamping.

 

“Melihat kondisi seperti ini, kami tergerak ingin membantu meningkatkan eksistensi kesenian Wayang Potehi, terutama di Kota Semarang,” tutur Andika (25/8).

 

Bulan Juli lalu, Andika dan tim telah melakukan diskusi dengan pihak Tek Gie Hien melalui virtual zoom meeting. Ada beberapa materi diskusi, yaitu konsep manajemen pertunjukan, pengelolaan akun sosial media, praktik desain akun sosial media, dan kaderisasi. Setelahnya, tim mengadakan seminar nasional dengan tema Revitalisasi Kesenian Wayang Potehi di Era 4.O pada Minggu (8/8).

 

Kegiatan pengabdian ini mendapat respon baik dari berbagai pihak, meskipun terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaannya, termasuk ketika PPKM darurat diberlakukan di awal Juli lalu sehingga terpaksa pengabdian diadakan secara virtual. Andika membeberkan bahwa di awal September nanti ia dan timnya akan mengadakan pementasan Wayang Potehi. Menurutnya, ruh suatu kesenian terletak pada pementasannya. Namun sampai saat ini, ia masih menunggu arahan. Jika PPKM masih diperpanjang, pementasan akan diadakan secara virtual.

 

“Kita harus lebih peka terhadap lingkungan bahwa kita memiliki kesenian yang harus dilestarikan. Sebagai generasi muda, kita juga memiliki tugas untuk mengenalkan kesenian ini kepada masyarakat luas,” pungkas Andika.

 

Penulis: Maydi Hanivirgine, mahasiswa Sastra Indonesia 2018

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Dyah Satiti

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top