Potret sejumlah aktivis mahasiswa bersama Ganjar Pranowo di depan rumah dinas Gubernur Jateng, Rabu (28/7). (Sumber: Unggahan akun Instagram @koran_imm)
Warta Utama – Beberapa waktu lalu, jagad maya, khususnya twitter diramaikan dengan tagar #MahasiswaJateng. Penyabab utamanya adalah dukungan penuh masyarakat terhadap inisiatif sejumlah aktivis mahasiswa Jateng yang tergabung dalam Aktivis Cipayung Plus mendatangi rumah dinas Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo di Pri Gedeh, Kota Semarang, Rabu (28/7) malam. Di hadapan gubernur, mereka menyatakan komitmennya untuk ikut andil mengatasi Covid-19, terutama di wilayah Jateng.
Hal ini dibenarkan oleh Sahal Munir, Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jateng-DIY saat dimintai keterangan oleh Awak Manunggal via Whatsapp pada Sabtu (31/07) lalu. Kedatangan Aktivis Cipayung Plus ini tidak kontan, melainkan telah direncanakan sebelumnya di Kantor DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jateng pada Minggu (25/7).
Enam organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Aktivis Cipayung Plus berasal dari latar belakang yang berbeda. Mereka adalah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI).
Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, mereka sangat meyakini bahwa apapun latar belakang mahasiswa dan organisasinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan terkait munculnya sentimen etnis.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal sentimen organisasi. Kelompok Cipayung Plus Jateng sudah bersepakat dan berkomitmen untuk bergerak bersama di Jateng Ayo Bangkit,” yakin Sahal Munir.
Pernyataan tersebut pun mendapat tambahan dari Anto Prima Atmaja selaku Ketua Pengurus Koordinator Cabang Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Jateng.
“Kita bergerak atas nama kemanusiaan, maka identitas bukalan menjadi soal. Seperti apa yang pernah dikatakan guru bangsa, Gus Dur: apabila kamu bisa berbuat baik, orang tidak akan tanya apa agamamu,” imbuh Anto.
Sebagaimana keduanya, Hafis Darus selaku Sekretaris Jenderal Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) bahkan yakin bahwa apa yang mereka gagas dan kerjakan bersama-sama meski berbeda latar belakang itu justru menunjukkan kepada masyarakat Indonesia bahwa meskipun berbeda, mereka tetap bisa berhimpun, bergabung, dan bekerja bersama-sama.
“Di tengah polarisasi yang terjadi di tengah masyarakat semenjak pilpres 2014, kami ingin memberikan angin segar bahwasannya masyarakat Indonesia ini bisa bersatu. Kami Cipayung Plus ini dari banyak golongan agama, berbagai macam latar pemikiran dan ideologi. Harapannya kami ingin menunjukkan bahwasannya kami ini bisa gerak bareng,” ungkapnya.
Seperti dilansir dari mediaindonesia.com, gerakan “Jateng Ayo Bangkit” yang mereka gagas disambut baik oleh Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo. “Mahasiswa Jateng khususnya kelompok Cipayung ini tergerak untuk turut andil menangani pandemi Covid-19. Mereka punya ide dengan model gerakan yang sangat berbeda. Saya mengapresiasi karena mereka mau terjun ke lapangan secara langsung. Saya angkat dua jempol untuk mereka,” ungkap Ganjar.
Sementara terkait dengan alasan yang melatarbelakangi gagasan mereka itu, Anto menjelaskan bahwa gerakan tersebut bermula dari keprihatinan bersama terkait pandemi yang belum juga selesai. Pandemi ini mengakibatkan terdampaknya banyak sektor, terutama sektor ekonomi masyarakat menengah ke bawah. Hal ini diperkuat oleh Hafis.
“PPKM ini yang paling terdampak adalah masyarakat menengah ke bawah (UMKM, red). Upahnya harian yang apabila tidak ada pemasukan hari ini bisa jadi tidak makan. Makanya, kami melakukan audiensi, memberikan masukan kepada pak gubernur baiknya seperti apa,” tambah Anto kepada Awak Manunggal via Whatsapp, Minggu (1/8).
Adapun beberapa ide dan gagasan yang mereka sampaikan kepada gubernur antara lain mendata masyarakat dan pelaku UMKM yang rentan dan terdampak, juga mahasiswa terlibat dalam pendistribusian bantuan kepada masyarakat yang berhak. Sementara dalam bidang pendidikan mereka akan melibatkan diri dalam bentuk mendampingi belajar siswa dari tingkat SD sampai SMA. Harapannya, pembelajaran dapat berjalan lebih efektif mengingat masih banyak anak-anak yang belum memiliki device yang memadai untuk mengikuti pembelajaran daring.
Dalam bidang kesehatan, kelompok Aktivis Cipayung Plus diuntungkan dengan anggota mereka yang dominan merupakan mahasiswa jurusan kedokteran. Mereka menawarkan semacam aplikasi atau hotline dalam bentuk telekomunikasi. Melalui hotline ini, pasien yang terpapar Covid-19 dapat berkonsultasi dengan dokter-dokter yang sudah mereka sediakan. Di samping itu, dalam bidang kesehatan ini, mereka juga akan membantu men-tracking atau mendata orang-orang yang dapat menjadi pendonor kovalesen untuk diberikan kepada pasien yang membutuhkan.
Reporter: Diana Putri
Penulis: Diana Putri
Editor: Aslamatur Rizqiyah, Fidya Azahro
