
Gaya Hidup — “Laki-laki kok pakai pink?” mungkin terdengar biasa saja di kalangan anak muda. Kadang kalimat itu dilontarkan sambil bercanda, kadang hanya sebagai komentar spontan ketika melihat seorang laki-laki memakai kaus, kemeja, atau jaket berwarna pink. Namun, kalau dipikir lebih jauh, mengapa pilihan warna pakaian laki-laki masih bisa mengundang pertanyaan? Seolah warna tertentu seperti pink menjadi tanda bahwa seseorang kurang maskulin. Bagi perempuan, memakai pink hampir tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan. Warna pink sudah telanjur lekat dengan kesan feminin, lembut, dan manis. Berbeda halnya ketika warna yang sama dipakai oleh laki-laki. Komentar seperti “cewek banget” atau “kurang cowok” masih sering muncul di lingkungan masyarakat. Dari situ, persoalan yang hadir sebenarnya bukan lagi soal cocok atau tidaknya sebuah warna pada laki-laki. Ada persoalan yang lebih besar, yaitu anggapan bahwa laki-laki memiliki batas tertentu dalam berpenampilan dan ketika melewati batas tersebut, maskulinitasnya mulai dipertanyakan.
Anggapan bahwa pink identik dengan perempuan ternyata bukan sekadar perasaan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ishii dkk. (2019), pink telah lama diasosiasikan dengan perempuan, sedangkan biru lebih dekat dengan laki-laki. Dalam penelitian tersebut, laki-laki yang mengenakan pakaian berwarna pink berkaitan dengan kebebasan berekspresi dalam berpakaian dan sikap terhadap stereotip gender. Temuan tersebut menunjukkan bahwa warna pakaian dapat berkaitan dengan stereotip gender yang hidup cukup kuat di masyarakat.
Namun, apakah itu berarti warna pink memang secara alami merupakan warna perempuan? Tentu tidak sesederhana itu. Warna tidak lahir dengan identitas gender. Manusia yang kemudian memberi makna pada warna tersebut. Penelitian Jonauskaite dkk. (2021) menunjukkan bahwa dalam masyarakat Barat terdapat stereotip kuat yang menghubungkan pink dengan perempuan dan biru dengan laki-laki. Warna pink sudah diperkenalkan sejak kecil ketika orang tua memberikan pakaian, mainan, dan dekorasi kepada anak perempuan. Artinya, hubungan antara warna dan gender lebih banyak dibentuk oleh kebiasaan sosial serta cara masyarakat memberi label daripada sifat alami yang melekat pada sebuah warna.
Hal yang membuatnya menarik adalah stigma terhadap laki-laki yang memakai pink masih bertahan, meskipun dunia fesyen sudah jauh lebih terbuka. Warna-warna pastel makin sering digunakan dalam koleksi pakaian laki-laki karena memberikan nuansa cerah dan segar. Pink pun tidak hanya muncul pada pakaian yang sengaja dibuat feminin, tetapi juga pada kemeja, jas, kaus, hingga berbagai gaya fesyen gender-neutral. Hong dan Joo (2020) meneliti penggunaan warna pink dalam fesyen laki-laki dan menemukan bahwa warna tersebut dapat membentuk beragam citra, tergantung pada cara pakaian dan styling ditampilkan. Dengan kata lain, satu warna bukanlah representasi satu identitas tertentu. Pink pada pakaian laki-laki bisa tampil lembut, tetapi juga dapat terlihat modern, energik, atau bahkan maskulin.
Meski begitu, perubahan di dunia fesyen belum tentu langsung mengubah pola pikir seseorang. Seorang laki-laki bisa saja merasa nyaman memakai kemeja pink karena memang menyukai warnanya. Namun, kenyamanan tersebut kadang harus berhadapan dengan komentar dari teman, keluarga, atau orang di sekitarnya. Ada yang menganggapnya sekadar candaan, tetapi candaan seperti itu tetap membawa pesan bahwa laki-laki seharusnya tidak terlalu dekat dengan sesuatu yang dianggap feminin. Pada titik ini, pakaian bukan lagi hanya soal selera, melainkan ikut menjadi ruang tempat maskulinitas dinilai dan diawasi.
Perdebatan mengenai laki-laki dan pink juga pernah dibahas dalam penelitian Annamari Vänskä (2017). Ia mengkaji anak laki-laki yang menyukai warna pink dan hal-hal yang dianggap feminin. Vänskä mempertanyakan mengapa ketertarikan laki-laki terhadap warna pink justru sering dipandang sebagai sesuatu yang bermasalah. Penelitian tersebut menghubungkan persoalan warna, fashion, heteronormativitas, dan maskulinitas, sekaligus menunjukkan bahwa reaksi terhadap laki-laki yang menyukai pink tidak bisa dilepaskan dari standar sosial mengenai bagaimana laki-laki seharusnya bertingkah dan berpenampilan.
Di sinilah muncul pertanyaan yang mungkin agak menggelitik: sebenarnya siapa yang menentukan seorang laki-laki terlihat cukup maskulin atau tidak? Apakah sebuah kemeja berwarna hitam otomatis membuat seseorang lebih “laki-laki” daripada kemeja dengan potongan yang sama tetapi berwarna pink? Kalau jawabannya iya, berarti maskulinitas ternyata sangat rapuh sampai-sampai bisa berubah hanya karena warna pakaian. Sebaliknya, kalau jawabannya tidak, lalu mengapa komentar tentang “kurang cowok” masih terus muncul? Sebenarnya, sebuah warna tidak bisa menentukan maskulinitas seseorang. Anggapan tersebut muncul karena adanya stereotip sosial yang masih mengaitkan warna dengan gender. Jadi, masalahnya bukan pada warna pakaian, melainkan pada standar masyarakat yang masih menentukan bagaimana seorang laki-laki seharusnya berpenampilan.
Pada akhirnya, pink hanyalah warna. Hal yang membuatnya terasa berbeda ketika dipakai laki-laki adalah makna yang selama ini diberikan masyarakat terhadap warna tersebut. Tidak ada aturan yang mengatakan bahwa pink hanya milik perempuan, sama seperti tidak ada warna yang bisa menentukan tingkat maskulinitas seseorang. Namun, selama outfit masih dijadikan alasan untuk mengukur apakah seseorang sudah cukup “laki-laki”, persoalan sesederhana warna pun tetap bisa menjadi bahan perdebatan dalam pilihan berpakaian. Jadi, mungkin masalahnya bukan pada laki-laki yang memakai pink. Bisa jadi, masalahnya justru ada pada kita yang masih merasa perlu mengatur warna berdasarkan gender.
Penulis: Syifa Rifqotul Aola Syabeh
Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya



