PMB Hari Kedua: Mentan Buka Dialog Soal Pertanian Daerah

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat pemberian materi kuliah umum dalam rangkaian PMB Undip hari kedua pada Kamis (6/8/2026) di Gedung Muladi Dome. (Sumber: Manunggal)

Warta Utama – Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Diponegoro (Undip) hari kedua kembali diselenggarakan di Gedung Muladi Dome pada Kamis (6/8/2026). Kegiatan ini diawali dengan gladi bersih yang dilakukan pada pukul 07.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Kemudian, sidang pembuka acara PMB dimulai pada pukul 09.00 WIB dan dilanjutkan dengan rangkaian acara berupa laporan penerimaan mahasiswa baru (maba) oleh Wakil Rektor I hingga kuliah umum. Pada hari kedua, Undip menghadirkan Menteri Pertanian (Mentan) periode 2024-2029, Andi Amran Sulaiman, sebagai pembicara kuliah umum. 

Upacara PMB merupakan rangkaian pertama yang diikuti oleh maba dalam memulai perkuliahan, sehingga banyak dari peserta antusias menghadiri kegiatan. Hal ini tampak pada Atika Bahiyyah Faikoh, maba dari Program Studi (Prodi) Informatika, Fakultas Sains dan Matematika (FSM) yang mengaku berangkat lebih awal dari jadwal yang telah ditentukan.

Aku berangkat tadi sekitar jam 04.30 dan diantar pakai kendaraan pribadi,” ungkapnya saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Kamis (6/8/2026).

Kemudian, Nimas Delinda, maba Prodi Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) juga menyebutkan bahwa rangkaian PMB ini menjadi hal yang baru baginya.

First experience juga kan, makanya ini adalah pengalaman pertama jadi berharga sih,” tambahnya.

 

Mentan Membuka Dialog, dari Lahan Gambut hingga Kemerosotan Harga Komoditas Lokal

Salah satu rangkaian upacara PMB yang berhasil menarik perhatian adalah kuliah umum yang disampaikan oleh Mentan Andi Amran Sulaiman. Pasalnya, kuliah umum tersebut dilaksanakan secara dua arah, sehingga maba dapat menyampaikan aspirasi mulai dari latar belakang wilayah masing-masing hingga ekonomi keluarga. 

Tidak hanya sampai di situ, Mentan kembali membuka dialog di dalam ruangan yang terletak di area belakang Ballroom Muladi Dome setelah pemaparan kuliah umum darinya selesai. Dalam dialog tersebut, turut hadir empat maba dan beberapa perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip serta BEM Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP). Pada sesi tersebut, masing-masing dari mereka diberi kesempatan untuk membicarakan permasalahan daerahnya.

Anita Riani Purba, salah satu maba Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) mengutarakan keresahannya terkait harga jual kopi yang tidak sebanding dengan harga perawatannya. Hal ini terjadi di wilayah kediamannya, Sumatra Utara (Sumut).

“Yang saya ingin luruskan, harga dari hasil panen dari petani itu nggak sebanding dengan pengeluaran (read perawatan), kopi, pinang, coklat, itu harganya tidak sebanding sama pengeluaran (read perawatan),” tutur Anita saat berdialog dengan Mentan.

Ia juga menyebutkan, harga jual kopi mengalami kemerosotan lebih dari setengahnya. Pada awalnya, 1 kilogram (kg) kopi dapat mencapai Rp100.000, akan tetapi saat ini harga kopi hanya berkisar Rp50.000 hingga Rp45.000.

Menanggapi keresahan tersebut, solusi yang diberikan oleh Mentan adalah dengan pemberian bibit kopi dan pengolahan bibit kopi secara gratis kepada masyarakat Sumut.

“Coba catat alamatnya nanti. Kirimin bibit kopi nantinya. Ada kopi gratis dari pemerintah. Biaya kopi, biaya pengolahan gratis,” tutur Mentan.

Selanjutnya juga dibahas permasalahan lahan gambut di wilayah Kalimantan yang masih terbakar hingga saat ini. Kejadian tersebut disebabkan karena kurangnya resapan air akibat Mega Rice Project pada tahun 1996. 

“Gambut ini tuh, kalau misalnya air alaminya tidak ada, itu mudah gampang sekali terbakar di bawah tanah, Kak. Jadi untuk memadamkannya susah,” ungkap Menorah selaku perwakilan maba dari Kalimantan Tengah saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Kamis (6/8/2026).

Menurutnya, masifnya kebakaran hutan di wilayah Kalimantan layaknya bencana rutin yang menimpa masyarakat.

“Jadi dari tahun 1996 itu sampai sekarang, kebakaran hutan dan lahan itu tuh adalah event tahunan yang menjadi keluhan lah untuk masyarakat Kalimantan,” tambahnya.

Kemudian, aspirasi juga hadir dari Syifa (bukan nama sebenarnya) terkait permasalahan harga pupuk yang mahal dan hasil panen gabah yang mengalami penurunan.

“Gabah itu dari sawah belinya tuh biasanya tahun lalu, pokoknya sebelum panen tahun ini bisa dibeli enam juta atau nggak empat. Nah, ini cuma kemarin ditawar dua koma lima gara-gara pengepulnya katanya rugi,” ungkapnya saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Kamis (6/8/2026).

Menanggapi isu-isu tersebut, Mentan memberi arahan kepada asistennya untuk segera melakukan pengecekan terhadap daerah tersebut. Dalam dialog tersebut, ia juga menuturkan keputusannya yang telah memberhentikan dua direktur.

“Nah, kalau kamu bertanya begitu. Ini jantungnya nih. Ini, direktur baru-baru dua saya copot. Jadi, saya itu, Prof, nggak ada teman kalau sudah untuk rakyat,” jelasnya saat ditanya terkait solusi permasalahan pupuk.

Selain dengan maba, Mentan turut membuka dialog dengan perwakilan mahasiswa BEM FPP, dan perwakilan mahasiswa BEM Undip. Pada dialog tersebut, perwakilan BEM FPP menyampaikan hasil kajian yang menyoroti kemerosotan angka petani muda di Indonesia. 

Menanggapi hal itu, Mentan meminta bukti langsung layaknya foto atau dokumentasi yang menyebutkan kemerosotan petani muda.

“Petani muda ini regenerasi. Mana fotonya ada? Ada fotonya. Kita terima kalau Anda ada temannya,” jawab Mentan pada sesi dialog.

Selain itu, Mentan juga menambahkan permasalahan anak muda yang tidak tertarik terlibat dengan pertanian apabila tidak terdapat teknologi memadai layaknya traktor, drone, dan combine harvester.

Permasalahan selanjutnya yang juga menjadi bahasan adalah kriminalisasi petani yang terjadi di Dayunan oleh PT Soekarli. Pasalnya, walaupun warga memiliki Surat Hak Milik (SHM) atas lahan tersebut, kasus tidak dihentikan akan tetapi naik statusnya dan memasuki tahap penyidikan. 

Menanggapi hal tersebut, Mentan menyatakan bahwa hal itu bukan lagi ranahnya. Ia hanya mendengarkan aspirasi dari mahasiswa.

“Tapi ingat, karena bukan saya mengambil keputusan. Bukan di bawah saya. Cuma saya sampaikan aspirasi ya. Saya tidak tahu masalahnya. Kalau traktor yang minta, saya tanda tangan sekarang,” jawabnya.

 

Tanggapan Mahasiswa Terkait Solusi yang Diberikan Mentan

Dengan waktu yang terbatas, Mentan memberikan janji-janji terhadap berbagai permasalahan yang diutarakan. Mulai dari pemberian bibit kopi hingga pengecekan mafia yang berdampak pada pertanian di daerah tertentu. Terkait perihal ini, beberapa mahasiswa turut memberikan pendapat terkait solusi tersebut.

“Jujur, karena waktu itu saya kan terakhir yang menyampaikannya. Jadi Pak Menteri itu sudah buru-buru gitu. Jadi kurang ditanggapi mungkin ya,” ujar Aira selaku perwakilan maba asal Kalimantan.

Selain permasalahan waktu, terdapat pula solusi yang dirasa kurang sesuai, layaknya permasalahan sawit di lahan gambut Kalimantan.

“Jadi mungkin selain solusinya tadi, mungkin kan memang sawit lebih baik, kata Pak Menteri tadi, tapi mungkin bisa diberikan solusi yang lainnya, jangan hanya sekadar, oh iya tanam sawit ini bagus,” tambah Aira.

Kemudian, tanggapan datang dari mahasiswa yang membawa aspirasi terkait kriminalisasi petani Dayunan. Bagi mereka, permasalahan ini memang bukan ranah Mentan, akan tetapi mereka berusaha menyampaikan hal ini agar Mentan mau membantu petani yang dikriminalisasi.

“Kami tahu itu bukan tugas Kementerian Pertanian tapi setidaknya kami minta Menteri Pertanian untuk memberikan statement bahwasannya beliau bersedia menolong para petani yang telah dirampas hak hidupnya,” ungkap Rio selaku perwakilan BEM Undip saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Kamis (6/8/2026).

Selain itu, mahasiswa perwakilan BEM Undip juga berpendapat bahwa sebenarnya Mentan belum memahami permasalahan petani Dayunan, sehingga ia tidak memberikan solusi yang sesuai untuk permasalahan ini.

“Saya yakin dia belum punya solusi karena kita melihat dia aja nyebutin Menteri Perhutani, itu punya Perhutani. Padahal jelas itu bukan Perhutani. Jadi saya merasa bahwa Bapak Menteri belum paham terkait masalahnya,” ungkap Emil selaku perwakilan BEM Undip saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Kamis (6/8/2026).

Melalui dialog ini, mahasiswa sangat berharap Mentan mampu memenuhi janji-janji yang diberikan kepada mahasiswa dalam menangani berbagai permasalahan yang sudah diungkapkan. 

 

Reporter: Najwa Amar, Tialova R.A.

Penulis: Tialova R.A.

Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya

Scroll to Top