Reshestance: Ruang Ekspresi Mahasiswa Menyuarakan Kesetaraan Gender 

Pertunjukan monolog oleh Teater Emper Kampus (Emka) untuk memperingati International Women’s Day pada Senin (9/3) di Crop Circle FIB Undip (Sumber: Manunggal)

 

Peristiwa – Bidang Pemberdayaan Perempuan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (PP BEM FIB) menggelar kegiatan panggung bebas bertajuk Symphony Of Giving: A Stage for All (Reshestance) untuk memperingati International Women’s Day pada Senin (9/3),   pukul 15.00 hingga 17.00 Waktu Indonesia Barat (WIB) di Crop Circle FIB. Kegiatan tersebut menjadi bentuk pengekspresian gagasan dan pengalaman terkait perempuan dan kesetaraan gender. Sekitar delapan penampilan dibawakan oleh peserta dari berbagai fakultas Universitas Diponegoro (Undip) dengan konsep panggung bebas. Melalui konsep tersebut, peserta dapat menampilkan pesan yang ingin disampaikan melalui puisi, nyanyian, hingga monolog. 

 

Kegiatan tersebut diselenggarakan atas dasar berbagai permasalahan kesetaraan gender yang masih terjadi di lingkungan masyarakat. Hal itu mendorong pentingnya menghadirkan ruang bagi perempuan karena banyaknya isu yang kerap dihadapi mereka, seperti keterbatasan ruang berekspresi, akses kesempatan yang minim, serta kuatnya stereotip gender di lingkungan sosial. Mengingat perempuan pada dasarnya ialah individu dengan kontribusi besar dalam kehidupan sosial yang tentunya  juga memiliki hak, suara, dan peran yang setara di tengah masyarakat. Kegiatan ini menjadi upaya untuk meningkatkan kesadaran bagi masyarakat, khususnya di kalangan mahasiswa, bahwa kesetaraan gender merupakan salah satu kunci utama untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih adil dan inklusif.

 

Makna dan Peran Strategis Kegiatan 

Peringatan International Women’s Day yang bertepatan pada tanggal 8 Maret bukan hanya sekadar perayaan, tetapi merupakan salah satu momentum penting bagi perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya di kehidupan sosial. Hal tersebut menjadi pengingat akan pentingnya ruang yang setara bagi perempuan untuk menghadirkan kesempatan dalam menunjukkan potensi serta berpartisipasi aktif di tengah masyarakat. 

 

International Women’s Day itu penting, karena kita kan udah lama banget perempuan itu sering kali diabaikan dan tidak diberi panggung, sering kali tidak diberi tempat untuk take action lah, tidak diberi tempat untuk menampilkan dirinya,” ucap Kalyatri Khadira Pertiwi selaku ketua pelaksana kegiatan saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Senin (9/3).

 

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh salah satu peserta panggung bebas, Atikah Nur Hazimah, mahasiswa Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia FIB.

“Kadang-kadang kita sebagai perempuan kan dipandang sebelah mata, kayak memang gitu ya? Memang bisa ya? Karena mungkin apa yang kita ngomong itu (cara bicara) secara lembut,” ungkap Atikah. 

Sebagai seorang perempuan, Atikah memandang panggung bebas tersebut sebagai bentuk apresiasi kecil bagi perempuan. Ia meyakini bahwa eksistensi perempuan hadir dengan sejarah yang layak diapresiasi.

 

Dalam panggung bebas tersebut, motivasi Atikah untuk tampil beranjak dari hobi menulis yang ia tekuni. Atikah menampilkan pertunjukan berupa pembacaan puisi yang ia tulis untuk menyampaikan pesan dan perasaan melalui karyanya. 

“Bukan hanya sekedar membaca tulisan aku, tapi juga merasakan apa yang ada di dalam situ,” lanjutnya.

 

Atikah mengatakan, perempuan merupakan tema yang paling ia gemari ketika menulis puisi. Baginya, menulis apa yang ia rasakan tentang bagaimana dunia memandang perempuan merupakan upaya yang dapat ia lakukan untuk mendukung perempuan di Indonesia.

 

Melalui puisinya, Atikah menyerukan keberanian yang harus dimiliki perempuan untuk mendapatkan haknya. Tidak hanya itu, Atikah juga membahas ketulusan perempuan yang ia sebut sebagai ketulusan paling epic. Hal ini ia sebut tak lepas dari alasan bahwa perempuan juga hadir dari cerminan sosok ibu yang tulus pada anaknya.

 

Selain puisi, pesan yang dibawa oleh peserta disampaikan melalui berbagai gaya lain. Beberapa peserta membawakan pertunjukan dengan nuansa lembut hingga ceria. Akan tetapi, dengan berbagai genre yang dibawakan, pesan mengenai isu perempuan tetap menjadi poin utama dalam pertunjukan untuk menggambarkan realitas di masyarakat.

 

Berbeda dengan Atikah yang menyoroti ketulusan perempuan, Rahmat Hussein yang kerap disapa Hussein, mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB, menampilkan monolog dengan intensitas yang lebih keras dan berani. Penampilan tersebut merupakan pertunjukan dari Teater Emper Kampus (Emka), monolog dibawa dengan cerita pasangan suami istri bernama Ajo dan Rum yang menderita akibat kasus pelecehan seksual. Dalam cerita monolog, kasus pelecehan tidak hanya dialami oleh Rum, istri Ajo, yang merupakan pekerja seks komersial. Ajo yang digambarkan sebagai laki-laki berparas cantik juga menjadi korban kekerasan seksual oleh laki-laki di lingkungannya. 

 

Menurut Hussein, kekerasan seksual menjadi isu yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari perempuan di masyarakat, salah satunya di lingkungan kampus. 

Kita lihat saja kasus terakhir kali ini ada kan catcalling sampai itu diliput oleh BEM Undip sendiri. Itu membuktikan bahwa walaupun sudah di sini, pelecehan itu tetap ada,” ujar Hussein. Melalui pertunjukan monolog, Hussein berupaya memberikan gambaran atas derita korban kekerasan seksual. Penyampaian pesan melalui monolog menjadi cara membangun emosi penonton untuk menyadari realitas yang dihadapi perempuan. 

 

Meskipun membawa pesan yang berbeda dalam penampilan, Atikah dan Hussein membawa satu suara yang sama dalam memandang ketimpangan sosial yang terjadi akibat diskriminasi gender. Keduanya memandang bahwa perempuan sering dianggap rendah dalam masyarakat. Oleh karena itu, bagi Atikah dan Hussein, panggung bebas untuk memperingati International Women’s Day merupakan kegiatan yang penting dilakukan dan harus terus berjalan untuk meningkatkan kesadaran atas diskriminasi gender dan apresiasi terhadap perempuan.

 

Panggung bebas tidak hanya memberikan ruang pertunjukan seni bagi peserta, tetapi juga menjadi wadah untuk menyampaikan berbagai pandangan mengenai isu perempuan. Melalui pertunjukan, peserta berupaya memberi kesadaran, pemahaman, serta refleksi terkait realitas sosial yang masih dihadapi perempuan.

 

Daffa Alif Rizki, selaku penanggung jawab kegiatan sekaligus Ketua BEM FIB Undip, mengungkapkan harapannya agar kegiatan panggung bebas dapat memberikan kesadaran pada mahasiswa terkait isu perempuan. 

“Semoga makin banyak yang aware soal isu keperempuanan, sih, karena memang banyak banget orang yang mengobjektifikasi perempuan, kan,” ujar Daffa saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Senin (9/3).

 

Melalui panggung bebas tersebut, peringatan International Women’s Day menjadi ruang refleksi agar mahasiswa lebih peka terhadap isu perempuan, sehingga peringatan ini tidak hanya menjadi perayaan simbolis, melainkan juga menjadi kilas balik historis perjuangan serta apresiasi untuk perempuan di seluruh dunia.

 

Reporter: Anindya Malka Alyfa, Najwa Amar Hanindya, Tialova Rafita Azzahra

Penulis: Anindya Malka Alyfa, Najwa Amar Hanindya

Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya

 

Scroll to Top