Warta Utama – Bergeser ke Fakultas Teknik (FT), Memorandum x Memoar Festival selesai digelar di Taman Teknik pada Selasa, (23/9). Kegiatan ini merupakan kolaborasi bidang Sosial Politik (Sospol) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FT dengan Sospol BEM Universitas Diponegoro (Undip). Dengan mengusung tema “Semanggi I dan II”, sospol berhasil mengundang publik yang tidak hanya dari dalam FT itu sendiri, tetapi juga berbagai partisipan dari fakultas lain.
Menilik banyaknya kejadian sejarah di September Hitam, Hafidz Alimansyah Riantio selaku Project Officer (PO) Memorandum 2025 mengaku bahwa ia dan tim menetapkan tema Semanggi I dan II karena linier dengan rumpun keteknikan.
“Karena Semanggi I dan II ini bukan hanya kekerasan doang yang di highlight. Tapi juga ada kerusakan dari infrastruktur, makanya kenapa kita itu membawa infrastruktur biar selaras dengan unsur keteknikan yang dimana itu ada pembangunannya,” jelas Hafidz.
Hafidz juga mengaku bahwa kolaborasi dengan BEM Undip dirasa cukup baik sehingga selama keberjalanan Memoar Festival mampu dikatakan sukses.
“Kita itu tektokan dengan BEM Undip secara baik. Kita sering mengadakan rapat itu, ya, dua minggu sekali atau sampai dua minggu dua kali. Karena bisa dilihat juga di sini acaranya itu berjalan dengan baik.”
Ketua BEM FT 2025, Deni Bayu Dian Kisworo turut hadir di Memoar Festival. Ia menyampaikan bahwa memorandum ini merupakan inisiasi baru dari BEM FT di tahun ini, dan merupakan memorandum kedua setelah peringatan Hari Kartini.
“Kita di sini ingin warga teknik juga tidak buta akan politik, dan ikut memperingati hari-hari yang memang sudah semestinya kita kenang untuk merawat ingatan kita bersama,” tutur Deni ketika diwawancarai Awak Manunggal pada Selasa, (23/9).
Menilik teknik yang merupakan rumpun sains dan teknologi (saintek) dan tidak rekat dengan isu sosial politik. Ia sangat mengapresiasi mahasiswa teknik yang turut hadir untuk kembali merawat ingatan.
“Aku sangat-sangat mengapresiasi lah kehadiran teman-teman, baik dari teknik maupun luar teknik, yang memang di sini mereka membuktikan kalau mereka tidak cuma diam sebagai mahasiswa.”
Deni juga menyampaikan kehadiran di malam itu sudah sangat membuktikan bahwa mahasiswa teknik tetap peduli dengan isu yang terjadi di Indonesia, baik di masa kini maupun masa lampau.
“Bagiku, seenggaknya masih ada orang-orang yang memang di sini peduli, masih ada segelintir orang-orang yang memang mau untuk meluangkan waktunya sedikit, untuk merawat ingatan,” lanjut Deni.
Ia turut menyinggung peran dan kepekaan mahasiswa teknik dalam turun ke lapangan untuk bersuara. Baginya, mau tidak mau kehidupan politik akan berimbas pada dunia perteknikan, sehingga mendorong mahasiswa teknik untuk turut prihatin dengan kondisi Indonesia saat ini.
“Ibaratnya saat kita ada turun aksi ke lapangan, teknik yang dulu paling di bawah 10 orang sekarang sudah mulai bisa menyentuh angka di atas 100-150 itu sudah mulai banyak. Sekarang mereka merasakan dunia keteknikan pun kena imbasnya,” ujar Deni.
Hal ini selaras dengan apa yang dirasakan oleh Hafidz yang juga setuju bahwa meskipun diskusi yang dilaksanakan perihal dengan isu sosial, tetapi kehadiran mahasiswa teknik sudah melampaui ekspektasi.
“Untuk kami sebagai teknik sendiri itu sudah menganggapnya ramai. Berarti sudah lebih baik daripada dulu.”
Ia juga menyoroti mahasiswa teknik yang semakin aware untuk turut bergabung ke jalan maupun diskusi publik seperti pada malam itu.
“Karena bisa dilihat juga dari aksi-aksi kemarin, itu anak-anak teknik itu lumayan, atau kita bisa dibilang ini, menyumbang massa terbanyak di aksi Undip ini. Baik dari diskusi, baik dari aksi, baik dari aksi kolektif apapun itu, anak-anak FT sudah mulai sadar,” tutur Hafidz.
Aulia Lutfiati, salah satu mahasiswi Program Studi (Prodi) Teknik Lingkungan angkatan 2024 menganggap melalui acara Memoar Festival ini ia menyadari bahwa isu politik dapat disampaikan dan dikemas dengan seni. Hal tersebut yang kini menjadi cara unik dan menyenangkan untuk kembali merawat ingatan dengan kegiatan yang mengundang khalayak ramai.
“Memorandum kan salah satu bentuk di mana kita bisa berdialektika bentuk festival. Biar kita juga bisa having fun bareng. Maksudnya politik itu bisa disuarakan dalam berseni juga,” ujar Aulia.
Aulia mengaku bahwa ia bukanlah seorang yang terlalu mengikuti isu perpolitikan, tetapi dengan kehadiran Memoar Festival ia setuju bahwa kesadaran politik itu harus terus tumbuh dan menyadarkan para mahasiswa.
“Maksudnya kan everything is politik, dalam hal ini juga kita tetap menyatu dengan politik meskipun kita tidak sebenarnya tahu, tapi kita harus sadar kalau politik tuh beneran ada dan kita sadar akan hal itu,” tutur Aulia.
Serupa dengan tujuan Hafidz yang memprioritaskan bakat seni mahasiswa teknik untuk turut berkesempatan tampil mengisi hiburan di malam Memoar Festival.
“Ini juga ajang pembuktian bakat juga dari himpunan-himpunan, ya, dimana kita juga mengundang-undang band-band dari tiap himpunan gitu. Jadi memang pertolongannya dari teknik itu sendiri.”
Pada akhirnya, politik bukanlah hanya milik mereka yang belajar teorinya di dalam kelas, tetapi milik siapapun yang merasa terancam dan sadar bahwa pergerakan sederhana mampu menghidupkan kepedulian khalayak ramai.
Reporter: Hanifah Khairunnisa, Salwa Hunafa, Naftaly Mitchell
Penulis: Hanifah Khairunnisa
Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah