Warta Utama – Bidang Sosial dan Politik (Sospol) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menyelenggarakan acara September Hitam di Parkiran FISIP, Universitas Diponegoro (Undip) pada Selasa (23/3). Acara ini mengusung tema “Jejak Luka, Jejak Bangsa”.
September Hitam merupakan pemantik ingatan banyak peristiwa pelanggaran hak-hak masyarakat yang direnggut pemerintah. Hal ini dilanggengkan oleh seluruh fakultas di Undip, salah satunya FISIP. Dengan tema yang dibawakan, FISIP berupaya untuk membangkitkan kesadaran di lingkup mahasiswa mengenai peristiwa yang terjadi pada bulan September lampau.
Penyelenggaraan September Hitam di FISIP dimulai sejak pukul 15.00 hingga 17.30 Waktu Indonesia Barat (WIB). Project Officer September Hitam FISIP 2025, Aura Novitri, mengatakan bahwa untuk melancarkan kegiatan ini juga mereka turut berkolaborasi dengan Ta.raxacum, yaitu sebuah lapak buku yang turut memeriahkan acara September Hitam dengan menyediakan lapak baca buku gratis.
Penampilan Panggung Bebas Mahasiswa Sebagai Puncak Acara Partisipatif
Acara September Hitam FISIP dimulai dengan penampilan dari perwakilan mahasiswa tiap program studi (prodi) yang ada di FISIP, kemudian dilanjut dengan panggung bebas oleh mahasiswa luar FISIP. Aura mengatakan bahwa hal ini merupakan upaya untuk menggaet mahasiswa FISIP agar bersuara melalui panggung bebas yang telah disediakan.
“Nah, jadi aku rasa untuk kali ini kenapa nggak kita coba untuk maksimalin, memberdayakan potensi anak-anak gitu, loh. Karena kalau kita diskusi juga kita butuh waktu yang cukup panjang juga,” jelas Aura saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Selasa (23/9).
Hal yang membedakan acara September Hitam dari tahun-tahun sebelumnya adalah penampil terbaik dalam acara ini diberikan reward, berupa buku. Hal ini merupakan salah satu langkah untuk menggerakkan agar mahasiswa dapat tampil secara maksimal di acara panggung bebas.
Muhammad Daffa Alfirossy selaku Ketua BEM FISIP tahun 2025 mengemukakan bahwa hal yang membedakan acara ini dari yang lain adalah Sospol BEM FISIP mengemasnya menjadi lebih partisipatif.
“Tidak ada petak-petak kita menyampaikan kasus apa, tapi lebih bagaimana kita mengkontekstualisasikan hari ini sebagai masyarakat FISIP lebih sadar untuk bisa punya identitas yang sama dan juga menghargai agar rawatan ini dapat diingat terus-menerus,” tutur Daffa saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Selasa (23/9).
Daffa turut mengatakan bahwa mahasiswa perlu memanfaatkan ruang bersuara dalam mimbar akademik untuk terus aktif bersuara. Perlunya keselarasan dengan semua pihak agar ruang dialektika dapat dikuasai oleh seluruh masyarakat, terutama FISIP sebagai fakultas multidimensional.
Lika-Liku Persiapan Acara September Hitam
Persiapan yang dilakukan panitia dalam upaya melancarkan kegiatan ini adalah selama 3 bulan. Promosi masif di media sosial maupun mulut ke mulut mengenai acara September Hitam ini dilakukan panitia agar dapat menarik partisipan dari mahasiswa, baik dari FISIP maupun fakultas lain. Persiapan ini dilakukan dengan memberdayakan bidang Sospol BEM FISIP itu sendiri dalam melangsungkan acara.
Terlepas dari kelancaran acara ini, masih terdapat beberapa hambatan. Salah satunya terkait masalah perizinan yang membatasi panitia. Mulai dari keterbatasan izin menyebarkan selebaran yang berisi sejarah maupun izin untuk menyelenggarakan untuk melakukan acara hingga malam hari. Karena itu, Aura menekankan pentingnya preparasi secara maksimal sebelum acara dimulai.
“Tapi perizinan di FISIP ini cukup susah. Bahkan hingga tadi siang itu masih problem tentang diperbolehkan atau nggak kita nyebarin selebaran. Padahal isinya sejarah. Nggak propaganda mencuat-cuat pemerintah banget. Tapi dari akademik cukup sulit untuk perizinannya,” jelas Aura.
Hal serupa juga disampaikan oleh Daffa, bahwa masih terdapat kendala untuk terus mematuhi aturan fakultas.
“Walaupun dibilang (red, terdapat) beberapa kendala, mungkin hari ini kita masih harus berlindung dengan aturan-aturan, tapi kita dorong, kita luruskan bahwa tim ini merupakan hak bagi setiap yang bernegara di Indonesia untuk menyuarakan.”
Ia juga kemudian menambahkan bahwa kesuksesan acara ini juga dicapai dengan adanya kerja sama dengan fakultas yang senantiasa mendukung penyelenggaraan acara. Meskipun secara umum, masih terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh panitia acara dalam menyelenggarakan acara September Hitam.
“Jadi ini terbentuk juga karena kerja sama dengan fakultas yang mereka senantiasa support, mereka senantiasa mendukung, terputus juga dengan hadirnya beberapa elemen civitas juga yang mendatangi acara ini dan men-support, dan kita juga berupaya untuk tertib,” jelasnya.
Melanggengkan Acara September Hitam untuk Merawat Ingatan Bersama
Aura menyampaikan bahwa acara seperti ini ditujukan agar meningkatkan awareness mahasiswa mengenai sejarah kelam Indonesia, sebagai ruang untuk terus mengingat perjuangan yang telah dilakukan oleh masyarakat, terutama elemen mahasiswa yang tidak diam akan penindasan. Ia menekankan pentingnya mahasiswa FISIP untuk terus merawat ingatan dan tidak melupakan sejarah.
“Kita harus aware gitu dengan sosial politik yang ada di sekitar kita, bahkan hingga sejarahnya juga gitu. Karena kita berada di titik ini, nggak lepas dari sejarah juga gitu,” tambahnya.
Acara September Hitam merupakan ruang penuh harapan agar mahasiswa dapat terus berekspresi dengan luas. Daffa juga turut mengatakan bahwa besar harapan bahwa di tahun berikutnya kita senantiasa tidak akan memudarkan suara dan bisa terus merawat ingatan perjuangan.
September Hitam diharapkan dapat merawat kenangan sehingga tidak akan pudar dimakan waktu. Dengan acara ini, mahasiswa diharapkan dapat terus saling merangkul untuk terus menumbuhkan semangat perjuangan sehingga sejarah akan terus membara di dalam jiwa.
Reporter: Dhini Khairunnisa, Hanifah Khairunnisa, Shellin Ghaisani
Penulis: Dhini Khairunnisa
Editor: Nurjannah, Nuzulul Magfiroh