Warta Utama – Journalism Festival (Joufest) kembali digelar oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Manunggal sebagai agenda tahunan yang ditunggu-tunggu. Pada tahun ini, Joufest mengangkat tema “Eksplorasi Harmoni: Berkarya melalui Kata, Bertumbuh melalui Makna”. Acara berlangsung pada Sabtu (13/9) di Gedung Kewirausahaan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), Universitas Diponegoro (Undip).
Ketua Pelaksana Joufest 2025, Yovita Restu, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya menekankan pentingnya literasi dalam kehidupan sehari-hari. “Literasi bukan sekadar membaca dan menulis, melainkan juga kemampuan memahami, menginterpretasi, serta mengolah informasi yang sekarang hadir dalam berbagai media dan bentuk,” ungkapnya.
Joufest 2025 menghadirkan dua rangkaian utama, yakni workshop dan talkshow. Pada sesi workshop, peserta diajak untuk mengembangkan softskill sekaligus hardskill di bidang literasi digital. Workshop menghadirkan Irin Iriani, content creator sekaligus presenter, yang membawakan materi tentang Digitalisasi Informasi.
Dalam pemaparannya, Irin menjelaskan pentingnya menyaring informasi dengan tepat, memahami kebutuhan audiens, serta menyajikan konten yang strategis dan bermanfaat. Tak berhenti pada teori, peserta juga diberi kesempatan untuk praktik langsung. Mereka dibagi dalam kelompok besar untuk membuat skrip dan gambaran konten video berdasarkan materi yang telah dipelajari. Suasana interaktif tercipta, peserta tampak antusias berdiskusi, menyusun ide, hingga mempresentasikan hasil karya mereka di hadapan pemateri. Melalui sesi ini, peserta diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi efektif, serta menghasilkan karya digital yang relevan dengan kebutuhan publik.
Acara kemudian dilanjutkan dengan talkshow interaktif bersama Adit MKM. Ia merupakan seorang penulis buku Masa Depan yang Tidak Boleh Dibicarakan sekaligus content creator, bersama moderator Choirul Ulil Albab, alumnus LPM Manunggal yang kini sukses berkarier menjadi dosen dan presenter. Pada sesi ini, Adit menekankan bahwa literasi merupakan sarana pengembangan diri, mengutamakan kualitas bukan sekadar soal kuantitas bacaan.
Menyusur banyaknya fenomena saat ini, dimana banyak generasi muda yang hanya membaca tanpa menyelami makna dari setiap kata dan langsung bergegas menuntaskan bacaan untuk sekadar menjawab curiousity yang tercipta. Melihat pola ini, Adit sebagai seorang penulis buku tak lelah memberikan suntikan – suntikan nasihat kepada generasi muda. “Lebih baik kita memahami nilai dari sebuah buku dan mengaplikasikannya terlebih dahulu, baru melangkah ke bacaan berikutnya,” ujarnya.
Adit juga menyoroti tingginya minat baca masyarakat Indonesia, yang sering kali terhambat oleh akses dan harga buku yang masih tergolong mahal. Meski begitu, semangat audiens yang antusias bertanya dan berbagi pandangan menjadi bukti bahwa literasi tetap memiliki daya tarik kuat. Diskusi berkembang ke berbagai topik, mulai dari strategi pengembangan diri hingga rekomendasi buku yang penuh insight.
Di penghujung sesi, Adit berpesan agar generasi muda tidak takut pada kemajuan teknologi. Sebaliknya, teknologi seharusnya menjadi mitra untuk memperkuat peran literasi di era digital.
Menilik kesuksesan acara yang diselenggarakan, Hildha, salah seorang peserta memberikan apresiasi kepada panitia Joufest 2025 karena telah menyelenggarakan acara dengan kemasan yang interaktif dan mengedepankan kebermanfaatan. “Speakernya relate banget mungkin karena gap (jarak) generasinya tidak terlalu jauh ya, jadi selama pemaparan berlangsung peserta tidak ngantuk dan justru asik banget,” tuturnya.
Faisal Kamaludin Malik, juga menambahkan bahwa harapannya acara seperti ini akan diperbanyak lagi karena sangat bermanfaat untuk menambah keterampilan dan pengetahuan.
Melalui kombinasi workshop dan talkshow, Joufest 2025 berhasil menciptakan ruang belajar yang hangat sekaligus inspiratif. Lebih dari sekadar festival, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa literasi adalah fondasi penting untuk berkarya, berkolaborasi, dan terus menumbuhkan makna di tengah derasnya arus informasi digital.
Reporter: Yovita Restu, Oktavia Dwi
Penulis: Oktavia Dwi
Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah