Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah: Beban Ganda Perempuan

Film – Kehidupan yang penuh pesona setelah pernikahan, tidak serta-merta dicicipi oleh perempuan. Alasannya sederhana, terlalu banyak yang harus dipikul sehingga kebahagiaan  yang seharusnya hadir justru bisa jadi hanyalah bualan semata. Hal ini bukan semata-mata karena salah pilih pasangan, karena ini hanyalah salah satu dari banyak variabel lain, tapi juga karena buramnya kepekaan akan tanggung jawab. Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah adalah contoh nyatanya. Meski tidak mewakili problema kehidupan rumah tangga secara penuh, tapi berhasil merepresentasikan kehidupan pernikahan yang kejam bagi perempuan.

Setelah menikah, mungkin semuanya berubah sebab cinta tidak bisa memberi makan, tidak bisa membeli beras dan susu anak. Ibu dan Ayah harus bekerja ekstra karena beban hidup lebih besar sedari masa pacaran dahulu. Pernikahan seringkali jadi kontrak, siapa yang akan bekerja lebih giat, siapa yang di rumah dan bertanggung jawab akan keseharian yang tidak pernah diurus sebelumnya selama masa pacaran. Namun, tak pernah menyiratkan kesepakatan yang logis, bila salah satu diantaranya gagal, sedih, kecewa, apakah akan ada yang mau bangkit pelan-pelan tanpa merepotkan pasangannya?

Cerita ini merampungkan perkara yang tidak pernah tersirat secara terang-terangan. Bahkan, jauh dari perbincangan politik, ekonomi dan hal sosial lainnya. Ayah dan Ibu yang semula saling cinta, menikah dan punya anak. Ingat bahwa kita semua juga anak. Tidak pernah menceritakan bagaimana Ibu mengurus anak dan suaminya. Kemudian, bekerja banting tulang. Sedang Ayah yang seringkali hadir secara fisik, tetapi hilang secara harfiah menafikan kasih sayang sehingga anak tak bisa mengandalkan siapapun selain Ibu. Anak-anak yang memerlukan ayahnya justru kehilangan kasih sayang lebih dini sehingga Ibulah yang bisa diandalkan. Ayah yang lupa bahwa ia adalah Ayah membuat rumah begitu muram dan dingin.

Ibu Tiang Kehidupan

Wulan (diperankan Sha Ine Febriyanti) yang dalam film ini sebagai Ibu memiliki 3 orang anak bernama Anis (diperankan Eva Celia Latjuba), Alin (diperankan Amanda Rawles), anak terakhir Asya (diperankan oleh Nayla Purnama) dan Tio sebagai Ayah (diperankan oleh Bucek Depp). Pada awal film, secara terang-terangan menunjukkan Ibu yang selalu diandalkan. Apapun untuk segala hal di rumah, Ibulah yang tahu. Ibulah yang paham. Ibulah alasan. Mereka bertiga menaruh jawaban atas perkara-perkara di rumah pada pundak Ibu. 

Begitu ketara peran Ibu yang selalu melekat, bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Apapun yang tidak kelihatan, mungkin Ibu tahu di mana. Segala yang menyusahkan, Ibu dengan cekatan memainkan perannya, bahkan seringkali mendahului Ayah. Sedangkan, Ayah yang harusnya berperan setidaknya sama dengan kekuatan yang Ibu punya, justru hilang di dalam rumah itu.

Wulan bekerja sebagai tukang laundry untuk memenuhi kehidupan keluarganya. Anak pertamanya, Anis sudah menikah dan memiliki anak. Anak tengah, Alin kuliah kedokteran dan si bungsu, Asya masih sekolah. Kebutuhan untuk tetap hidup semua ditanggung oleh Wulan. Siang-malam banting tulang untuk menafkahi keluarga. Untuk menjawab pertanyaan anak-anaknya yang jumpalitan apabila ia sedang di rumah. Memasak untuk anak-anaknya dan mempersiapkan segala hal agar anak-anaknya bisa hidup dengan baik.

Sehabis mengerjakan pekerjaan rumah dan satu-persatu anaknya pergi untuk beraktivitas, Wulan akan pergi ke ruko laundry mereka yang ada di ujung jalan. Sesekali bila pelanggan manja, maka ia menjemput pakaian kotor. Seharian berada di ruko, untuk mencuci, memilah pakaian, menjemur hingga menyetrikanya membuat tubuh Wulan jadi begitu ringkih. Dalam film sosoknya terlihat begitu kurus, seadanya dan pucat. Hal ini pula yang barangkali menyebabkan ia pada akhirnya menderita kanker pankreas. Sebuah kenyataan pahit yang menghantam kehidupannya di sela ia mengurus rumah, anak dan suaminya. 

Anis sebagai anak pertama berupaya untuk mencari kerjaan setelah suaminya pergi dan terpaksa ia mengurus anak semata wayangnya, Nando. Di sela ia mencari pekerjaan, dengan semua usaha, keringat dan jerih payah, sang Ibu tidak pernah menghakimi. Bila belum mendapat pekerjaan, Ibunya lah yang akan menyokong keuangan untuk segala kebutuhan yang diperlukan Anis. Wajar bila anak pertama ini merasa berutang budi dan berupaya jadi tameng bagi Ibunya apabila melihat sang Ayah temperamental tanpa sumbangsih apapun untuk kehidupan mereka.

Alin, anak tengah yang sedang menempuh kuliah kedokteran, mendapat beasiswa uang kuliah, dan tengah menempuh skripsi. Dulunya ia jarang pulang ke rumah, tapi saat menempuh semester akhir, Alin memutuskan untuk menetap di rumah. Anak tengah yang jauh dari keluarga menyaksikan bagaimana kehidupan yang ia tinggal jauh selama ini. Alin terkejut, dan kerap berbaik sangka pada sang Ayah – sesuatu yang tidak dilakukan oleh kakak dan adiknya- tapi tidak melunturkan kasih sayangnya terhadap Ibu. Dia melihat bagaimana sang Ibu banting tulang untuk memenuhi kehidupan kuliahnya dan berupaya bertanggung jawab dengan bekerja seharian.

Asya, anak bungsu yang masih sekolah jadi kacamata dan telinga bagi semua perkara yang terjadi di rumah; debt collector yang mendatangi rumah untuk menagih hutang Ayah, Ibu yang bekerja tanpa henti untuk rumah dan keuangan keluarga, serta Ayah yang tidak pernah pulang kecuali hanya untuk makan dan tidur. Asya yang minim kekuatan, tapi mampu jadi penengah setiap kali sang kakak bertengkar. 

Ibu berperan besar dalam kehidupan mereka. Selain mendukung dari segi materi, juga mendukung dari segi impian, harapan, doa dan senyuman. Sesuatu yang tidak kasat mata tetapi begitu diperlukan anak-anak dalam masa bertumbuh dan belajarnya. Ibu berupaya hadir dan menjawab setiap kali mereka memanggil. Ibu berperan sebagai Ayah dalam menghidupi kebutuhan sehari-hari. Ibu mengerjakan hal-hal yang seharusnya dilakukan Ayah. 

Wulan dalam cerita ini ditampilkan begitu tangguh dan kokoh. Menggantikan peran suami yang hilang bagi anak-anaknya. Jadi pencari nafkah untuk kebutuhan rumah tangganya. Jadi tumpuan hidup dalam sebuah keluarga yang semula bahagia dan baik-baik saja, tetapi karena ulah suami yang tidak berkenan untuk pulih dan bangkir, maka kekuatan serta ketabahan lah yang jadi harga bayar.

Ayah yang Hilang Secara Harfiah 

Ayah sering hadir secara fisik. Dia ada, nyata dan hidup sehari-hari dengan kita. Namun dalam film ini diceritakan bagaimana sosok Ayah hilang dan seolah ia pergi tamp berupaya mencurahkan kasih-sayang. Tanpa berupaya menyanggupi permintaan serta keinginan anak-anaknya. Seringkali Ayah hadir secara tubuh, tapi melupakan tanggung jawabnya sebagai suami dan bapak. 

Dalam cerita ini, mulanya Tio adalah orang yang sukses, yang mengajak Wulan untuk hidup mengarungi bahtera rumah tangga sebagaimana mestinya. Namun suatu hari, dia dan kesuksesannya habis dilahap oleh takdir yang membuat keluarga mereka merosot ke dalam keterpurukan. Sesuatu yang begitu mencekam sehingga membuat Tio merasa kalah dan sekalian basah kuyup dengan melakukan hal-hal yang membuatnya jarang di rumah; dia berjudi, merokok, berutang.

Bukan hanya anak-anak yang malu menyaksikan Ayah yang tidak bertanggung jawab dan jadi tukang utang, tapi juga istri yang memiliki beban berkali-kali lipat karena selain bekerja juga harus membayar utang suaminya. Anak-anak yang tumbuh tanpa kasih sayang Ayah, dan menyaksikan rumah yang hanya ditopang oleh Ibu seorang tidak menutup kemungkinan akan melahirkan anak yang rapuh dan ragu. Wajar bila sepanjang film menyoal tentang peran Ayah, ada desakan air mata yang membuat kita semua juga turut mempertanyakan perannya selama ini.

Semua dikerjakan oleh Ibu dan Ayah hanya berfoya-foya membuat Anis benci terhadap Ayahnya. Hal ini secara terang-terangan ia tunjukkan. Sedangkan, Alin yang tidak mengetahui akar persoalan kerap berbaik hati pada sang Ayah. Dan anak terakhir, Asya, sosok yang paling mampu memaklumi dan menepis rasa sakitnya sendirian, ketidakhadiran Ayah membuatnya paham bahwa ia tidak harus mendengarkan Wulan dan Tio yang bertengkar dan memaklumi segala yang terjadi di rumah.

Peran Ayah hilang bagi Anis, Alin dan Asya. Ayah hadir hanya secara fisik bagi mereka namun tiada dalam memberikan kasih dan rengkuhan yang mereka perlukan saat kehidupan terasa begitu kejam. Mereka hanya mampu mengharapkan Ibu yang perlahan rapuh dan ringkih. Wajar bila di detik-detik terakhir terbit sebuah perandaian; seandainya Ibu tidak menikah dengan Ayah mungkinkan kipas yang rusak karena mereka bertengkar akan tetap rusak? Mungkinkah mereka akan hidup sesuram ini? Mungkinkan Ibu mereka meninggal lebih dulu?

Genteng yang Bocor

Sekali pun Ibu harus menjalani hidup seperti ini ribuan kali, Sayang…

Memilih keputusan-keputusan yang mungkin salah

Ibu akan lakukan lagi karena Ibu ingin melihat wajah kalian

Anak-anak Ibu

Dan Ibu ingin bersama dengan kalian

Sebuah kalimat yang dituliskan Wulan dalam buku hariannya, saat Alin bertanya bagaimana dulu Ibu dan Ayahnya bertemu. Bagi Wulan, segalanya tentang Tio, suaminya merupakan sesuatu yang memang sudah seharusnya. Ia memilih dan pilihan itu berjalan bersama keputusan-keputusan yang ia buat.

Suatu kali atap rumah mereka bocor. Tidak ada Ayah di rumah. Di tengah guyuran hujan dan mati lampu, Ibu naik ke atas genteng untuk menutupi bagian yang bocor. Setelah selesai mengepel, hujan reda tetapi lampu masih mati, Ayah datang dan bertanya, “kenapa? Ada apa ini?” Sebuah pertanyaan dari sosok yang harusnya paling bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di rumah.

Bocornya genteng mereka adalah bolongnya sesuatu di dalam kehidupan dalam rumah itu. Absennya kasih sayang Ayah dan hilangnya peran suami. dampaknya tentu akan meluber ke mana-mana. Istri yang memikul beban ganda – sebagai Ibu sekaligus pencari nafkah pengganti Ayah, anak-anak yang kehilangan kasih sayang Ayah dan menyimpan kesumat karena menyaksikan sang Ibu banting tulang sendirian. Serta traum-trauma tak kasat mata yang sebenarnya tumbuh subur di hati anak saat melihat dan menyaksikan orang tuanya tidak menempati peran sebenar-benarnya. 

Sesuatu yang bolong dan bocor itu menjadikan Anis apatis terhadap Ayahnya, menjadikan Alin berprasangka buruk terhadap Ibunya dan berulang kali menolak ajakan kekasihnya untuk menikah, serta senyum-senyum yang penuh kebohongan oleh anak bungsu, Asya. Wulan sebagai istri juga berupaya untuk menutupi ‘bolong’ itu dengan membayar utang suaminya, menghidupi anak-anaknya, dan mengurus pekerjaan rumah. Sesuatu yang serangannya amat bertubi-tubi dan Wulan selalu berupaya tabah.

Ayahmu bukan orang jahat, dia hanya kalah

Begitu kalimat defensif Wulan saat ia menceritakan pada Alin bagaimana permulaan kisah pertemuannya dengan Tio, suaminya. Baginya, segala yang ia kerjakan adalah karena ia mengasihi anak-anaknya. Ia sayang kepada ketiga putrinya dan ia tidak ingin membuat mereka kehilangan Ayah hanya karena ia enggan melakukan yang sudah dia lakukan. Per hari ini, kita juga sering mendengar bahwa tidak sedikit perempuan yang bertahan dengan suaminya karena alasan anak. Barangkali niat Wulan baik, tapi tanpa disadari, itu menggerus kekuatannya.

Film ini bercerita banyak tentang celah-celah kehidupan yang runyam. Manusia jadi andil terbesar dalam pilihan dan keputusan yang dibuatnya tapi sepertinya takdir senang bermain-main dengan pilihan dan keputusan itu. Mengajarkan untuk kuat, mengajarkan untuk berempati pada sosok yang kita tidak tahu apa saja yang telah dilewatinya sehingga membentuknya menjadi seperti hari ini. Belajar menghargai perjuangan Ibu yang banting tulang dan merelakan segalanya untuk sang anak. 

Bukan tidak mungkin Ibu memilih untuk menyerah dan menelantarkan anak-anaknya. Bukan tidak mungkin Ibu memilih untuk berpisah dari suaminya. Bukan tidak mungkin Ibu tidak kesakitan dengan semua perlakuan kasar Ayah. Tapi lagi dan lagi, Ibu memilih bertahan. Untuk menyaksikan kita tumbuh dan belajar.

Ayah yang kalah itu seharusnya tidak menjadikan keluarga sebagai tumbal kekalahannya. Tetap celik akan peran-peran yang ada di pundak dan tidak lepas tanggung jawab akan rumah, istri dan anak. 

Siapapun barangkali akan merasa terhubung dengan film ini, tidak sepenuhnya tapi parsial. Sesuatu yang ingin disampaikan dan kita konstruksi berdasarkan pengalaman yang kita miliki sendiri. Acting setiap pemeran berhasil membuat cucuran air mata sedari awal. Karena penggambaran film benar-benar bercerita dan selalu diledak oleh klimaks-klimaks yang memang nyata dan terhubung dengan kehidupan sehari-hari. Adegan demi adegan yang membuat kita membumi dan langsung terlempar pada hangatnya Ibu, tenangnya rumah dan peran Ayah masing-masing.

Penulis: Naftaly Mitchell

Editor: Nuzulul Magfiroh

Scroll to Top