Kilas Balik Gemerlap Semarak di Balik Pendidikan Karakter Mahasiswa Baru FIB Undip

Situasi hari pertama Pendidikan Karakter (Pendikar) mahasiswa baru Fakultas Ilmu Budaya di Gedung Serbaguna, FIB Universitas Diponegoro (Undip) pada Rabu (20/8). (Sumber: Manunggal)

Warta Utama – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) menggelar Pendidikan Karakter (Pendikar) bagi 1.209 mahasiswa baru angkatan 2025 pada Rabu (20/8) hingga Jumat (22/8) di Gedung Serbaguna, FIB Undip. Dengan mengusung tema “I’m a Good Citizen and Happy Person,” kegiatan Pendikar ini bukan sekadar deretan materi, tetapi pengalaman yang mengajak mahasiswa baru untuk benar-benar mengenal diri mereka sendiri dan peduli sesama.

Selama tiga hari, mahasiswa baru mendapatkan beragam materi yang dirancang untuk membangun karakter pribadi sekaligus memperkuat kesiapan mental mereka di dunia kampus. Pada hari pertama, rangkaian dibuka dengan materi “Branding Diri” yang mengajak mahasiswa untuk mengenali identitas pribadi, mengembangkan rasa percaya diri, serta mempromosikan diri secara positif. 

Dalam sesi ini, mahasiswa baru diminta membawa foto ukuran 2R yang merepresentasikan momen paling berkesan dalam hidup mereka. Foto itu kemudian dipresentasikan di depan teman-teman kelompok dengan penjelasan makna di baliknya, misalnya, foto bersama sahabat yang mencerminkan sifat suka bersosialisasi dan peduli pada sesama. Cara ini membantu mahasiswa tidak hanya mengenali dirinya sendiri, tetapi juga belajar menghargai berbagai pengalaman hidup hingga membentuk pribadi mereka sekarang. Dilanjutkan dengan “Berani dan Peduli” yang menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental, baik diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Masih di hari pertama, mahasiswa juga mendapat materi “Kartu Peduli Diri” yang mengajarkan kesadaran merawat diri melalui kebiasaan sehat dan pengelolaan emosi. Hal ini diperdalam lewat materi “Regulasi Emosi” yang membantu mahasiswa memahami strategi untuk mengendalikan perasaan.

Hari kedua diwarnai dengan materi yang lebih interaktif. “Satu Gambar, Banyak Jiwa” melatih mahasiswa untuk bekerja sama, menghargai perbedaan, dan berani menyampaikan pendapat di forum. “Langkah Kecil, Dampak Besar” mengajak mereka untuk peduli pada lingkungan sekitar dengan tindakan sederhana namun berdampak luas. Selanjutnya, “Bekal Sang Diponegoro” menanamkan nilai keadilan serta kecermatan dalam mengambil keputusan, sementara “Satu Tarikan Seribu Makna” mendorong keberanian mahasiswa baru untuk memimpin dan bekerja sama dengan tim. Hari kedua ditutup dengan “Tantangan Diponegoro,” sebuah permainan yang menekankan kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Pada hari terakhir, mahasiswa dibekali dua materi penting. “Beretika dalam Kehidupan sebagai Pancasila” menanamkan karakter berani, peduli, dan jujur sesuai dasar negara Indonesia. Kemudian, “Warna-warni Lingkunganku” memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekitar, khususnya di area kampus.

Ketua Pendikar FIB tahun 2025, Ghaida Nada Aulia, mahasiswa program studi Ilmu Perpustakaan, menuturkan bahwa rangkaian materi ini tidak hanya berfokus pada nilai personal, tetapi juga pada kepedulian sosial dan lingkungan. Mahasiswa baru sudah dibiasakan memilah sampah organik dan anorganik sejak hari pertama, sebagai upaya menanamkan kebiasaan peduli lingkungan. 

“Harapannya, mereka bisa benar-benar menerapkan nilai jujur, berani, peduli, dan adil, tidak hanya selama perkuliahan, tapi juga di kehidupan sehari-hari,” ujarnya saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Rabu (20/8).

Antusiasme mahasiswa baru terlihat sejak awal. Mereka aktif mencari informasi teknis hingga larut malam di group chat sebelum acara dimulai, bahkan sudah mulai membangun interaksi dengan teman-teman baru meski masih ada rasa canggung. “Pasti masih ada yang agak awkward, tapi sejauh ini sudah banyak yang bonding juga,” tambah Ghaida.

Meski sempat menghadapi kendala teknis, jalannya kegiatan tetap terkendali. Pada hari pertama, mobilisasi mahasiswa baru sedikit terhambat karena area parkiran dalam tidak bisa dipakai akibat renovasi jembatan penghubung. Ribuan mahasiswa akhirnya menumpuk di parkiran luar, membuat suasana pagi cukup padat dan riuh. 

Hambatan lainnya yang ada selama rangkaian Pendikar adalah terdapat beberapa ruangan sempat mengalami kendala fasilitas, mulai dari mikrofon yang mati hingga layar televisi yang tidak berfungsi. Namun, situasi ini segera diatasi melalui koordinasi antara panitia, fasilitator, dan pihak fakultas, sehingga acara dapat tetap berlangsung sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Dari sisi peserta, antusiasme mahasiswa baru terasa sejak hari pertama. Muhammad Luqman Fadhillah, mahasiswa baru Sastra Inggris tahun 2025, mengungkapkan bahwa sempat tidak tahu harus berekspektasi apa sebelum acara dimulai. Namun, pengalaman selama tiga hari membuatnya justru merasa senang. 

“Aku nggak expect kalau aku bakal have fun sebanyak ini. Overall aku senang banget ikut Pendikar,” ujarnya saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Jumat (22/8).

Kesannya tidak hanya datang dari materi, tetapi juga dari peran panitia dan fasilitator. Luqman  merasa sangat terbantu karena fasilitator kelompoknya ramah dan suportif, bahkan membuat suasana jadi lebih nyaman untuk berinteraksi. “Aku grateful banget punya kakak-kakak yang bisa mendampingi aku dan teman-teman lain,” tambahnya.

Bagian yang paling berkesan baginya adalah sesi permainan. Bukan hanya karena seru, tetapi juga karena ada pesan yang bisa dipetik. “Games-nya kreatif banget. Pesannya tersampaikan dengan baik dan bikin aku seneng juga,” katanya. Dari momen itulah ia menyadari bahwa Pendikar bukan sekadar agenda wajib, melainkan ruang untuk belajar dengan cara yang menyenangkan.

Yang tak kalah penting, Luqman merasa nyaman dengan teman-teman baru. Rasa canggung di awal perlahan hilang, berganti dengan keyakinan bahwa ia tidak sendirian menghadapi dunia kampus. “Aku nyadar betapa pentingnya ikut Pendikar sebelum masuk kuliah. Di sini aku belajar kalau aku bisa minta tolong dan membuat relasi sama temen-temen aku,” tambahnya.

Selain itu, mahasiswa baru lain juga merasakan pengalaman serupa. Aisha Devaza Azzahra, mahasiswa baru Antropologi Sosial tahun 2025, menilai Pendikar tahun ini menarik karena tidak hanya berisi materi, tetapi juga permainan yang mengajarkan banyak hal. “Jadi nggak cuman diajarin secara materi doang, tapi juga diajak main. Pokoknya seru deh,” ujarnya. Baginya, sesi terakhir ketika dua kelompok alfabet digabung menjadi satu untuk memainkan sebuah game adalah momen yang paling berkesan.

Meski menilai persiapan panitia sudah baik, Aisha mengaku sempat merasa kurang nyaman saat seluruh mahasiswa dikumpulkan di Gedung Serbaguna. “Itu benar-benar full banget, sampai sesek dan ada yang masih di luar,” katanya. 

Di luar itu, Aisha menilai informasi yang diberikan panitia selalu jelas, interaksi berjalan lancar, dan suasana dibuat cair. Salah satu momen yang menurutnya unik adalah ketika MC kerap meminta mahasiswa berjoget dulu sebelum menjawab pertanyaan atau akan presentasi.

Setelah mengikuti Pendikar, Aisha merasa lebih siap menjalani kehidupan perkuliahan, sekaligus termotivasi untuk aktif di organisasi agar semakin berkembang. Ia juga menilai tugas yang diberikan panitia masih wajar. “Tugasnya sih sebenarnya sebagai Gen Z males banget kan bikin video. Cuma, emang rata-rata semua ospek tuh bikin video. Jadi kayak itu semua normal sih, standar,” tambahnya.

Dengan rangkaian kegiatan ini, Pendikar sebagai salah satu langkah awal mahasiswa baru FIB tahun 2025 tidak hanya menjadi sebuah agenda penyambutan mahasiswa baru yang biasa, tetapi juga wadah untuk menanamkan nilai-nilai karakter, membangun interaksi, dan menciptakan pengalaman berkesan. Dengan semangat yang dibawa sejak awal, diharapkan mahasiswa baru FIB mampu menjaga energi positif, kebersamaan, serta nilai integritas dalam perjalanan akademik mereka ke depan.

Reporter: Adelia Nurlatifa, Kemi Annisa, Dhini Khairunnisa

Penulis: Adelia Nurlatifa

Editor: Nurjannah, Nuzulul Magfiroh

Scroll to Top