
Intelijen polisi, yang mengaku bernama Yanto alias Brigadir Eka Zidan saat ditahan mahasiswa di Auditorium Undip Pleburan pada Kamis (1/5). (Sumber: Manunggal)
Semarangan – Seorang intelijen yang mengaku bernama Yanto ditahan mahasiswa saat diketahui menyusup di kelompok massa aksi Peringatan Hari Buruh atau May Day pada Kamis (1/5). Aksi yang dilakukan di depan Kantor Gubernur Provinsi Jawa Tengah (Jateng) dan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jateng tersebut sempat mengalami kerusuhan dan terjadi bentrok antara aparat kepolisian dan massa aksi. Sekitar 17 orang massa aksi yang terdiri dari mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS), Universitas Islam Negeri (UIN) Wali Songo dan beberapa anggota pers mahasiswa (Persma) ditangkap polisi selama aksi tersebut berlangsung. Beberapa orang yang diduga merupakan intelijen tengah menyusup dan memukuli beberapa massa aksi saat kejadian tersebut. Massa aksi menangkap dan menawan salah satu intelijen yang mengaku bernama Yanto. Meski begitu, ia sebenarnya adalah seorang anggota intelijen dari Kepolisian Daerah (Polda) Jateng, yakni Brigadir Eka Zidan.
Kronologi
Menurut keterangan dari salah satu peserta aksi bernama Juno (red: nama samaran) mengatakan bahwa pada awalnya massa aksi berkumpul di depan Kantor Gubernur Provinsi Jateng, berbeda dengan peserta buruh yang melakukan aksi di depan Gedung DPRD Provinsi Jateng. Pada saat itu, sudah ada anggota kepolisian yang berjaga di kedua sisi. Kemudian, polisi yang berjaga di sisi kantor Gubernur Provinsi Jateng memukul mundur massa aksi yang ingin mencoba masuk ke dalam Kantor Gubernur Provinsi Jateng untuk melakukan sidang rakyat. Massa aksi yang mulai resah memukul mundur polisi kembali agar tetap dapat masuk ke Kantor Gubernur Provinsi Jateng. Setelahnya, keadaan mulai memanas dan polisi melakukan pergerakan ke belakang posisi massa aksi melalui gerbang Gedung DPRD Provinsi Jateng dan mencegat massa aksi. Saat kejadian, polisi menembakkan gas air mata pada sekitar pukul 17.23 Waktu Indonesia Barat (WIB) dan water cannon pada sekitar pukul 17:32 WIB. Dalam waktu bersamaan, polisi mencoba untuk membubarkan massa aksi. Kemudian, pada pukul 17:38 WIB beberapa massa aksi ditangkap.
Juno juga menambahkan bahwa beberapa massa aksi yang ditangkap kepolisian sebelumnya sempat mendapatkan pertolongan medis dan dibawa dengan mobil ambulans dari Dinas Sosial (Dinsos). Namun, ambulans tersebut membawa beberapa massa aksi ke Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes). “Nah, mungkin tiba-tiba ketika di depan itu dicegat, polisi ada yang naik ke ambulans tersebut. Makanya agak kaget gitu ketika dibawa ke Polres. Kejadiannya cepat banget pada saat itu,” ungkap Juno.
Juno menduga bahwa sopir ambulans mengalami intimidasi dari pihak kepolisian dan dicegat. Oleh karena itu, ambulans dari Dinsos membawa beberapa massa aksi tersebut ke Polrestabes.
“Karena kan itu ambulans dari Dinas Sosial, mungkin supirnya sendiri diintimidasi dan sebagainya kan bisa gitu, ya. Itu sih, makanya dibawa ke Polres,” tambah Juno.
da saat yang bersamaan, beberapa massa aksi mencoba mengarahkan satu sama lain untuk mundur dan berlari menuju ke area Undip Pleburan. Pada saat itu, massa aksi menangkap 2 orang intelijen yang ketahuan menyusup dan memukuli beberapa massa aksi. Namun, salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Undip sekaligus partisipan aksi yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa intelijen tersebut ditangkap karena diketahui melakukan perekaman atas aksi.
“Ia melakukan perekaman atas aksi,” kata mahasiswa FISIP Undip tersebut.
Namun, salah satu intelijen yang ditangkap berhasil lolos. Sedangkan, satunya berhasil diamankan, Eka kemudian dibawa massa aksi ke Undip Pleburan. Sesampainya di Undip Pleburan, massa aksi mengunci gerbang Undip Pleburan. Eka ditanya mengenai beberapa keterangan dan informasi. Eka sebelumnya telah mengaku sebagai seseorang yang “diamanahkan oleh kepolisian” dan berpangkat brigadir.
“Masnya benar, ga, Mas itu intelijen atau dari kepolisian?” tanya salah satu peserta aksi.
“Betul, saya diamanatkan kepolisian,” jawab Eka membenarkan.
Pada saat itu, sekitar ratusan orang yang diduga merupakan gabungan dari anggota kepolisian, intelijen, dan organisasi masyarakat (ormas) mendatangi Undip Pleburan dan mengepung massa aksi pada sekitar pukul 18:54 WIB. Massa aksi yang terkepung berlari ke arah Auditorium Imam Barjo, Undip Pleburan dan terisolasi selama beberapa jam di dalamnya. Di luar area gerbang Undip Pleburan, beberapa dari ratusan orang tersebut melempar helm-helm yang berada di atas motor-motor mahasiswa.
“Ketika dalam proses interogasi tersebut, tiba-tiba ada kurang lebih ratusan ya mungkin gabungan dari anggota intel dan kepolisian mungkin, ya. Mereka mengepung di depan gerbang Undip Pleburan dan melempar helm-helm yang ada di atas motornya mahasiswa,” kata Juno.
Selain itu, beberapa motor juga mengalami kerusakan akibat kejadian tersebut.
“Pada saat proses lagi chaos tersebut intelijen-intelijen di luar anggota kepolisian itu merusak motor mahasiswa, merusak motor-motor yang ada di depan gerbang Kantor Gubernur. Dan ya merusaklah, menendang dan memukul motor-motor tersebut gitu,” tambah Juno.
Juno juga mengungkapkan bahwa para intelijen yang berada di luar gerbang Undip Pleburan menginginkan massa aksi untuk membebaskan temannya, Eka yang masih diamankan massa aksi pada saat itu. Namun, massa aksi menolak hal tersebut karena menginginkan agar beberapa massa aksi yang ditangkap kepolisian dibebaskan terlebih dahulu.
“Nah, ya mereka menginginkan temannya dibebaskan. Nah, tapi kan kita dari mahasiswa juga pengen, dong teman kita yang ditangkap gitu di Polrestabes untuk sama-sama dibebaskan juga,” ungkap Juno.
Intelijen yang dibawa ke dalam auditorium ditanya kembali mengenai penangkapan massa aksi yang masih belum dibebaskan. Eka ditahan sebagai jaminan untuk ditukar dengan beberapa mahasiswa yang ditangkap polisi. Eka yang awalnya berbaju hitam dan robek, diganti menjadi pakaian berwarna orange milik salah satu peserta aksi.
Juno menerangkan bahwa selama diamankan, massa aksi memberi makan, minum, dan rokok untuk Eka, tetapi Eka menolak. Eka juga mengeluh sakit dan meminta obat asam lambung. Ketika salah satu peserta aksi memberikan obat tersebut, Eka menolak untuk mengonsumsinya.
“Terus dia sakit minta obat asam lambung, kita kasih. Tapi dia enggak mau minum. Maksudnya begitu baiknya teman-teman massa. Sebenarnya yang kita inginkan hanya lepaskan teman-teman kami yang kalian tangkap,” terang Juno.
Eka juga diminta untuk menelpon komandan yang diduga merupakan orang yang mengutusnya untuk bertugas sebagai intelijen. Melalui telepon, mahasiswa meminta Eka untuk membujuk komandannya agar mengembalikan mahasiswa yang ditangkap untuk segera dibebaskan dan dibawa ke area Undip Pleburan.
“Jangan paksa masuk, Ndan,” pinta Eka atas permintaan mahasiswa kepada komandannya agar polisi tidak masuk secara paksa ke dalam kampus Undip Pleburan.
Selain itu, ia juga diminta untuk menyatakan bahwa tak ada represi yang dilakukan mahasiswa kepada dirinya. Selama diamankan di auditorium, beberapa mahasiswa sempat mengajukan beberapa pertanyaan terkait tindakan polisi yang melanggar hak sipil. Menurut Eka, dirinya tak melanggar hak masyarakat sipil sama sekali.
“Saya merasa kalau dimintain tolong masyarakat, saya tolong,” ucapnya.
Ia juga mengakui bahwa para polisi yang memukul mahasiswa termasuk melanggar hukum. Mahasiswa juga meminta pendapat Eka perihal polisi yang membunuh pelajar.
“Ada, kasusnya Gamma. Robig memang bajingan itu. Polisi bajingan,” jawab Eka menanggapi.
Ketika ditanya jumlah kasus kekerasan oleh oknum polisi, Eka sendiri mengaku tidak mengetahui secara pasti angka tersebut. Tapi menurutnya, polisi masih terbilang mementingkan kepentingan rakyat.
Menurut keterangan mahasiswa FISIP Undip sebelumnya, suasana sempat tidak kondusif usai massa aksi melakukan wawancara terhadap intelijen.
“Setelahnya massa aksi mulai tidak kondusif dikarenakan muncul ancaman dari pihak kepolisian dan intelijen untuk mengembalikan intelijen,” terang mahasiswa FISIP Undip tersebut.
Sempat terjadi negosiasi yang alot untuk menukar Eka dengan 4 mahasiswa Undip yang sempat ditangkap polisi. Bahkan, pihak rektorat Undip datang ke lokasi kejadian dan turun tangan. Namun, hal tersebut sulit menemukan jalan tengah. Meski begitu, mahasiswa memutuskan untuk membebaskan Eka dalam kondisi baik dan sehat setelah beberapa jam diamankan.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jateng, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Artanto mengatakan bahwa pembebasan Eka tak lepas dari koordinasi antara pihaknya dengan pihak Undip.
“Setelah Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) dan pihak Undip berkoordinasi, anggota kami akhirnya dibebaskan dan sudah kembali ke kantor,” ujar Artanto kepada Espos pada Kamis (1/5).
Pembebasan Eka setelah diamankan oleh massa bersamaan dengan pembebasan ratusan mahasiswa yang telah terjebak di dalam Auditorium Imam Barjo, Undip Pleburan selama beberapa jam. Massa aksi baru dapat kembali pulang pada sekitar pukul 23.00 WIB setelah beberapa jam terkepung dan terisolasi di dalam auditorium. Meski begitu, barter antara massa dan pihak kepolisian tidak terjadi sesuai harapan. Artanto menegaskan bahwa pembebasan anggotanya tidak ditukar dengan mahasiswa yang tertangkap karena sejumlah mahasiswa masih harus menjalani pemeriksaan di Polrestabes Semarang.
Reporter : Christini Letania, Millati Azka, Mitchell Naftaly, Nuzulul Magfiroh, Nurjannah, Zulfa Arya, Billy Mahesa, Haliza Ni’ma, Abigael Eudia, Ahnaf Zain, Jibril Syauqi, Cahya Noviyanti, Abra Wasistha, Andaru Surya, Dhini Khairunnisa, Salwa Hunafa, Raisya Nurul
Penulis : Salwa Hunafa, Raisya Nurul Khairani
Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah
Referensi :
MARING. [maring_institut]. (Mei 1, 2025). Keterangan Intel. Instagram. Diakses melalui https://www.instagram.com/reel/DJHASnUSSeq/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
CNNIndonesia.com. (2025). YLBHI Catat 18 Mahasiswa Ditangkap saat Aksi May Day di Semarang. Diakses pada Senin (5/5) dari
Espos. (Mei 2, 2025). Ricuh Aksi May Day di Semarang, Massa Sempat Tahan Polisi Intel. Diakses melalui https://regional.espos.id/ricuh-aksi-may-day-di-semarang-massa-sempat-tahan-polisi-intel-2090225

