Deddy Corbuzier buka suara perihal MBG, Jumat (17,1) (Sumber: Unggahan Akun Instagram @mastercorbuzier)
Peristiwa – Deddy Corbuzier kembali menjadi sorotan setelah melontarkan hinaan terhadap seorang anak kecil yang mengkritik rasa makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam video reels akun Instagram @mastercorbuzier yang berdurasi lebih dari satu menit itu, Deddy menyebut anak tersebut “pea” (pendek akal) dan menganggapnya tidak tahu bersyukur.
Video kontroversial ini muncul di akun Instagram @mastercorbuzier pada 17 Januari. Meskipun video itu hanya berdurasi singkat, tetapi dampaknya luas dan memicu perdebatan panas di media sosial serta mendapat sorotan dari berbagai media.
Deddy Corbuzier, seorang figur publik dengan jutaan pengikut, menjadi pusat perhatian dalam kontroversi ini. Sementara itu, korban dari pernyataannya adalah seorang anak kecil yang secara jujur menyampaikan kritiknya terhadap makanan MBG. Publik luas juga ikut terseret dalam perdebatan, mempertanyakan apakah seorang tokoh dengan pengaruh besar pantas untuk berbicara seperti itu kepada anak-anak.
Menyebut seorang anak sebagai “pea” bukan hanya candaan kasar, tetapi bentuk pelecehan verbal yang dapat berdampak pada psikologis anak. Anak-anak memiliki hak untuk menyampaikan pendapatnya, termasuk mengkritik makanan yang diberikan kepada mereka. Dalam masyarakat demokratis, kritik adalah hal yang wajar dan harus diterima, bukan malah dibungkam dengan hinaan.
Dalam video tersebut, Deddy secara lantang membandingkan anak penerima program MBG dengan anaknya. Deddy menyatakan bahwa anaknya senantiasa memakan nasi kotak yang didapatkan dari lokasi syuting, ia juga tanpa ragu mengatakan bahwa dirinya tidak akan segan menempeleng anaknya sendiri jika menolak makan nasi kotak yang dibagikan. Jika dicermati dengan baik, kondisi tersebut bukanlah argumen yang pantas untuk dibandingkan, mengingat bahwa nasi kotak yang diterima oleh anak Deddy Corbuzier mungkin saja berbeda dengan nasi dari program MBG baik dari segi harga maupun kualitas. Selain itu, pernyataan ini bukan hanya memperlihatkan arogansi, tetapi juga melegitimasi kekerasan dalam pola asuh. Sebagai seseorang yang diberi pangkat Letnan Kolonel Tituler oleh Prabowo Subianto, sikapnya semakin dipertanyakan. Apakah seorang yang diberikan kehormatan militer pantas merendahkan anak-anak di ruang publik?
Tidak hanya itu, pernyataan Deddy mencerminkan pemahaman yang keliru tentang program MBG. Program tersebut didanai dari pajak rakyat, bukan belas kasih pemerintah sehingga masyarakat berhak menyampaikan kritik jika terdapat masalah dalam pelaksanaannya. Keluhan anak tersebut seharusnya bisa menjadi evaluasi bagi pemerintah terkait program MBG. Namun, Alih-alih memahami substansi kritik, Deddy justru menyalahkan anak-anak yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama program ini.
Pernyataan Deddy yang merendahkan anak-anak berisiko menormalisasi budaya pelecehan verbal dan kekerasan dalam diskusi publik. Jika seorang figur publik sepopuler Deddy bisa dengan mudah mencemooh anak kecil tanpa konsekuensi, maka perilaku serupa bisa dianggap wajar oleh pengikutnya.
Sebagai figur publik, Deddy seharusnya lebih bijak dalam berkomunikasi dan menyadari tanggung jawabnya. Ia merupakan influencer dengan pengaruh sosial yang besar. Kritik terhadap pernyataannya bukan sekadar masalah perdebatan kata-kata, tetapi berkaitan dengan bagaimana kita membangun ruang publik yang lebih sehat dan menghargai hak setiap individu, termasuk anak-anak.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa tidak semua tokoh yang memiliki platform besar memiliki pemahaman etika yang baik. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih kritis terhadap pernyataan figur publik dan tidak ragu untuk menuntut standar moral yang lebih tinggi dari mereka yang memiliki pengaruh luas.
Penulis: Salsa Puspita
Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah
Referensi:
mastercorbuzier. (2025, January 17). [Video]. Instagram. Retrieved February 2, 2025, from https://www.instagram.com/share/reel/BACQBSvs8




