
Petugas Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memasang spanduk di titik pemagaran laut 30,16 km di Tangerang, Banten pada, Kamis (9/1) (Sumber: Tempo.co)
Peristiwa – Kemunculan pagar laut dari bambu sepanjang 30,16 kilometer (km) di Laut Tangerang menjadi keresahan bagi keberlangsungan mata pencaharian nelayan serta ancaman ekosistem pesisir. Tak hanya di sana, pemagaran laut juga terjadi di perairan Kamal Muara, Jakarta Utara, dengan panjang kurang lebih 1 km dan di Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, yang turut mengundang keluhan nelayan.
Dilansir dari rri.co.id, salah satu warga perairan Kamal Muara mengeluhkan kemunculan pagar laut yang mengganggu aktivitas nelayan. Ia menyebutkan bahwa pemagaran laut menyebabkan peningkatan biaya produksi akibat bahan bakar minyak yang lebih banyak digunakan karena harus memutar jalur pelayaran. Selain itu, jumlah ikan dan udang tangkapan juga menurun sehingga pengeluaran nelayan meningkat.
Melalui wawancara yang dilakukan oleh tempo.co pada Selasa, (14/1), salah satu warga setempat Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, mengungkapkan “Terganggu banget. Tadinya jalannya ke sana lurus, sekarang jalannya muter jauh banget. Ya kan, ketutup sama pager itu.”
Meski begitu, pernyataan warga setempat tersebut dibantah oleh nelayan yang tergabung dalam Jaringan Rakyat Pantura (JRP) Kabupaten Tangerang, Banten. Mereka menyatakan bahwa pagar laut sepanjang 30,16 km itu sebagai upaya mitigasi bencana tsunami dan abrasi.
Dikutip dari Tempo.co, Koordinator JRP, Sandi Martapraja pada, Sabtu (11/1/2025), menyatakan, “Pagar laut yang membentang di pesisir utara Kabupaten Tangerang ini sengaja dibangun oleh swadaya masyarakat. Ini dilakukan untuk mencegah abrasi.”
Ia juga menuturkan bahwa apabila kondisi tanggul baik, tanggul tersebut dapat dimanfaatkan sebagai tambak ikan, budidaya kerang hijau, dan pemecah ombak. Hal ini dapat membuka peluang ekonomi baru dan kesejahteraan masyarakat.
Akan tetapi, pernyataan tersebut dibantah oleh Kepala Perwakilan Ombudsman Provinsi Banten, Fadli Afriadi. Dia menilai kehadiran pagar laut tersebut justru mengurangi nilai pendapatan nelayan.
“Berdasarkan informasi ahli perikanan dan kelautan, tidak logis juga alasan yang disampaikan. Kita bisa lihat sendiri, apa iya hasil tangkapan meningkat, tangkapan nambah kerang. Sepertinya itu tidak mungkin,” kata Fadli pada, Rabu (15/1).
Pernyataan Fadli tersebut didukung oleh hasil kunjungannya ke sejumlah kecamatan yang terdampak pemagaran laut pada Desember 2024. Ia menemukan bahwa warga pesisir harus menempuh perjalanan lebih jauh, bahkan hingga 1,5 jam untuk mengitari pagar laut.
Pemagaran laut merupakan pelanggaran aturan pemanfaatan ruang laut dan mengancam ekosistem pesisir. Dikutip dari Tempo.co, Deputi Eksternal Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Mukri Friyatna, menyatakan bahwa konstruksi pagar bambu di Laut Tangerang dapat mengakibatkan empat bentuk kerusakan alam.
“Pertama, kehadiran pagar-pagar itu akan menghambat laju arus laut. Kedua, pagar laut yang dibebani pasir sebagai media tancap juga berpotensi menimbun terumbu karang,” ujar Mukri, Jumat, (17/1).
Selain itu, pagar laut juga menimbulkan penumpukan sedimen akibat terhalang pagar bambu yang menancap di pasir sehingga memicu kekeruhan air laut.
Mukri juga menegaskan untuk segera membongkar pagar bambu tersebut. Hal ini sejalan dengan perintah Presiden Prabowo melalui Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerindra, Ahmad Muzani.
“Beliau sudah setuju pagar laut disegel. Pertama, pagar tersebut akan disegel, dan kedua, beliau memerintahkan agar pagar itu dicabut. Selain itu, juga dilakukan pengusutan lebih lanjut,” terang Muzani pada, Rabu (15/1).
Hingga saat ini, pagar laut di Laut Tangerang masih dalam proses pembongkaran sejak Sabtu (18/1) yang dipimpin langsung oleh Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Danlantamal) III Jakarta, Brigadir Jenderal (Brigjen) Tentara Nasional Indonesia (TNI) (Mar) Harry Indarto. Pembongkaran dengan mengerahkan personel TNI AL dan dibantu sejumlah nelayan.
Pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan bahwa investigasi mengenai pihak yang bertanggung jawab atas pemagaran laut ini masih terus berlangsung. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pengawasan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan (PSDKP) KKP, Halid Yusuf dalam wawancara yang diperoleh tribunnews.com, Rabu (15/1).
“Kami saat ini masih terus mendalami siapa yang akan muncul sebagai penanggung jawab di dalam mekanisme pemagaran ini,” ujar Halid.
Penulis: Hanifah Khairunnisa
Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah
Referensi:
Hendrik Khoirul Muhid, & Dwi Arjanto. (2025, 16 Januari). 6 Fakta Pagar Laut di Bekasi: Pemilik hingga Penyegelan karena Ilegal . Tempo. https://www.tempo.co/ekonomi/6-fakta-pagar-laut-di-bekasi-pemilik-hingga-penyegelan-karena-ilegal-1194886
(2025, 17 Januari). Pagar Bambu di Kamal Muara, Pemkot Jakut: Tidak Tahu [Review of Pagar Bambu di Kamal Muara, Pemkot Jakut: Tidak Tahu ]. Rri.co.id; Radio Republik Indonesia. https://rri.co.id/daerah/1261926/pagar-bambu-di-kamal-muara-pemkot-jakut-tidak-tahu
Eksa. (2025, 17 Januari). Pagar Laut di Kamal Muara, Pemkot Jakarta Utara Enggan Komentar . Mediaindonesia.com. https://mediaindonesia.com/megapolitan/735435/pagar-laut-di-kamal-muara-pemkot-jakarta-utara-enggan-komentar
Verry, V. (2025, 18 Januari). Danlantamal III Jakarta Pimpin Pembongkaran Pagar Laut Tangerang, 2 KM Bambu Dicabuti . Wartakotalive.com. https://wartakota.tribunnews.com/2025/01/18/danlantamal-iii-jakarta-pimpin-pembongkaran-pagar-laut-tangerang-2-km-bambu-dicabuti
Pagar Bambu di Laut Tangerang yang Memagari Setengah Pulau Dibongkar Hari Ini – Fakta Pers Media . (2025, 18 Januari). Fakta Pers Media. https://faktapers.id/2025/01/18/pagar-bambu-di-laut-tangerang-yang-memagari-setengah-pulau-dibongkar-hari-ini/
Yunus, S., & Yunus, S. (2025, 15 Januari). Ombudsman Nilai Alasan JRP Soal Pembangunan Pagar Laut di Tangerang Tidak Logis . Tempo. https://www.tempo.co/politik/ombudsman-nilai-alasan-jrp-soal-pembangunan-pagar-laut-di-tangerang-tidak-logis-1194598
Yunus, S., & Yunus, S. (2025, 17 Januari). Walhi Nilai Pemasangan Pagar Laut di Tangerang Rusak Lingkungan . Tempo. https://www.tempo.co/politik/walhi-nilai-pemasangan-pagar-laut-di-tangerang-rusak-lingkungan-1195547
Yudono Yanuar, & Yudono Yanuar. (2025, 9 Januari). Cerita Pemagaran Laut Misterius Sepanjang 30 Km di Tangerang, Siapa Pembuatnya? Tempo. https://www.tempo.co/ekonomi/cerita-pemagaran-laut-misterius-sepanjang-30-km-di-tangerang-siapa-pembuatnya–1191964



