Farisy dan Andi Buka Suara: Klarifikasi Mengejutkan Terkait Pengunduran Diri dari Pemira Undip 2024

 

Surat pengunduran diri pasangan calon ketua dan wakil ketua BEM 2025 pada Sabtu, (7/12)
(Sumber: Unggahan Akun Instagram @pemiradiponegoro)

Peristiwa – Pemilihan Raya (Pemira) Universitas Diponegoro (Undip) 2024 menjadi sorotan publik karena tingginya tensi persaingan antara tiga pasangan calon (paslon) yang berkompetisi untuk memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip 2025. Di balik ketatnya kontestasi ini, terdapat cerita perjuangan dan kekecewaan dari salah satu paslon yang memutuskan untuk mundur dari pemilihan. Paslon nomor urut 3, Muhammad Hidayatulloh Nur Farisy dan Andi Sanjaya, resmi mengundurkan diri dari kontestasi Pemira
Undip 2024. Pernyataan ini diumumkan oleh panitia KPPR Undip melalui berita acara di Instagram resmi mereka @pemiradiponegoro pada Sabtu, (7/12).

Indikasi pengunduran diri ini telah terlihat sebelumnya melalui pernyataan Farisy di grup WhatsApp pada Kamis, (5/12), yang kemudian diperkuat oleh unggahan Andi Sanjaya di akun Instagram pribadinya @andisanjayya_ pada Jumat, (6/12).

Pernyataan Farisy: Tekanan Mental dan Keadilan yang Dipertanyakan

Melalui sebuah pesan WhatsApp pada Kamis, (6/12), Farisy menyampaikan keputusan mundur dengan alasan tekanan besar yang dirasakannya selama pemira.

Bukti pesan pernyataan Farisy pada Kamis, (5/12) melalui WhatsApp Group (Sumber: Dok. Pribadi)

“Saya merasa ancaman ‘bersih-bersih’ BEM berbasis kerakyatan mendapat banyak perlawanan, termasuk serangan pribadi yang memengaruhi mental saya. Jika menang, saya khawatir sulit mempersatukan mahasiswa,” tulis Farisy.

Ia juga menyampaikan bahwa keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi fisik, mental, dan akademik yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjuangan di pemira.

Farisy memaparkan beberapa poin utama yang menjadi alasan pengunduran dirinya:

  1. Kejanggalan dalam Pemira: Farisy merasa ada ketidaknetralan dan kecurangan dalam pelaksanaan pemira, dengan bukti-bukti yang menurutnya cukup jelas. Ia mengkritik panitia yang dinilai tidak memiliki kekuatan untuk menjaga integritas ajang tersebut.
  2. Pemira sebagai Ajang Saling Menjatuhkan: Menurut Farisy, esensi pemira telah bergeser dari semangat persatuan menjadi arena persaingan yang tidak sehat, penuh intrik, dan serangan personal.
  3. Kondisi Fisik dan Mental: Tekanan yang bertubi-tubi, baik secara langsung maupun melalui media sosial, berdampak pada kesehatan fisik dan mentalnya. Ia merasa, jika terus melanjutkan, kondisinya akan semakin memburuk.
  4. Akademik yang Terancam: Sebagai mahasiswa semester lima Program Studi (Prodi) Manajemen, Farisy menghadapi tekanan akademik yang signifikan. Jadwal pemira yang padat dan tidak terstruktur mengancam performa akademiknya.
  5. Kekhawatiran Orang Tua: Orang tua Farisy juga menjadi faktor penting dalam keputusan ini. Mereka mengkhawatirkan kondisi mental dan akademiknya yang semakin memburuk.
  6. Kontroversi Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) dan Video Viral: Isu pencatutan KTM dan video klarifikasi permohonan maaf yang telah menyebar luas semakin menambah beban perjuangan mereka.

Farisy menutup pernyataannya dengan ungkapan terima kasih kepada tim pendukungnya yang telah berjuang bersamanya.

Pernyataan Andi Sanjaya: Hilangnya Harmoni dan Ketidakpastian

Sehari setelah pernyataan Farisy, pada Jumat, (6/12), Andi Sanjaya menyampaikan pernyataannya melalui story akun Instagram pribadinya. Ia menyoroti ketidakharmonisan dan tekanan yang menyertai kontestasi pemira.

Bukti instagram story Andi yang memuat pernyataan pengunduran diri pada Jumat, (6/12) (Sumber: Manunggal)

“Seperti seekor burung yang ingin menjangkau langit, mustahil ia dapat terbang tinggi hanya dengan menggerakkan satu sayap. Harmoni kedua sayap adalah kunci untuk mencapai mimpi besarnya,” tulis Andi.

Andi juga mengkritisi pemira yang berubah menjadi arena perang bebas dengan serangan personal yang tak terkendali. Ia berharap pemira tetap menjadi ajang gagasan yang membangun dan menghasilkan pemimpin terbaik untuk mahasiswa Undip.

“Sekali lagi, saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung serta menitipkan kepercayaan dan harapan kepada saya. Yakinlah, kita bisa memberikan kebermanfaatan di mana saja dan kapan saja,” tutupnya.

Absensi Selama Roadshow Pemira

Paslon nomor 3 tercatat tidak hadir dalam beberapa sesi penting roadshow Pemira 2024 yang telah diadakan pada Jumat, (6/12), di Fakultas Sains dan Matematika (FSM) serta Fakultas Hukum (FH). Kegiatan roadshow ini merupakan kesempatan bagi setiap paslon untuk menyampaikan visi dan misi mereka secara langsung kepada mahasiswa di setiap fakultas.

Kehadiran paslon dalam acara tersebut sangat diharapkan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang program mereka. Namun, paslon 3 tidak hadir dalam kedua sesi ini, yang menambah keyakinan bahwa mereka benar-benar memutuskan untuk mundur dari pencalonan.

Tanggapan KPPR Undip: Belum Ada Surat Resmi

Setelah isu yang beredar mengenai mundurnya paslon 3, awak Manunggal mencoba mengonfirmasi hal ini kepada Ketua KPPR Undip, Alifvito Nur Fadhlullah pada Jumat, (6/12).

“Pengunduran diri paslon 3 belum bisa diumumkan resmi karena panitia belum menerima surat pengunduran. Namun, kami sudah berjanji bertemu mereka untuk membahas pengajuan surat tersebut sebelum memberi informasi lebih lanjut,” jelas Alifvito.

Alifvito juga mengakui bahwa ada tim sukses dari paslon nomor 3 yang sempat mengindikasikan rencana pengunduran diri. Namun, alasan pasti dari keputusan ini belum diketahui secara jelas.

Berita Acara Pengunduran Diri Paslon 3

Indikasi pengunduran diri paslon nomor urut 3 akhirnya terjawab dengan rilisnya berita acara pengunduran diri yang diunggah oleh Komisi Pemilihan Pemira Diponegoro (KPPR) 2024 melalui akun Instagram resmi mereka @pemiradiponegoro pada Sabtu, (7/12). Unggahan tersebut sekaligus menjadi penegas atas spekulasi yang selama ini beredar di kalangan mahasiswa terkait langkah politik paslon tersebut. Pernyataan resmi dari KPPR ini seolah menjadi jawaban yang dinantikan, menyudahi berbagai dugaan dan pertanyaan yang sebelumnya belum menemui kejelasan.

Surat pengunduran diri paslon 3 yang dirilis pada Sabtu, (7/12) (Sumber: Unggahan Akun Instagram @pemiradiponegoro)

Farisy Angkat Bicara: Alasan Mundur dan Kritik Terhadap Panitia KPPR

Ketika diwawancarai oleh awak Manunggal pada Kamis (12/12), Farisy menjelaskan bahwa kondisinya sudah berangsur membaik setelah mengambil keputusan besar tersebut. Ia mengaku sempat pulang ke Kota Solo karena mendapat panggilan dari orang tua. Ia menceritakan bahwa keputusan ini juga dipengaruhi oleh faktor keluarga.

“Ketika dipanggil oleh orang tua, saya merasa harus kembali. Setelah itu, saya menyadari bahwa dengan waktu yang terbatas, saya tidak bisa melanjutkan pemira ini dan harus fokus pada ujian akademik saya,” ungkapnya.

Namun, meski mundur, Farisy mengapresiasi banyaknya dukungan yang diterimanya, terutama dari mahasiswa umum yang mendukung paslon nomor 3.

“Saya sangat berterima kasih kepada teman-teman yang telah mendukung saya. Tapi setelah mempertimbangkan banyak hal, saya merasa keputusan ini yang terbaik,” ujarnya.

Tuduhan yang muncul dalam Pemira ini lebih banyak berbentuk serangan pribadi dan tidak ada hubungan dengan kualitas visi dan misi yang dibawa oleh paslon 3. Ia merasakan bahwa serangan-serangan ini sangat terfokus pada dirinya sebagai calon dari paslon 3, tanpa ada pembahasan substantif mengenai program atau ide yang ia tawarkan.

“Serangan terhadap saya lebih fokus pada hal personal, bukan substansi atau visi-misi, dan hanya ditujukan kepada saya, tidak seperti paslon lainnya,” jelas Farisy.

Tuduhan yang paling sering ditujukan kepadanya adalah bahwa ia memiliki hubungan dekat dengan organisasi-organisasi eksternal, seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Farisy merasa tuduhan tersebut sangat tidak adil dan malah merusak citra teman-teman di kedua organisasi tersebut.

“Saya merasa tidak enak dengan teman-teman GMNI dan PMII, karena apa yang saya lakukan untuk kebaikan mahasiswa, bukan untuk mencari suara atau bermain di belakang,” kata Farisy.

Farisy mengungkapkan bahwa niat baik yang ia bawa seringkali dipahami secara keliru oleh orang-orang di luar lingkungannya. Ia merasa sangat terganggu oleh cara pandang yang negatif terhadap dirinya hanya karena ia mendukung visi yang lebih besar bagi Undip.

“Saya merasa tertekan karena saya melakukan ini semua dengan niat yang baik dan demi kepentingan mahasiswa, bukan untuk kepentingan pribadi atau organisasi tertentu,” tegasnya.

Tuduhan lain yang sangat mengganggu Farisy adalah terkait dengan isu uang dalam kampanye. Ia dengan tegas membantah tuduhan bahwa ia mengeluarkan uang untuk membeli suara atau mendanai kampanyenya.

“Saya sepersen pun tidak pernah mengeluarkan uang untuk kampanye. Itu sangat merendahkan mahasiswa jika saya menggunakan uang untuk memengaruhi mereka,” ujar Farisy.

Farisy merasa bahwa tuduhan ini sangat mencoreng integritasnya sebagai calon karena menjadi bagian dari permainan kotor yang dapat merendahkan martabat mahasiswa.

“Saya berani bersumpah bahwa saya tidak pernah menggunakan uang untuk memengaruhi pemilih atau menjalankan kampanye saya,” tegas Farisy dengan penuh keyakinan.

Ia pun menyatakan bahwa Pemira Undip 2024 bukan lagi soal adu gagasan, melainkan pertempuran antara kepentingan dan pengaruh eksternal.

“Ini penghancuran karakter yang nyata. Ketika semua orang berbuat baik, justru fakta dibalik dengan cara yang tidak benar,” ungkapnya.

Menurut Farisy, tantangan terbesar dalam Pemira kali ini adalah KPPR yang dianggap tidak kompeten dalam menjalankan tugasnya sebagai penyelenggara pemira.

“Kondisi ini sangat mengguncang saya karena dalam verifikasi berkas, yang saya rasakan adalah forum ini lebih dikendalikan oleh kami, bukan oleh KPPR,” kata Farisy.

Menurutnya, peran KPPR sebagai penyelenggara seharusnya lebih kuat, tetapi kenyataannya mereka tidak dapat mengontrol jalannya pemira dengan baik. Farisy juga menyayangkan bagaimana dalam tahap verifikasi berkas, terjadi banyak ketidaksesuaian prosedur yang membuat Pemira menjadi cacat hukum.

Salah satu kritik tajam yang dilontarkan oleh Farisy adalah terkait ketidaksesuaian waktu sosialisasi dan pengumpulan berkas. Dia mengungkapkan bahwa KPPR meminta pengumpulan 300 KTM bertanda tangan offline dalam waktu yang sangat terbatas, yaitu hanya beberapa hari sebelum libur panjang.

“Ini sangat sulit dilakukan, terutama mengingat banyak mahasiswa yang libur dan kesulitan untuk mengumpulkan KTM,” ujar Farisy.

Selain itu, Farisy juga menyebutkan adanya ketidakadilan, di mana beberapa pihak sudah mengumpulkan KTM jauh sebelum sosialisasi, menunjukkan ketidakterbukaan dalam proses tersebut.

“Kami bahkan tidak tahu apakah KTM yang dikumpulkan oleh pihak lain sah atau tidak, karena tidak ada tindakan lebih lanjut dari KPPR. Ini membuat kami merasa diperlakukan tidak adil,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Farisy juga mengkritik ketidaknetralan KPPR yang dipimpin oleh Alifvito, yang ia kenal sebagai anggota dari organisasi eksternal. Menurut Farisy, peran Alifvito dalam organisasi tersebut sangat memengaruhi independensi KPPR.

“Ketua KPPR seharusnya netral, tapi kenyataannya dia terlibat dalam organisasi eksternal yang justru membuat KPPR kehilangan objektivitasnya,” kata Farisy.

Dia menegaskan bahwa pemilihan panitia KPPR dari Senat Mahasiswa (SM) Undip harus dibenahi agar ke depannya Pemira Undip dapat berjalan lebih transparan dan adil.

Farisy pun mencermati bahwa meskipun tantangan besar datang dari panitia yang tidak kompeten dan prosedur yang kacau, ia tetap mencoba untuk melanjutkan perjuangannya. Namun, setelah berpikir jauh ke depan, ia menyadari bahwa terus maju dalam situasi yang penuh dengan ketegangan dan ketidakadilan justru akan merugikan banyak pihak.

“Jika saya dipaksakan untuk menang dengan kondisi seperti ini, kemenangan saya hanya akan penuh dengan luka, dan itu akan mengganggu visi saya untuk mempersatukan,” tegasnya.

Farisy mengingatkan para pendukungnya untuk tetap mengawasi jalannya Pemira dengan cermat dan memilih dengan bijak.

“Jadilah pengawas yang baik, nilai secara objektif siapa yang benar-benar membawa perubahan dan siapa yang hanya terikat dengan kepentingan golongan atau organisasi tertentu,” pesan Farisy.

Untuk calon ketua dan wakil ketua BEM yang terpilih, Farisy berharap mereka dapat benar-benar mengutamakan kepentingan mahasiswa, bukan kepentingan pribadi atau eksternal.

“Siapa pun yang terpilih, ingatlah untuk berdiri di depan mahasiswa, bukan di belakang organisasi eksternal atau kepentingan pribadi. Pemira ini adalah untuk mahasiswa,” ujarnya.

Andi Bicara Soal Keputusan Mundur: Belajar Ikhlas di Tengah Realitas Pemira Undip 2024

Sebagai wakil dalam paslon 3 membersamai Farisy, Andi turut membagikan perasaannya setelah memutuskan mundur dari Pemira Undip 2024.

“Yang pertama tentu kecewa, lalu sedikit marah, tapi pada akhirnya saya belajar untuk mengikhlaskan,” tuturnya.

Ia menjelaskan prinsip yang dipegangnya selama mengikuti kontestasi ini: berjuang 99% dengan maksimal, tapi tetap menyadari bahwa ada 1% kemungkinan yang tidak bisa dikendalikan. Namun, realita Pemira ternyata jauh dari ekspektasi.

“Ketika banyak hal tidak sesuai, rasa kecewa dan marah itu wajar muncul. Tapi saya sadar, langkah mundur bukan berarti kalah. Setiap keputusan punya makna dan pelajaran. Inilah saatnya belajar ikhlas,” katanya.

Keputusan ini, menurut Andi, bukan sekadar menyerah, melainkan bagian dari upaya melihat gambaran yang lebih besar. Ia tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, menghadiri uji publik dan roadshow Pemira Undip 2024 Andi dan Farisy tetap membuka ruang untuk diskusi terbuka dengan paslon lainnya, berharap bisa berbagi gagasan untuk kemajuan mahasiswa Undip.

Berbicara tentang tantangan, Andi mengungkap bahwa Pemira tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Awalnya diikuti oleh tiga paslon, Pemira Undip 2024 menyuguhkan tensi yang sangat tinggi.

“Dengan tiga paslon, harusnya ini menjadi ajang pertarungan gagasan, keresahan, dan inovasi. Tapi pada kenyataannya, fokus itu tidak pernah benar-benar tercapai,” ungkapnya.

Ia menilai, tantangan terbesar justru datang dari penyelenggaraan Pemira itu sendiri.

“KPPR harusnya menjadi wadah yang baik bagi mahasiswa yang ingin mengabdi. Tapi kenyataannya, wadah itu tidak tercipta dengan baik. Akibatnya, pengabdian kita tidak maksimal,” kritik Andi.

Ketika ditanya soal netralitas penyelenggara Pemira, mantan paslon tersebut memberikan jawaban yang lugas, tetapi penuh pertimbangan.

“Kalau aku masih menjadi paslon, mungkin aku akan memilih untuk diam. Tapi sekarang, aku sudah bukan paslon lagi, jadi aku merasa perlu berbicara,” ujarnya.

Ia menyoroti bahwa menilai netralitas penyelenggara bukanlah hal yang mudah, karena hanya pihak tertentu yang benar-benar mengetahui fakta sebenarnya.

“Siapa yang tahu netralitas mereka? Hanya dua, mereka sendiri dan mungkin kelompok yang menunggangi mereka. Tapi aku tidak akan menyebut atau memfitnah siapa pun,” tegasnya.

Menurutnya, netralitas penyelenggara masih menjadi tanda tanya besar karena kurangnya transparansi dalam berbagai aspek. Ia menyebutkan bahwa hingga kini, nama-nama anggota Badan Pengawas Pemilihan Raya (BPPR) tidak pernah diumumkan secara terbuka.

“Aku baru tahu ada KPPR karena sudah bertemu langsung. Tapi BPPR? Tidak pernah ada informasi. Ini menunjukkan kurangnya transparansi dalam struktur penyelenggaraan Pemira,” kritiknya.

Beberapa kejanggalan pun Andi sebutkan terkait ketidaksiapan KPPR dalam memberikan wadah yang layak bagi calon pemimpin mahasiswa Undip. Misalnya, sosialisasi petunjuk teknis (juknis) dilakukan pada Jumat, (22/11), hanya sehari sebelum masa pendaftaran di buka, yaitu Sabtu-Rabu, (23-27/11). Masa pendaftaran yang singkat ini dinilai tidak cukup memberi waktu bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri secara maksimal.

“Kalau memang Pemira bertujuan menciptakan demokrasi yang baik, harusnya prosesnya lebih matang,” ujarnya.

Ia menambahkan, sosialisasi idealnya dilakukan jauh hari sebelum oprek dan masa pendaftaran sebaiknya dibuka lebih lama agar semua pihak memiliki kesempatan yang adil. Ia juga mencatat ketimpangan proses seperti jadwal roadshow yang bersamaan dengan masa Ujian Akhir Semester (UAS), yang dirasa tidak realistis.

“Bagaimana kami bisa fokus menjalani UAS dan tetap ikut Pemira secara maksimal? Kebijakan seperti ini malah menimbulkan kecurigaan adanya upaya menggagalkan salah satu paslon,” tambahnya.

Ia juga menyoroti tidak adanya ketegasan dalam menangani isu-isu yang berkembang di masyarakat.

“Banyak opini liar di media sosial yang tidak pernah diluruskan. Akibatnya, isu-isu ini menjadi bola liar yang merugikan banyak pihak,” katanya.

Situasi ini, menurutnya, menciptakan kontestasi yang lebih menyerupai “pertarungan opini toxic” daripada adu gagasan. Pemira Undip 2024 juga diwarnai dengan berbagai serangan personal, khususnya terhadap Paslon 3. Ketika ditanya mengenai fenomena ini, ia mengungkapkan rasa kecewa dan sedih.

“Jika akun-akun buzzer yang menyerang itu adalah mahasiswa Undip, aku sangat menyayangkan. Tapi kalau mereka orang luar, aku lebih menyayangkan mereka sebagai masyarakat Indonesia,” katanya dengan nada prihatin.

Ia menekankan bahwa integritas dan moralitas adalah nilai dasar yang diajarkan sejak kecil, namun hal itu tampaknya diabaikan dalam kontestasi ini.

“Di masa kuliah, kita sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Menyebarkan hoaks adalah kesalahan, dan menerima hoaks tanpa memfilterisasi informasi juga adalah bentuk kesalahan,” tambahnya.

Sebagai refleksi, ia menyampaikan bahwa politik kampus seharusnya menjadi ajang untuk bertarung gagasan, membangun argumentasi, dan mendapatkan dukungan melalui ide-ide yang kuat.

“Tapi yang terjadi sekarang adalah upaya menjatuhkan lawan dengan cara-cara yang tidak sehat,” ujarnya.
Andi berharap Pemira Undip dapat bertransformasi menjadi ruang politik yang lebih berintegritas dan profesional.

“Pemira adalah cerminan politik di masa depan. Jika di kampus saja kita sudah bermain tidak sehat, bagaimana nantinya ketika kita terjun ke dunia politik yang lebih besar?” tanyanya retoris.

Keputusan untuk mundur dari kontestasi Pemira Undip 2024 tidaklah mudah bagi Andi. Sebelum membuat keputusan tersebut, ia mengaku telah berdiskusi dengan Farisy. Dalam percakapan yang berlangsung, ia mengungkapkan kekhawatiran yang semakin mendalam mengenai kondisi Pemira dan kesiapan untuk menghadapitantangan yang ada.

“Farisy bilang, ‘Kondisi kita saat ini sudah seperti ini. Aku udah nggak kuat’,” ungkap Andi.

Farisy mengungkapkan kepada Andi bahwa perjuangan untuk melanjutkan pemilihan ini akan semakin berat dan tidak menjamin hasil yang positif, bahkan jika mereka menang.

“Kita lihat aja KPPR, ini sudah toxic. Ini sudah sakit,” kata Farisy mengingatkan Andi.
Perasaan Farisy ini mencerminkan perasaan frustasi yang semakin menguat, terutama karena banyaknya intervensi dari mahasiswa Undip yang dianggap menghalangi langkah mereka untuk membawa perubahan positif.

Namun, meskipun Farisy menyarankan untuk mundur, Andi mencoba menenangkan rekan sejawatnya itu.
“Ya sudah, kita coba cari solusi. Kita hadapi ini bareng-bareng,” ujarnya.

Farisy menyampaikan semua pandangan-pandangannya kepada Andi. Pernyataan yang ia sampaikan ke grup WhatsApp tersebut juga telah Farisy kirimkan kepada Andi terlebih dahulu. Meski awalnya Andi menyayangkan langkah mereka untuk mundur, tetapi ia juga harus bisa memahami kondisi Farisy, begitu pun dengan pendukung mereka.

Pada akhirnya, ia menerima bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari takdir yang lebih besar dan kegagalan maupun keberhasilan memiliki hikmah yang bisa dipelajari. Keputusan mundur ini bukan berarti menyerah, tetapi lebih pada keberanian untuk memilih jalan yang lebih sesuai dengan nilai-nilai yang ingin dijunjung tinggi.

“Semua ini pasti ada jalan. Kalau gagal, berarti Tuhan baik sama kita. Kalau berhasil, berarti Tuhan percaya sama kita,” pungkasnya.

Reporter: Nuzulul Magfiroh, M. Irham Maolana, Hilda Muhammad Tahir, Ayu
Nisa’Usholihah
Penulis: Nuzulul Magfiroh
Editor: Ayu Nisa’Usholihah, Hesti Dwi Arini

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top