RSUP Kariadi Berhentikan Dekan FK Undip: Civitas Academica Gelar Apel dan Doa Bersama #WeStandWithdr.Yan

Suasana apel pagi dan doa bersama di Lapangan Basket FK Undip, pada Senin pagi (2/9). (Sumber: Manunggal)

 

Warta Utama – Suasana penuh keprihatinan menyelimuti apel pagi dan doa bersama yang digelar oleh segenap civitas academica Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro (Undip) di Lapangan Basket FK Undip, pada Senin pagi (2/9). 

Kegiatan ini diadakan sebagai bentuk dukungan moril terhadap Dekan FK, Dr. dr. Yan Wisnu Prajoko, M.Kes., Sp.B., Subsp.Onk(K), yang baru-baru ini diberhentikan dari jabatannya sebagai dokter klinis di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Kariadi.

Keputusan pemberhentian dr. Yan Wisnu dari posisinya di RSUP dr. Kariadi muncul setelah mencuatnya kasus dr. Aulia Risma Lestari, mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) FK Undip Program Studi (Prodi) Anestesi dan Terapi Intensif, yang meninggal dunia akibat bunuh diri. 

Polemik tersebut memicu perhatian publik karena adanya dugaan bahwa dr. Aulia menjadi korban perundungan yang terjadi di lingkungan akademik.

Meski demikian, banyak pihak dari kalangan civitas academica yang menilai keputusan ini tidak sepenuhnya adil. Mereka berpendapat bahwa dr. Yan Wisnu selalu menunjukkan dedikasi tinggi terhadap mahasiswa serta rekan-rekannya di FK Undip dan RSUP dr. Kariadi.

Apel pagi dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Para peserta mengenakan pakaian serba hitam dan beberapa di antaranya membawa tulisan bertajuk “We Stand With dr. Yan Wisnu.” Aksi ini merupakan wujud dukungan kepada dr. Yan Wisnu yang dikenal sebagai sosok berintegritas tinggi dan berdedikasi dalam menjalankan tugasnya, baik sebagai Dekan FK Undip maupun sebagai dokter di RSUP dr. Kariadi.

Dalam amanatnya, dr. Yan Wisnu menyampaikan rasa harunya atas kehadiran seluruh civitas academica pada apel pagi tersebut. 

“Ini menunjukkan bahwa kita satu keluarga besar yang bersama-sama mencintai rumah kita (FK Undip, red) dan rumah besar tempat kita bernaung yang telah melebur dalam darah daging kita, yaitu Undip,” ungkap dr. Yan Wisnu.

Lebih lanjut, ia juga menekankan bahwa dinamika yang dihadapi saat ini seharusnya tidak membuat civitas academica lemah atau patah semangat, melainkan menjadi momentum untuk bangkit bersama, mengandalkan kekuatan dan pertolongan Sang Pencipta, serta menjalankan institusi dengan sebaik-baiknya dan sebersih-bersihnya. 

“Kita harus menciptakan lulusan-lulusan dokter, dokter spesialis, dokter subspesialis, dokter gigi, nurse, nutrition, dan ahli farmasi yang unggul dan akan membaktikan diri di bumi pertiwi,” pungkas dr. Yan Wisnu dalam amanatnya. 

Sebagai respons atas situasi ini, Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) juga merilis pernyataan sikap terkait pemberhentian PPDS Anestesi dan Reanimasi serta pemberhentian aktivitas klinik dr. Yan Wisnu di RSUP dr. Kariadi  yang dibacakan saat apel pagi tersebut. 

Dalam pernyataan yang tertanda oleh Ketua AIPKI, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG(K), dan ditetapkan di Jakarta pada Minggu (1/9), terdapat beberapa poin utama, yaitu sebagai berikut: 

  1. Penolakan terhadap segala bentuk bullying dalam pendidikan kedokteran.
  2. Komitmen terhadap pengusutan kasus dengan prinsip keadilan dan transparansi.
  3. Menghormati proses investigasi dan menghindari penghakiman dini.
  4. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan dukungan kepada Dr. dr. Yan Wisnu Prajoko, M.Kes., Sp.B., Subsp.Onk(K), yang telah menunjukkan integritas dan dedikasi tinggi dalam menjalankan tugasnya sebagai Dekan FK Undip.
  5. IDI menyesalkan pemberhentian aktivitas klinik dr. Yan Wisnu Prajoko di RSUP dr. Kariadi sebelum investigasi selesai.
  6. IDI mengharapkan agar tindakan ini tidak menjadi preseden yang merusak iklim akademik dan profesionalisme di lingkungan pendidikan kedokteran.
  7. IDI juga menghimbau agar PPDS Anestesi dan Reanimasi dapat berjalan kembali di RSUP dr. Kariadi dan dr. Yan Wisnu Prajoko dapat melanjutkan aktivitas kliniknya sesuai keahlian sub spesialisasinya yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

IDI berharap agar pernyataan sikap ini menjadi perhatian bagi semua pihak terkait, agar dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini serta bersama-sama memperbaiki sistem pendidikan kedokteran di Indonesia sehingga menciptakan lingkungan yang adil, profesional, dan mendukung pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang kesehatan.

Ketua Senat FK Undip, Prof. Dr. dr. Tri Indah Winarni, M.Si.Med., PA., memberikan pernyataan yang mempertegas komitmen FK  Undip dalam menghadapi situasi ini. 

“Peran itu selalu nomor satu untuk FK. Saya sampaikan yang kedua adalah kesetaraan. Kita tidak pernah meminta aksi-aksi brutal yang dilakukan oleh civitas academica Undip karena kita adalah seorang pendidik. Jadi, arogansi bukan menjadi pilihan FK Undip,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa negara Indonesia adalah negara milik bersama, bukan menjadi milik kementerian tertentu.

“FK Undip dengan RSUP dr. Kariadi ialah pasangan suami-istri yang sudah menikah berpuluh-puluh tahun dan saat ini dihadapkan dengan situasi sulit yang seolah-olah kita diminta bercerai oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes),” imbuh Prof. Tri.

Sementara itu, Wakil Rektor IV Undip, Wijayanto S.IP., M.Si., Ph.D., turut menyampaikan keprihatinannya dan menghimbau semua pihak untuk terlebih dahulu melihat dan memeriksa fakta dengan jeli serta bersabar dalam situasi seperti ini. 

“Yang utama adalah kita semua bersedih dengan situasi ini, bahwa ada satu anak kita, mahasiswa kita, yang pergi mendahului kita. Ini adalah duka yang sangat mendalam buat Undip,” ungkap Wijayanto. 

Ia juga menegaskan bahwa tuduhan yang diarahkan kepada FK sudah melampaui batas dan menyatakan bahwa aksi yang digelar pagi ini adalah bentuk penolakan terhadap premanisme yang ditujukan kepada FK Undip. 

“Kita sangat mendengar apa yang disampaikan oleh masyarakat dan kita percaya bahwa semua masukan, komentar yang ada di sosial media, itu semua kita lihat sebagai bentuk kepedulian masyarakat kepada FK,” tegasnya.

Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama sebagai bentuk permohonan agar situasi ini segera menemukan jalan keluar yang adil dan damai, serta menjadi penguat semangat kebersamaan civitas academica FK Undip dalam menghadapi tantangan ini.

 

Reporter: M. Irham Maolana

Penulis: M. Irham Maolana

Editor: Hesti Dwi Arini, Ayu Nisa’Usholihah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top