Jokowi dalam Catur Politik di Akhir Periode

Jokowi dan Catur (Ilustrasi: Freddy Prastianto)

 

Opini – Menuju babak akhir, Jokowi banyak melakukan manuver politik. Seperti permainan catur, ketika sudah masuk ke tahap endgame, ada dua alasan mengapa raja melakukan manuver bergerak ke kiri dan kanan, yang pertama untuk memastikan kemenangan, yang kedua sedang dalam posisi bertahan.

Akhir-akhir ini, Jokowi mendapat berbagai kecaman dari masyarakat atas manuver politiknya. Tak seperti manusia pada umumnya yang cenderung lebih tenang dalam menghadapi masa pensiunnya, mantan pengusaha mebel ini malah sibuk banyak campur tangan dalam mengurusi transisi pemerintahan. Manuver politik yang dilakukan Jokowi ini pun menuai banyak respons negatif dari masyarakat.

Melihat manuver yang dilakukan Jokowi, sebetulnya tak heran jika mengetahui bahwa Wakil Presiden terpilih di periode selanjutnya adalah Gibran Rakabuming Raka, anak kandung pertamanya. Kesibukan Jokowi di akhir periode dapat diasumsikan sebagai rasa kasih sayang yang luar biasa dari seorang bapak kepada anaknya.

Catur dan politik memiliki kesamaan. Catur dan politik melibatkan perencanaan jauh ke depan, kemampuan beradaptasi dengan situasi, serta seni membaca lawan. Catur dapat diibaratkan sebagai politik dalam arena skala mini, yaitu setiap bidak mewakili kepentingan yang berbeda-beda dan setiap langkah yang dilakukan adalah manuver politik. Oleh karena itu, menarik melihat bagaimana Jokowi “bermain catur” di atas meja politik pada akhir masa jabatannya.

Dengan hanya tersisa 2 bulan lagi, Jokowi masih sempat melakukan reshuffle kabinet dengan melantik beberapa menteri baru. Jika dilihat secara kasat mata, sebetulnya tidak ada parameter yang jelas mengenai mengapa pergantian menteri di 2 bulan terakhir jabatannya perlu dilakukan.

Namun, dalam permainan catur, kondisi tersebut dapat diibaratkan sebagai strategi “Regrouping” atau perombakan posisi. Strategi tersebut digunakan untuk memosisikan kembali bidak-bidak di papan catur agar siap menghadapi situasi berikutnya, misalnya melakukan persiapan untuk menyerang atau bertahan di akhir permainan (end game).

Dalam kondisi ini, seperti Jokowi yang melakukan reshuffle kabinet, pemain catur perlu memindahkan “perwira” ke posisi yang lebih strategis untuk menyusun kembali strategi, dengan tujuan untuk bertahan atau menyerang dengan lebih kuat. Upaya pergantian menteri di akhir kabinet juga dapat dipahami sebagai strategi untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi masa transisi atau akhir jabatan untuk melanggengkan kekuasaan.

Lebih dari itu, di akhir era Jokowi, banyak Undang-Undang (UU) yang direvisi, dirombak, dan diotak-atik. Mari kita sebutkan beberapa di antaranya yang paling sesat, yaitu Revisi UU Mahkamah Konstitusi (MK) yang dinilai bakal memengaruhi independensi hakim konstitusi, Revisi UU Penyiaran yang membatasi praktik jurnalisme investigasi, Revisi UU Polisi Republik Indonesia (Polri) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang memberikan kekuasan kepada militer untuk masuk ke ranah sipil, Revisi UU Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang menganulir putusan MK mengenai ambang batas pencalonan dan usia minimum calon kepala daerah, serta masih banyak lagi. Kesibukan dalam merevisi sejumlah UU di akhir jabatan Jokowi dinilai tidak mewakili kepentingan rakyat. Sebaliknya, Revisi UU yang dilakukan pemerintah justru merugikan rakyat.

Merujuk pada situasi tersebut, salah satu strategi yang mirip dalam permainan catur adalah “Sacrifice for Initiative”. Dalam strategi ini, seorang pemain catur mengorbankan pion atau bahkan perwira untuk mendapatkan keuntungan posisi, membuka posisi celah lawan atau melakukan serangan yang lebih kuat. Ini merupakan langkah yang berisiko tinggi, tetapi jika berhasil, pemain bisa mendapatkan keunggulan yang signifikan dalam permainan.

Langkah tiap langkah yang dilakukan Jokowi melalui setiap bidaknya merupakan langkah jangka panjang untuk mempertahankan kekuasaan yang perlu diantisipasi oleh seluruh elemen masyarakat. Pergerakannya yang frontal dan agresif serta merugikan masyarakat perlu dijegal dan dibalas dengan keras pula. Karena jika tidak, demokrasi akan kehilangan maknanya.

Dalam semua langkah politik yang telah dilakukan Jokowi, memang ada bayangan permainan catur yang tampak serupa. Strategi dalam catur memang sebetulnya dapat diterapkan dalam situasi politik, serta dapat digunakan dengan bijak dan sebaik-baiknya.

Namun, dalam konteks Jokowi, dia tidak hanya sekadar bermain catur, tetapi dia bermain dengan membuat peraturannya sendiri, menggiring bidak-bidaknya dengan kepentingan pribadi, tanpa ragu, tanpa malu, seakan etika dan kepentingan masyarakat adalah bidak yang mudah dikorbankan.

Penggunaan permainan catur sebagai pisau analisis situasi politik di era Jokowi hanyalah sebatas metafora. Bagaimanapun, hanya pihak yang berkaitan yang dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dapur istana.

 

Penulis: Freddy Prastianto 

Editor: Ayu Nisa’Usholihah

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top