Mahasiswa KKN Undip Ajak Warga Desa Banaran Atasi Permasalahan Sampah Plastik melalui Pembuatan Ecobrick

Sosialisasi Pembuatan Ecobrick kepada Ibu-Ibu PKK Dukuh Banaran, Desa Banaran pada Rabu, (7/8) (Sumber: Dok. Pribadi)

 

Citizen Journalism – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) 2023/2024, Alea Widyadhana Rahima, mahasiswi Program Studi (Prodi) Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), mengembangkan program pembuatan ecobrick bertajuk “Ecobrick for Change: Transformasi Plastik untuk Masa Depan” di Desa Banaran, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Batang.

Program ini dilaksanakan bersamaan dengan acara rutin ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) pada Rabu, (7/8). Pelaksanaan program tak luput dari masalah pencemaran sampah plastik di Desa Banaran.

Program Ecobrick for Change bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah plastik serta pembuatan ecobrick sebagai solusi kreatif yang ramah lingkungan dalam mengatasi masalah pencemaran sampah plastik. Melalui ecobrick, plastik bekas yang sulit terurai dapat dimanfaatkan kembali menjadi bahan bangunan yang ramah lingkungan. 

Ketua Rukun Tetangga (RT) 01, Rukun Warga (RW) 02, Desa Banaran, Nining Syarofah, menuturkan program pembuatan ecobrick pernah ada di Desa Banaran dan sempat dijalankan semasa pandemi Covid-19. Namun, seiring berjalannya waktu program tersebut tidak dilanjutkan.

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia dengan menduduki peringkat kedua setelah Tiongkok. Timbulan sampah plastik yang dihasilkan mencapai 9,9 juta ton pada tahun 2024. Tak hanya mencemari daratan, sampah plastik juga mencemari lautan di Indonesia. 

Dari 80% sampah laut Indonesia, 30% di antaranya adalah sampah plastik. Sampah plastik yang dibiarkan menumpuk tanpa pengelolaan yang baik dapat mencemari lingkungan sekitar dan memberikan dampak negatif bagi kesehatan manusia.

Program ecobrick ini dilaksanakan melalui sosialisasi mengenai manfaat dan cara pembuatan ecobrick. Ibu-ibu PKK juga ditunjukkan botol plastik bekas ukuran 600 ml, sampah plastik, alat pemadat, ecobrick yang telah jadi, dan poster panduan. Setelah kegiatan selesai, ecobrick dan poster panduan dibagikan kepada salah satu ibu PKK untuk nantinya dapat diterapkan dalam rangka mengelola sampah plastik menjadi produk yang ramah lingkungan.

Program pembuatan ecobrick ini mendapatkan respons positif dan apresiasi dari ibu-ibu PKK yang menghadiri kegiatan tersebut. Mereka menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi dan ingin menerapkan program tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan dengan keberlanjutan program tersebut dapat menjadi solusi dari permasalahan Desa Banaran dalam menghadapi pencemaran sampah plastik.

 

Penulis: Alea Widyadhana Rahima (Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat)

Editor: Ayu Nisa’Usholihah, Nuzulul Magfiroh

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top