
Citizen Journalism – Pada Kamis, (8/8) telah dilaksanakan program kerja (proker) monodisiplin oleh Leonardo Andromeda di Desa Pulosari, Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar.
Tersembunyi di balik hamparan sawah, Desa Pulosari, Kecamatan Kebakkramat menyimpan tradisi dan peninggalan yang bernilai. Kehidupan masyarakat yang sudah modern menjadi salah satu faktor pemicu kurangnya informasi akan hal tersebut. Sejarahnya pun sudah sulit terlacak, bahkan masyarakat Desa Pulosari tidak banyak yang mengetahui tradisi dan peninggalan yang mereka miliki.
Sadar akan hal tersebut, Leonardo Andromeda mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) Tahun 2023/2024 Program Studi (Prodi) Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), mengusung proker dengan tema “Sosialisasi dan Pendampingan dalam Pembuatan Profil Desa Pulosari.”
Proker ini bertujuan untuk membantu Pemerintah Desa Pulosari dalam melacak jejak sejarah dan meningkatkan pengetahuan masyarakat akan tradisi serta budaya yang dimiliki. Hal ini dilakukan semata-mata untuk memperkaya keragaman budaya Indonesia.
Pembuatan infografis profil sejarah Desa Pulosari ini dilaksanakan melalui wawancara dengan Kepala Desa Pulosari, Sutino. S.Pd. Pelacakan sejarah Desa Pulosari ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat akan asal-usul desa mereka serta berpotensi menjadikan Desa Pulosari sebagai wisata budaya.
Diperkirakan berdiri sejak tahun 1937, desa ini bermula dari permukiman kecil dengan 45 keluarga dari Jawa Timur. Sejak saat itu, Pulosari kemudian berkembang menjadi komunitas yang dinamis dengan populasi yang terus bertambah, hingga mencapai 460 jiwa pada tahun 1943.
Kepemimpinan desa pun terus berganti. Mulai dari Patmo Wirdjo pada era awal, hingga kepemimpinan modern oleh Sutino, S.Pd., yang saat ini mengemban tugas memimpin desa.
Salah satu tradisi yang masih dijaga sampai sekarang adalah Tradisi Watu Manten, yaitu sebuah ritus kultural yang melibatkan batu keramat di kompleks makam Astonoloyo Eyang Umbul. Tradisi ini dipercaya sebagai pelindung bagi pasangan baru agar terhindar dari malapetaka, khususnya selama pernikahan.
Tidak hanya itu, Desa Pulosari juga memiliki situs cagar budaya. Penemuan-penemuan seperti artefak Megalitik dari era Majapahit memberi bukti tentang kedalaman sejarah desa ini. Hal ini merupakan bagian dari usaha desa untuk melestarikan dan melaporkan temuan bersejarah kepada pemerintah guna penelitian dan pelestarian lebih lanjut.
Pelaksanaan proker tersebut melibatkan mahasiswa KKN Desa Pulosari, Kepala Desa Pulosari, serta perangkat desa dan masyarakat. Proker dilaksanakan di Kantor Desa Pulosari, Watu Manten, dan Situs Cagar Budaya Pulosari.
Harapannya, dengan dilaksanakan proker tersebut dapat membantu Pemerintah Desa Pulosari dan masyarakat secara umum mengenai pelacakan sejarah, tradisi, serta peninggalan yang dimilikinya.
Penulis: Leonardo Andromeda (Mahasiswa Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya)
Editor: Ayu Nisa’Usholihah, Hesti Dwi Arini



