1Q84, Pergeseran Dunia dalam Semesta Surealis Murakami

BUKU – 1Q84, sebuah novel dengan tebal lebih dari 900 halaman yang sarat akan kekonyolan, kejanggalan, dan peristiwa penuh tanda tanya. Alih-alih membuat pembaca menutup buku, Murakami, sang penulis berhasil menyeret mereka untuk tenggelam dan mengendap dalam pikirannya. Audiens seakan dipaksa untuk menelusuri alur yang ia ciptakan agar dapat benar-benar lepas dari bayang-bayang cerita ini.

Layaknya karya-karya Murakami lainnya seperti “The Wind-Up Bird Chronicle” dan “Kafka on the Shore”, 1Q84 menyuguhkan kalimat-kalimat dan situasi-situasi yang tampak sederhana namun perlahan berubah menjadi pemahaman mendalam mengenai jebakan-jebakan distopia dalam hidup kita sendiri yang sangat nyata.
Bab-bab dalam novel ini menyuguhkan dua alur bergantian antara dua tokoh yang berbeda, dimana seiring berjalannya cerita alur dua kehidupan mereka semakin mendekat dan saling berkaitan satu sama lain.

Pada bab pertama, dikisahkan seorang wanita muda bernama Aomame bekerja sebagai pembunuh diam-diam para pelaku pelecehan seksual. Kemunculan Aomame diawali dengan adegan di kawasan jalan tol metropolitan di Tokyo pada tahun 1984. Adegan ini menyuguhkan percakapan antara Aomame dengan pengemudi taksi yang ia tumpangi bersamaan dengan diputarnya Sinfonietta karya Janacek yang secara tiba-tiba menghasilkan sensasi aneh pada tubuhnya dan juga perubahan realitas di sekitarnya secara signifikan. Adegan ini menjadi titik awal hilangnya distorsi antara dunia realis dengan dunia surealis yang disebut sebagai 1Q84.

Dalam dunia surealis yang Murakami ciptakan, Aomame pertama kali memahami kejanggalan realitas disekitarnya, mulai dari warna seragam polisi negara yang secara tiba-tiba berubah, hingga kemunculan dua bulan di langit yang saling berdekatan satu sama lain. Fenomena ini membuat ia menamai dunia tersebut sebagai tahun 1Q84. Dalam hal ini, perubahan angka 9 menjadi huruf Q sebagai kepanjangan dari “Question” pada tahun 1984 menjadi pertanda bahwa Aomame mempertanyakan kewarasannya dengan kejanggalan dunia distopia di sekelilingnya. Selain karena alasan itu, Murakami memberi alasan pribadi mengenai penamaan dunia 1Q84, dimana dalam bahasa Jepang angka “9” menggunakan pelafalan yang sama dengan huruf “Q” dalam bahasa Inggris.

Pada bab berikutnya, digambarkan seorang pria bernama Tengo, mantan pegulat judo yang mengajar matematika dan dihantui oleh memori ibunya saat ia masih bayi. Dalam sudut pandang Tengo, adegan diawali dengan kemunculan memori ibunya di pertengahan percakapan antara dirinya dengan seorang editor penerbitan bernama Komatsu. Tengo sendiri bercita-cita untuk menjadi seorang penulis, karena itu ia mengambil tawaran pekerjaan ghost writing sebuah novel berjudul “Kepompong Udara” dari seorang remaja disleksia bernama Fuka-Eri. Ia dan Komatsu berencana untuk menyerahkan hasil naskah tersebut pada penghargaan sastra terbesar di Jepang. Saat proses penulisan ulang naskah “Kepompong Udara”, kita mulai melihat beberapa kesamaan antara dunia fiksi dalam “Kepompong Udara” milik Fuka-Eri dengan dunia 1Q84 yang dialami Aomame. Kisah ini juga ditambah dengan keberadaan kultus keagamaan aneh yang mengintai mereka.

Dalam penulisan novel ini, saya sendiri sudah memahami bahwa Murakami menjadikan karya George Orwell yang berjudul “1984” sebagai inspirasi besar baik dalam penyusunan konsep cerita hingga pada tahap penulisan judul “1Q84”. Selain itu, Murakami sudah pasti tahu bahwa istilah “Orwellian” sendiri merujuk pada kata sifat yang menggambarkan situasi, ide, atau kondisi merusak kesejahteraan masyarakat yang bebas dan terbuka. Hal ini menjadi masuk akal dengan dunia yang ia ciptakan dalam 1Q84 dengan adanya pergeseran realitas yang janggal. Meskipun begitu, hal yang paling menakutkan dari novel ini ialah meski kita tidak bisa menerima segala macam kejanggalan dan ketidakteraturan dalam beberapa adegan, tetapi kita tidak dapat memungkiri bahwa karya “1Q84” milik Murakami secara halus berhasil mencerminkan dan meniru dunia kita saat ini.

Lebih dari penulis manapun, Murakami selalu memiliki kemampuan menghargai keanehan dunia asli yang kita huni dan secara terang-terangan ia sama sekali tidak takut untuk memasukkan unsur-unsur surealisme atau realisme magis sebagai cermin untuk melihat diri para pembaca apa adanya pada setiap karya yang ia ciptakan. Benar-benar ajaib!

“Things are not what they seem. But don’t let appearances fool you. There is always only one reality.”

-Haruki Murakami (1Q84)-

Penulis : Alysia Jati Mustika Ilmi
Editor: Rafika Immanuela, Christian Noven

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top