
Apresiasi — Setiap tanggal 5 Juni, Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga bumi dan lingkungan alam melalui tindakan-tindakan kita. Pada momen ini, berbagai kampanye lingkungan dilakukan, mulai dari penanaman pohon, pengurangan limbah plastik, hingga aksi bersih-bersih lingkungan sekitar yang berdampak positif terhadap lingkungan. Namun, di tengah berbagai aksi berdampak tersebut, ada satu permasalahan yang sering kali luput dari perhatian kita, yakni isu mengenai food waste atau sampah makanan.
Indonesia adalah penghasil sampah terbesar di Asia tenggara. Menurut laporan United Nations Environment Programme (UNEP) tahun 2024, Indonesia menghasilkan sampah makanan rumah tangga sebesar 14,73 ton. Pada tahun 2025, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pun mencatat total sampah di Indonesia mencapai 25,14 juta ton, dengan 40,76% di antaranya merupakan sisa makanan yang mana persentasenya jauh melampaui jenis sampah lainnya. Berdasarkan data tersebut, kita dapat melihat bahwa permasalahan food waste dalam negeri belum dibenahi secara optimal. Padahal, dampak yang ditimbulkan lebih dari sekadar tumpukan sampah di pembuangan akhir.
Setiap makanan terbuang yang berasal dari penyajian berlebih maupun manajemen konsumsi yang buruk mencerminkan rangkaian sumber daya yang disia-siakan. Mulai dari lahan yang digunakan untuk memproduksi bahan pangan, air yang digunakan untuk mengairi lahan pertanian, hingga energi untuk distribusi bahan pangan. Lebih jauh, sisa makanan terbuang yang menjadi food waste, memiliki dampak buruk terhadap keberlangsungan bumi. Menurut World Resources Institute (WRI), food waste menyumbang sekitar 8% emisi gas rumah kaca global. Sementara itu, sebagian besar emisi merupakan dampak dari pembusukan food waste di tempat pembuangan akhir menghasilkan gas metana. Gas metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang dampaknya lebih besar terhadap pemanasan global dibanding karbondioksida dalam jangka pendek. Dengan demikian, sampah makanan bukanlah sekadar masalah kebersihan semata, melainkan sesuatu yang berperan penting dalam meminimalisir timbulnya masalah iklim yang lebih serius.
Melihat dampak signifikan dari food waste, tentunya pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini menjadi momen yang tepat untuk mengingat seberapa penting tindakan kecil kita memengaruhi suhu bumi. Food waste yang sangat dekat dan personal sering kali membuat kita abai terhadap implikasinya. Fenomena ini awalnya terjadi di piring kita sendiri, menjadikan permasalahan tampak lebih remeh dibanding permasalahan lingkungan lain, seperti limbah pabrik maupun polusi udara. Alhasil, dari kebiasaan sederhana seperti membuang sisa nasi atau sayuran tampak tidak berbahaya bagi lingkungan. Di sisi lain, budaya menyajikan makanan dalam jumlah besar di kalangan masyarakat Indonesia, termasuk acara hajatan dan semacamnya masih lazim dan sering dilakukan. Estimasi kebutuhan yang tidak tepat, ditambah kebiasaan berlebihan dalam menyajikan makanan menjadi penyumbang signifikan timbunan sampah makanan.
Selanjutnya, di sinilah kita perlu menyadari pentingnya mengelola piring kita agar tidak berakhir menjadi food waste. Pada tingkat individu, hal paling sederhana untuk mengurangi food waste adalah dengan menjadi ‘cukup’. Hindari belanja bahan makanan berlebih dan simpan bahan makanan dengan benar agar tidak cepat rusak dan dapat diolah dengan baik. Selain itu, pastikan untuk tidak menyajikan makanan secara berlebihan agar tidak ada sisa makanan yang terbuang. Alternatifnya, olah kembali sisa makanan menjadi makanan yang layak konsumsi jika memungkinkan, serta pilah sampah organik untuk dijadikan kompos yang bermanfaat untuk lingkungan. Sementara itu, pada tingkat yang lebih luas, misalnya pada industri makanan, dukung kebijakan pengurangan sampah makanan. Di antaranya dengan redistribusi pangan berlebih kepada yang membutuhkan dan penguatan terhadap regulasi terkait limbah makanan sebagai solusi jangka panjang.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia seharusnya lebih dari sekadar peringatan tahunan. Jadikanlah hari ini sebagai kesempatan untuk mengevaluasi kebiasaan-kebiasaan kecil yang berdampak terhadap lingkungan. Hal tersebut menjadi upaya kita untuk lebih peka terhadap permasalahan sepele yang memiliki dampak signifikan terhadap pelestarian lingkungan, seperti food waste. Berperan dalam menjaga lingkungan tidak selalu dengan langsung melakukan langkah besar. Melalui keputusan kecil, seperti menghabiskan makanan di piring kita pun menjadi peranan penting yang dapat kita lakukan ditengah krisis iklim yang berada di depan mata.
Penulis : Bella Cindy Claresta
Editor : Andaru Surya, Salsa Puspita
Referensi :
Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2013). Food Wastage Footprint: Impacts on natural resources. https://www.fao.org/4/i3347e/i3347e.pdf. Diakses pada 31 Maret 2026.
Goodstats. (2025). Sampah Indonesia Didominasi Sisa Makanan Pada 2025. https://goodstats.id/article/sampah-indonesia-didominasi-sisa-makanan-pada-2025-Yttj3. Diakses Pada 31 Maret 2026.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). KLHK. https://sampahnasional.kemenlh.go.id/. Diakses pada 31 Maret 2026.
United Nations Environment Programme. (2024). Food waste Index Report 2024. UNEP. https://www.unep.org/resources/publication/food-waste-index-report-2024. Diakses pada 31 Maret 2026.
United Nations Framewrok Convention on Climate Changes. (2024, September 30). Food loss and waste account for 8-10% of annual global greenhouse gas emissions; cost USD 1 trillion annually. UNFCCC. https://unfccc.int/news/food-loss-and-waste-account-for-8-10-of-annual-global-greenhouse-gas-emissions-cost-usd-1-trillion. Diakses pada 31 Maret 2026.



