
Citizen Journalism — Tim mahasiswa Program Pendanaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Universitas Diponegoro (Undip), Sulhan Fuadi, mahasiswa Program Studi (Prodi) Informatika Fakultas Sains dan Matematika (FSM) angkatan 2023, Arga Yura Danendra, mahasiswa Prodi Informatika FSM angkatan 2024, dan Irene Feby Rotua Manalu, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) angkatan 2024 berhasil meraih pendanaan melalui P2MW kategori Bisnis Digital pada Sabtu (25/5/2026). Tim ini berhasil membawa inovasi aplikasi pembelajaran bernama Aksa, sebuah platform yang dikembangkan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih personal dan interaktif dengan kolaborasi antara kreator (human) dan Akal Imitasi (AI).
Aksa dikembangkan sebagai solusi atas ekosistem pembelajaran bagi siswa dan mahasiswa yang berbasis komunitas dan multiplatform. Selama ini, proses pendaftaran, komunikasi, pembelajaran, hingga pembayaran dilakukan melalui beberapa aplikasi yang berbeda sehingga kurang efisien bagi kreator maupun learner. Melalui aplikasi Aksa, seluruh kebutuhan tersebut diintegrasikan ke dalam satu platform untuk menghadirkan proses pembelajaran yang lebih praktis, terstruktur, dan berkelanjutan.
Sebagai solusi, Aksa menciptakan beberapa fitur utama, yaitu media sosial, creator platform, dan interactive learning yang mempertemukan kreator, mentor, dan learner dalam satu ekosistem digital.
Pada fitur media sosial, pengguna dapat menjelajahi social feed untuk menemukan kreator serta pengguna lainnya yang relevan dengan minat dan tujuan pengembangan diri mereka. Berbeda dengan media sosial pada umumnya, Aksa menghadirkan atmosfer media sosial yang positif dan produktif, di mana seluruh aktivitas dirancang untuk mendorong penggunanya belajar, berbagi proses, membangun relasi, dan mengembangkan keterampilan bersama.
Aksa juga memiliki creator platform yang menyediakan berbagai perangkat guna mendukung creator dalam membangun dan mengelola komunitas secara profesional. Fitur yang tersedia meliputi community interaction, live course, payment, subscription, hingga analytics yang terhubung sehingga kreator dapat memonetisasi konten sekaligus memahami perkembangan komunitas yang mereka bangun tanpa harus menggunakan banyak aplikasi berbeda.
Tak hanya itu, fitur interactive learning oleh Aksa menghadirkan pengalaman belajar yang lebih adaptif melalui berbagai mini-app pembelajaran, seperti activity tracking, AI Companion, serta fitur unggulan Train. Melalui fitur tersebut, learner dapat memilih topik atau keterampilan apapun yang ingin mereka kuasai. Selanjutnya, Aksa secara otomatis akan menyediakan roadmap pembelajaran yang terstruktur, personal, dan bertahap sehingga learner memiliki panduan yang jelas mengenai materi, aktivitas, serta target yang perlu diselesaikan. Roadmap ini dapat membantu learner dalam membangun kebiasaan belajar yang lebih konsisten dan terarah sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Ketua tim pengembang Aksa, Sulhan Fuadi, menjelaskan bahwa Aksa dibangun dengan tujuan untuk menghadirkan sebuah ekosistem pembelajaran digital yang mampu menghubungkan seluruh kebutuhan belajar dalam satu platform.
“Melalui Aksa, kami ingin menghadirkan satu ekosistem yang mengintegrasikan media sosial, creator platform, dan interactive learning sehingga learner memperoleh pengalaman belajar yang lebih personal, terarah, dan menyenangkan dengan dukungan AI,” ujarnya.
Keberhasilan dalam memperoleh pendanaan menjadi langkah strategis bagi tim untuk mengembangkan fitur-fitur Aksa, memperluas jaringan kreator, serta meningkatkan kualitas pengalaman belajar bagi learner. Tim berharap Aksa mampu menjadi aplikasi pembelajaran digital yang tidak hanya menghubungkan kreator dan learner, tetapi juga membangun budaya belajar yang lebih kolaboratif, produktif, dan berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi.
Penulis: Irene Feby Rotua Manalu, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Editor: Salsa Puspita



