Merayakan Pilihan Hidup: Memahami Childfree sebagai Keputusan Personal

Childfree sebagai salah satu pilihan hidup yang didasarkan pada pertimbangan dan keputusan personal. (Sumber: Pinterest)

Apresiasi – Di tengah masyarakat yang kerap mengaitkan pernikahan dengan keharusan memiliki anak, keputusan untuk hidup tanpa anak masih menjadi pilihan yang sering dipertanyakan. Padahal, setiap individu memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, termasuk dalam keputusan untuk tidak atau memiliki anak. Hal ini menjadi isu yang kembali disoroti hari ini, yakni dalam peringatan Hari Childfree Internasional yang diperingati setiap 1 Agustus. Peringatan ini menjadi momentum pengingat bahwa setiap individu memiliki perjalanan hidup, prioritas, dan pertimbangan yang berbeda dalam menentukan masa depannya.

Childfree merujuk pada keputusan yang dilakukan secara sadar dan sukarela oleh seseorang untuk tidak memiliki anak. Keputusan ini merupakan pilihan personal yang biasanya dilatarbelakangi oleh berbagai pertimbangan, seperti prioritas pendidikan, karier, pengembangan diri, maupun tujuan hidup yang ingin dicapai. Tak hanya itu, pertimbangan ekonomi, kesiapan mental, kondisi lingkungan, hingga pandangan pribadi mengenai tanggung jawab dalam merawat seorang anak juga dapat menjadi bagian dari proses seseorang dalam menentukan pilihannya. Beragamnya alasan tersebut menunjukkan bahwa keputusan untuk tidak atau memiliki anak merupakan keputusan yang bersifat personal sehingga tidak dapat disamaratakan ataupun dihakimi.

Memahami pilihan childfree juga berarti memahami bahwa kehidupan setiap individu tidak selalu berjalan dengan pola yang sama. Dalam masyarakat, seseorang seringkali dihadapkan pada gambaran mengenai tahapan kehidupan yang dianggap ideal, mulai dari menyelesaikan pendidikan, mendapatkan pekerjaan, untuk kemudian menikah dan memiliki anak. Namun, nyatanya tidak semua orang memiliki prioritas maupun tujuan hidup yang sama.

Sebagian orang mungkin menemukan kebahagiaan melalui kehidupan berkeluarga dan menjadi orang tua. Namun, sebagian lainnya dapat menemukan kebahagiaan melalui karier, pendidikan, hubungan dengan orang-orang terdekat, kegiatan sosial, maupun berbagai hal lain yang memberikan makna bagi kehidupannya. Perbedaan tersebut bukanlah sebuah masalah, melainkan bagian dari keberagaman pengalaman manusia.

Saat ini, pasangan yang memilih untuk childfree masih kerap berhadapan dengan berbagai stigma di masyarakat. Mereka sering dianggap egois, menyimpang dari norma, serta dinilai belum menjalankan peran keluarga secara utuh. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa keputusan untuk childfree masih belum sepenuhnya dipahami sebagai pilihan hidup yang sah. Pertanyaan seperti “kapan punya anak?” juga tidak jarang menjadi tekanan ketika keputusan mereka dianggap tidak wajar atau belum lengkap. Padahal, keputusan untuk memiliki anak merupakan bagian dari kehidupan personal seseorang. Tidak semua keputusan harus diartikan melalui pengalaman dan pemahaman yang sama. Seseorang tidak harus memiliki pilihan yang sama dengan orang lain untuk dapat menghargai keputusan tersebut. 

Pilihan untuk tidak memiliki anak juga tidak menentukan nilai seseorang dalam masyarakat. Seseorang tetap dapat memberikan kontribusi melalui pekerjaan, pendidikan, kegiatan sosial, komunitas, kepedulian terhadap lingkungan, maupun hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Tentu karena kontribusi seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh statusnya sebagai orang tua. Begitu pula sebaliknya, keputusan untuk memiliki anak juga merupakan pilihan personal yang memiliki pertimbangan dan tanggung jawabnya sendiri. Dengan demikian, perbedaan pilihan antara memiliki anak dan tidak memiliki anak seharusnya tidak menjadi alasan untuk membandingkan atau menentukan pilihan mana yang lebih baik.

Pada akhirnya, setiap individu memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Tidak ada satu jalan yang dapat dijadikan ukuran tunggal bagi kebahagiaan, keberhasilan, maupun makna kehidupan seseorang. Memiliki anak maupun memilih untuk tidak memiliki anak merupakan keputusan personal yang memiliki pertimbangan masing-masing.

Merayakan pilihan hidup berarti memahami bahwa setiap orang memiliki hak untuk menentukan jalan yang ingin ditempuhnya. Dalam keberagaman tersebut, sikap saling menghormati menjadi hal penting untuk menciptakan ruang sosial yang lebih terbuka dan inklusif. Sebab, memahami pilihan seseorang tidak selalu berarti harus menyetujuinya, melainkan memberikan ruang bagi setiap individu untuk menjalani hidupnya dengan keputusan yang diyakini dan bertanggung jawab.

 

Penulis: Afifah Arian Nur

Editor: Salsa Puspita

Referensi:

Husada, T. (2023, February 18). Polemik childfree: ‘Bagaimana kamu bisa berasumsi hidup saya tidak berarti karena saya tidak punya anak?’- Pengakuan para pasutri yang memutuskan childfree di Indonesia. BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/articles/cpd44eykx5eo

Randall, C. (2025, January 9). I chose to be childfree. I didn’t think I was choosing isolation, too. The Guardian. https://www.theguardian.com/wellness/2025/jan/09/friendship-child-free?CMP=share_btn_url

Scroll to Top