Drama “Butter” BTS di UEFA EURO 2020: Eksploitasi Fandom Hantam Reputasi Liga

Drama kontroversi pemutaran Butter di gelaran pamungkas UEFA EURO 2020 tercatat mempertaruhkan reputasi dan sportivitas liga. (Sumber: www.abs-cbn.com)

Opini – Setelah sukses meluncurkan kolaborasi borahae-nya dengan McDonald’s, grup boyband asal Korea Selatan BTS kembali menarik perhatian publik. Union of European Football Associations (UEFA) EURO, laga kejuaraan sepak bola Piala Eropa 2020 resmi menominasikan Butter, salah satu karya andalan mereka dalam voting kedua “Song Selector” yang digelar via akun Twitter resmi UEFA (02/07/2021).

Dalam pengambilan suara daring tersebut, fandom BTS, ARMY berhasil mengangkat popularitas Butter hingga meraih persentase 46,6 persen dari total suara, sedangkan nominasi lainnya, Kill My Mind milik Louis Tomlinson berada di posisi kedua dengan perolehan suara 43,8 persen. Di posisi ketiga, ada lagu Bad Guy milik Billie Eilish dengan 6,5 persen suara dan lagu Yeah karya Usher menduduki peringkat keempat dengan perolehan 3,1 persen suara. Dengan begitu, secara logis diprediksi bahwa Butter akan menorehkan debut sebagai lagu produksi grup Kpop perdana yang akan diputar saat laga final Piala Eropa di Wembley Stadium, Inggris pada Senin (12/07) WIB dini hari mendatang.

Dilansir Prambors, sebenarnya pihak UEFA EURO 2020 telah melakukan voting terhadap pengguna Twitter sejak 1 Juli 2021. Pada voting perdana “Song Selector”, terdapat empat pilihan lagu yang dinominasikan oleh cuitan UEFA, yakni Blinding Lights (The Weeknd), Adore You (Harry Styles), Havana (Camila Cabello ft. Young Thug), dan Are You Gonna My Way (Lenny Kravits). Dari keempat nominasi tersebut, Adore You berhasil unggul dengan raihan suara sebanyak 42 persen, sedangkan Blinding Lights menyusul di posisi kedua dengan persentase 38 persen.

Cuitan Twitter Penyulut Emosi ARMY

Drama sesungguhnya dimulai ketika akun resmi Twitter UEFA EURO 2020 kembali dengan cuitan yang memicu kemarahan penggemar pada Rabu (7/7). Pihak penyelenggara Liga Eropa tersebut mengeklaim bahwa akan ada 4 lagu yang akan diputar saat gelaran laga pamungkas tersebut, antara lain Butter (BTS), KIll My Mind (Louis Tomlinson), Adore You (Harry Styles), dan Blinding Lights (The Weeknd). Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa keputusan final UEFA adalah mengambil lagu yang berada di posisi dua teratas dari kedua hasil voting penggemar via “Song Selector”. Keputusan yang sama sekali tidak dipublikasikan sebelumnya pada catatan kaki kedua laman voting.

Diprakarsai oleh institusi olahraga yang kerap mengampanyekan nilai sportivitas, keputusan UEFA tentu mengundang banyak tanda tanya. Bagaimana sistem voting dapat berlangsung secara fair dan sportif jika hanya bergantung pada persentase pilihan penggemar via aplikasi media sosial?

Belum lagi ada dua laman voting “Song Selector” yang diunggah dalam jangka waktu berbeda. Apakah memublikasikan keputusan final untuk mengambil lagu yang berada di posisi dua teratas dari kedua hasil voting penggemar adalah keputusan yang tepat?

Tentu hal ini berpotensi melayangkan berbagai tudingan asumsi konspirasi kecurangan dari hasil perhitungan yang dilakukan UEFA. Tidak lain dengan menggunakan Butter hanya sebagai alat untuk mengeksploitasi dukungan ARMY semata-mata terhadap gelaran final kompetisi tersebut.

“Untuk lain kali, jangan lakukan voting bodoh dan katakan saja bahwa Anda akan memainkan semua lagu. Kami berusaha keras untuk memenangkan survei, kami menerima hinaan dan ancaman dari fandom lain, apakah menurut Anda itu menyenangkan? Jangan melakukan hal yang tidak perlu,” tulis salah seorang ARMY dengan akun @minsug** pada salah satu postingan Twitter UEFA.

UEFA Dituding Hanya Ingin Eksploitasi Fandom

Di sisi lain, keputusan untuk menggantungkan anthem final hanya pada voting Twitter rasanya terlalu mengemis dukungan fans fanatik. Hal ini dibuktikan dengan munculnya petisi kontra yang diprakarsai oleh penggemar UEFA untuk menolak keras pemutaran Butter karena dituding tidak selaras dengan semangat Liga Eropa. Hingga Rabu (7/7) petisi Change.org bertajuk Tolak Lagu Butter Untuk UEFA EURO 2020 ini telah meraih 157 ribu responden dari target 200 ribu tanda tangan.

Kasus dugaan eksploitasi fandom seperti ini seharusnya dapat menjadi pelajaran berharga bagi UEFA. Pembangunan digitalisasi sistem yang lebih sportif dan transparan dalam melayangkan voting yang berpengaruh bagi publik dapat menjadi salah satu solusi efektif untuk menciptakan iklim yang lebih suportif antar penggemar artis maupun penggemar liga.

Penggunaan hak cipta (trademark) karya yang berpengaruh tidak serta merta dapat mendongkrak popularitas maupun reputasi brand secara instan, terutama saat bersinggungan dengan dukungan penggemar fanatik. Sebaliknya, drama kontroversi dan ketidakpercayaan terhadap nilai-nilai sportivitas maupun transparansi yang seharusnya dijunjung tinggi dalam dunia liga justru berpotensi mempertaruhkan eksistensi nama baik yang telah dibangun seketika.

 

Penulis: Christian Noven

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Dyah Satiti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *