
Semarangan – Aksi Kamisan Semarang kali ini digelar di Moenasiah & Lauk Buku yang berada di area Komplek Buku Stadion Diponegoro, Jl. Pendrikan, Karangkidul, Kota Semarang, pada Kamis malam (18/6/2026). Aksi ini mengangkat tema “Krisis, Kekerasan, dan Pembangkangan”, dengan dikemas dalam bentuk diskusi publik yang menggandeng beberapa pihak sebagai bentuk kolaborasi, yakni Aksi Kamisan Semarang, Bersemai Sekebun, Bara Puan, dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Kegiatan Aksi Kamisan tersebut turut dimeriahkan dengan penampilan puisi serta musik oleh Kenikir dan Mahran Nazih, musisi rapper asal Semarang.
Diskusi bukan hanya dilakukan atas dasar kejenuhan terhadap kebijakan pemerintah, melainkan juga sebagai implikasi atas pemikiran bahwa diskusi sudah selayaknya hadir sebagai rutinitas harian. Salah satu narasumber dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah dan Bara Puan, sekaligus pemilik Moenasiah & Lauk Buku yang akrab disapa Dera mengatakan bahwa Aksi Kamisan bukan tentang didengar atau tidaknya oleh pemerintah. Namun, terkait diskusi yang sudah selayaknya menjadi kerja harian secara terus-menerus sebagai bentuk perlawanan.
Selain itu, Dera menjelaskan alasan terkait Aksi Kamisan yang tidak digelar di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah sebagaimana Aksi Kamisan umumnya diselenggarakan. Dera mengungkapkan bahwa ia dan suaminya, Fathul Munif yang selanjutnya dipanggil Munif tidak perlu kesulitan untuk mencari tempat meskipun sebelumnya mempertimbangkan jalan yang berisik karena kendaraan yang lewat. Namun, pertimbangan tersebut dirasa lebih baik daripada di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah dengan jumlah kendaraan yang lebih banyak.
“Sebenarnya kami juga mikir tempat tuh kerepotan mau di mana diskusinya, Moenasiah aja yang nggak perlu kita nembungi (red, meminta) lagi karena punya aku dan Munif kan, jadi nggak perlu nembungi tempat karena kami kecapekan juga harus mikir tempat,” jelas Dera.
Respons Positif Partisipan
Konsep Aksi Kamisan Semarang kali ini menuai respons positif dari salah satu peserta Aksi Kamisan. Firly Aufa Ahsanti atau dipanggil Acha, peserta sekaligus pendiri Book Club Semarang menanggapi bahwa konsep Aksi Kamisan kali ini memberikan pembelajaran terkait kerja-kerja perawatan yang dapat dilakukan dengan hal-hal kecil.
“Diskusi ini juga akhirnya membuktikan bahwa kerja-kerja perawatan itu bisa dirawat dengan hal-hal kecil, sekecil nongkrong bareng teman atau mendengarkan teman-teman kita tukar gagasan di depan,” ucap Acha saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Kamis (18/6/2026).
Kerja Perawatan sebagai Bentuk Pembangkangan atas Krisis dan Kekerasan
Kerja perawatan merupakan salah satu bentuk kegiatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisik, emosional, serta sosial manusia. Disebut sebagai pembangkangan dikarenakan kerja perawatan dapat berupa ruang dialog untuk membicarakan terkait keresahan seperti krisis ekonomi ataupun segala bentuk kekerasan. Kerja perawatan banyak disinggung di dalam diskusi publik, hal ini sejalan dengan pemilihan topik diskusi pada Aksi Kamisan kali ini yang dilakukan sebagai bentuk refleksi selama keberjalanan Kamisan di Semarang. Selain itu, bentuk refleksi tersebut diperuntukkan untuk meninjau metode pergerakan aksi atau demonstrasi yang selama ini dilakukan.
“Sebetulnya sepanjang kita hidup itu kan selalu mengalami kekerasan. Nah, titik ini sebetulnya diskusi ini bukan hanya merespons aksi kemarin (red, Aksi Panca Tuntutan Rakyat) tapi merespons perjalanan panjang kita selama di Aksi Kamisan,” ungkap Dera.
Aksi Kamisan tersebut juga membahas mengenai pandangan bahwa krisis telah terjadi di sekitar masyarakat. Krisis yang dimaksud tidak hanya yang terjadi pada momen-momen tertentu layaknya krisis ekonomi dan politik seperti saat ini, melainkan juga krisis dalam bentuk keterbatasan ruang dan waktu. Selain itu, krisis juga terjadi bersamaan dengan adanya kekerasan. Tidak hanya persoalan kekerasan secara fisik, melainkan juga dalam bentuk beban mental.
“Kita diasingkan dari orang, kita kemudian kesusahan curhat, ngobrol dan lain-lain itu adalah juga bagian dari praktik kekerasan,” ungkap Dera
Kemudian, pembahasan terkait pembangkangan juga tidak sekadar dimaknai sebagai penolakan terhadap sistem pemerintahan layaknya menolak untuk membayar pajak dan menolak tunduk terhadap pemerintah. Pembangkangan tersebut juga dapat masuk melalui ruang-ruang diskusi yang diibaratkan sebagai kerja-kerja politik perawatan.
“Maka pembangkangan kita, kita menolak tunduk itu ya kita harus melakukan kerja-kerja ngobrol, nongkrong, dan lain-lain,” ungkap Dera.
Kemudian, terdapat pandangan lain dari peserta Aksi Kamisan terkait topik diskusi publik, khususnya mengenai kerja-kerja perawatan. Baginya, secara tidak sadar kekerasan dan impunitas sangat dekat dengan aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan adanya pergerakan dan perlawanan setiap harinya, yang salah satunya dengan kerja-kerja perawatan yang dilakukan melalui hal-hal kecil layaknya nongkrong.
“Kerja-kerja perawatan ya harus dilakukan sepanjang hari atau setiap hari dan itu bisa dilakukan dari banyak hal-hal kecil gitu,” tutur Acha.
Kontras Soroti Keadaan Negara yang Terus Melakukan Kekerasan
Bima, bagian dari KontraS Divisi Kampanye dan Jaringan turut hadir dalam Aksi Kamisan kali ini. Bima sebagai salah satu pemantik diskusi, membahas mengenai kekerasan yang telah dilakukan oleh negara, baik dari aparat Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Tentara Nasional Indonesia (TNI), sipir penjara, dan elemen lainnya. Bima juga menjelaskan bahwa kondisi terkait penanganan kasus kekerasan di Indonesia masih belum dapat dikatakan baik hingga kini.
“Ketika kekerasan itu masih ada, berarti memang belum ada keadilan yang ditegakkan. Makanya kalau misalnya kita bicara terkait bagaimana kondisi sudah baik, belum sama sekali,” terang Bima saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Kamis (18/6/2026).
Bima pun memaparkan data-data yang diperoleh KontraS selama mengawal kasus-kasus kekerasan. Berdasarkan data yang dihimpun KontraS, terdapat 29 kasus kekerasan, 42 korban luka-luka, dan 4 orang tewas pada kuartal pertama tahun 2026.
“Bahkan di kuartal pertama 2026, ada 29 kasus kekerasan, 42 korban luka-luka, dan 4 orang tewas, itu menandakan bahwasanya hari ini negara belum berhasil menjaga keamanan, apalagi untuk penegakan keadilan,” ucap Bima.
Namun, ia menekankan bahwa data-data tersebut merupakan kasus-kasus yang diketahui karena diyakini jumlah tersebut lebih banyak daripada yang dilaporkan dan kasus kekerasan terus bertambah.
“Bukan tentang angkanya sedikit, berarti masih ada kekerasan hari ini di negara. Kayak misalkan kok cuma 29 kasus, berarti sedikit? Negara baik saja? Nggak, karena ada 29 kasus, mungkin negara belum bisa menjamin (red, keamanan) bagi masyarakatnya itu sendiri,” tegas Bima.
Selain itu, Bima menyoroti terkait Konvensi Internasional untuk Perlindungan Semua Orang dari Penghilangan Paksa (International Convention for the Protection of All Persons from Enforced Disappearance) yang hingga kini belum diratifikasi oleh pemerintah Indonesia. Ia menilai bahwa Konvensi Penghilangan Paksa menjadi penting untuk diratifikasi agar Indonesia memiliki kedudukan hukum untuk mengusut tuntas kasus-kasus terkait penghilangan paksa. Hal tersebut juga penting mengingat masih banyak kasus penghilangan paksa yang belum diusut tuntas, seperti Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965 yang berlanjut hingga tahun 1966, serta Peristiwa Talangsari yang terjadi pada tahun 1989, Mei 1998, dan Agustus 2025.
“Jika diratifikasi, setidaknya Indonesia punya legal standing untuk kita mengusut secara tuntas karena dari 65 sampai hari ini ada banyak sekali orang hilang,” ujar Bima.
Lebih lanjut, Bima pun menyayangkan penghilangan paksa terjadi terhadap orang-orang yang bersuara lantang terkait keburukan kebijakan pemerintah dan orang-orang dengan pandangan politik yang berbeda.
“Banyak orang yang dihilangkan ketika mereka bersuara terlalu keras, atau mungkin karena background politiknya,” kata Bima.
Bima juga turut menyampaikan tanggapan mengenai acara diskusi pada Aksi Kamisan kali ini. Ia mengaku senang karena peserta masih antusias untuk berpartisipasi meskipun telah melewati masa-masa pelik, seperti pasca kejadian penangkapan dan represifitas pada aksi demonstrasi di bulan Agustus dan Mei lalu (May Day).
“Jadi memang perlawanan dan menyadarkan kekerasan itu tidak harus selalu lewat aksi, tapi lewat diskusi juga yang mungkin akhirnya membangun semangat lagi, ketika bertemu sesama jaringan, akhirnya kita masih punya keresahan yang sama, kita masih marah atas hal yang sama,” ujar Bima.
Bima melanjutkan bahwa diskusi pada Aksi Kamisan tersebut dapat menjadi jeda untuk menyusun pergerakan yang lebih masif.
“Makanya ini bisa menjadi titik, bukan titik awal, tapi check point kita untuk setidaknya bergerak lebih masif dan juga mengonsolidasikan mau ke mana kita bergerak, jangan sampai pada akhirnya diskusi ini hanya berlangsung lewat saja,” lanjut Bima.
Bima pun meyakini bahwa diskusi tersebut dapat menjadi bahan refleksi untuk pergerakan di Kota Semarang, khususnya terkait metode-metode yang akan digunakan.
“Aku yakin kawan-kawan di Semarang itu tidak akan hanya lewat saja, pasti akan kembali merefleksi dari diskusi tadi dan kemudian mencari metode yang memang cocok untuk kawan-kawan di Semarang dan mungkin bisa menjadi percontohan di daerah-daerah lain,” tambah Bima.
Aksi Kamisan tersebut bukan hanya sebagai peristirahatan sejenak, sebab rakyat juga tetap melawan lewat diskusi dan refleksi tentang sejauh bagaimana pergerakan per hari ini. Diskusi menyoroti bagaimana pembangkangan terhadap krisis dan kekerasan merupakan hal yang harus dilakukan dari hal-hal kecil yang lebih besar.
Reporter: Salwa Hunafa, Tialova R.A.
Penulis: Salwa Hunafa, Tialova R.A.
Editor: Andaru Surya, Salsa Puspita

