Warga Kendeng Menang dalam Perkara Pendirian Pabrik Semen

Suasana aksi dari warga kendeng menentang pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Selasa (17/11) di PTUN Semarang. (Haqqi/Manunggal)

Suasana aksi dari warga kendeng menentang pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Selasa (17/11) di PTUN Semarang. (Haqqi/Manunggal)

ManunggalCybernews – Sekitar 200-an warga Pegunungan Kendeng, Pati melakukan aksi di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Selasa (17/11) untuk menentang pembangunan pabrik semen yang akan dibangun di wilayah tersebut. Sebelumnya, mereka telah melakukan Long March dari Pati ke Semarang sejak Minggu (15/11) hingga tiba di depan gedung PTUN Semarang pada Selasa (17/11) sekitar pukul 07.28 waktu setempat.

Adapun, sekelompok mahasiswa dari berbagai universitas sekitar Semarang yakni Universitas Diponegoro, Universitas Sultan Agung, dan Universitas Wachid Hasyim turut mengawal aksi tersebut.

Terdapat sekitar 20 mahasiswa Undip yang ikut mengawal persidangan. Mereka berasal dari BEM FIB, BEM FH, HMJ Sejarah, dan BEM Undip yang mengatasnamakan diri sebagai Aliansi Mahasiswa Peduli Pegunungan Kendeng.

Presiden BEM FIB Undip Stanisclaus Costca Rheyno Anugrah Perdana mengatakan sidang pengadilan PTUN dimulai sekitar pukul 09.00.

Dia menjelaskan sidang yang berlangsung kurang lebih 7,5 jam tersebut diramaikan dengan orasi dan pertunjukan dari petani maupun mahasiswa, mulai dari Keluarga Mahasiswa Pelajar Pati sampai Komunitas Mahasiswa Pati.

Saat proses persidangan, kata dia, relawan aksi sempat pesimis dengan adanya pembacaan pledoi yang cukup panjang. Pasalnya, beberapa aliansi menilai fakta-fakta yang diangkat tidak cukup kuat untuk mengangkat kasus.

“Beberapa aliansi dari mahasiswa Jurusan Hukum mengatakan kalau fakta-fakta yang diangkat tidak cukup kuat mengangkat kasus,” ujar Rheyno saat dihubungi Manunggal, Selasa (17/11).

Lebih lanjut Rheyno menjelaskan setelah pembacaan pertimbangan, hakim menemukan banyak kejanggalan dari pihak PT Sahabat Mulia Sakti (SMS) yang kemudian ditolak dengan mempertimbangkan Undang-undang (UU) Lingkungan dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

Usai putusan pengadilan, suasana haru tampak mengiringi masyarakat Pati beserta seluruh relawan dalam perjalanan pulang karena telah memenangkan proses persidangan menentang pendirian pabrik semen.

“Para warga sujud semua dan berdoa lalu berjalan sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya,” ujar Rheyno.

Tampak dua tokoh lintas agama hadir dalam aksi mengawal persidangan, yakni Romo Alyos Budi Purnomo dan Gus Ubaid. “Romo Budi datang dengan saxophonenya dan Gus Ubaid dengan orasinya,” imbuh Rheyno. (Haqqi/Manunggal)