Upaya Berliku di Balik Status PTN BH

(Infografis: Kiky/Manunggal)

Ditemui pada Rabu (27/04) di Rektorat, Pembantu Rektor III Darsono menjelaskan rancana kenaikan UKT sudah ada sejak tiga tahun yang lalu dan rencana pemberlakuan SPI sudah ada sejak dua tahun yang lalu. Akan tetapi, rencana tersebut baru direalisasikan dan diterapkan pada tahun ini. “Kebijakan itu (kenaikan UKT dan pemberlakuan SPI, red) hanya di peruntukkan kepada mahasiswa baru,” jelasnya.

Pertimbangan yang diambil untuk menaikan UKT dan menerapkan SPI dikarenakan dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) yang mengalami penurunan dan Biaya Kuliah Tunggal yang mengalami kenaikan setiap tahun. Darsono juga memaparkan tujuan Undip menaikan UKT dan menerapkan SPI yaitu untuk meningkatkan fasilitas, sarana prasarana sehingga bisa mewujudkan Undip sebagai World Class University.

Biaya UKT tersebut akan dialokasikan untuk menutup keuangan Undip yang defisit, sedangkan dana SPI akan dialokasikan untuk pengembangan fasilitas dan progam pengembangan seperti penelitian, penggantian fasilitas laboratorium, dan sebagainya.

Darsono juga menjelaskan, Undip sudah menyiapkan mekanisme yang tepat untuk menghindari adanya kesalahan dalam penetapan  golongan UKT bagi mahasiswa baru 2016. Mekanisme tersebut berupa pengisian data pribadi mahasiswa dan mengadakan survey langsung ke rumah-rumah mahasiswa baru. Selain itu, Undip juga menjamin mahasiswa baru bisa mengajukan keberatan jika mendapat UKT yang tidak sesuai dengan kondisi ekonominya. “Mengajukan keberatan disini bukanlah banding. Jika banding dilakukan saat sebelum UKT ditentukan sedangkan mengajukan keberatan di mana mahasiswa sudah menjalani satu tahun perkuliahan,” tandasnya.

Namun pada pelaksanaannya terdapat hal-hal yang menyulitkan bagi mahasiswa baru. Ditemui beberapa waktu lalu, Staf Advokasi Kesejahteraan Mahasiswa BEM Undip, Friska Dwi Aprilia mengatakan minimnya tenggat waktu untuk menyiapkan berkas keberatan UKT hingga minimnya pusat informasi menjadi problem tahun ini.”Call centre yang disedikan itu enggak bisa dihubungin, apalagi pada saat UM gelombang kedua karena pada saat itu seluruh pegawai rektorat pindah ke Gedung Soedarto, sementara nomor telepon itu (Call centre, red) nomor kantor,” ungkap mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Undip itu.

Selain itu, lokasi informasi PMB yang sempat berpindah-pindah juga membingungkan mahasiswa baru terutama mengenai informasi PMB serta UKT dan SPI. Friska menjelaskan pusat informasi PMB yang seharusnya berada di Gedung ICT tiba-tiba ikut dipindahkan ke Gedung Soedarto. “Ketika aku samperin ke ICT itu enggak ada, hanya ada tulisan ditempel yang berisi silahkan cari info ke registik, dan registik kosong ternyata pindah juga ke Soedarto,” jelasnya. (Eko, Ika, Fajrin, Mei/Manunggal)

Versi cetak artikel ini terbit di tabloid Manunggal Edisi I Tahun XVI Agustus 2016  di halaman 4-5 dengan judul “Upaya Berliku di Balik Status PTN BH”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *