Unjuk Harmonisasi, Pemkot Semarang Adakan Karnaval Lintas Agama

Walikota Semarang, Hendrar Prihadi memukul gong sebagai simbol dimulainya acara Karnaval Seni Budaya Lintas Agama dan Pawai Ogoh-ogoh, Minggu (27/3) di Kawasan Kota Lama, Semarang. (Nina/Manunggal)

Walikota Semarang, Hendrar Prihadi memukul gong sebagai simbol dimulainya acara Karnaval Seni Budaya Lintas Agama dan Pawai Ogoh-ogoh, Minggu (27/3) di Kawasan Kota Lama, Semarang. (Nina/Manunggal)

ManunggalCybernews–Hari Raya Nyepi 1938 memang sudah berlalu. Namun, dalam rangka meningkatkan kunjungan wisata ke Jawa Tengah khususnya Kota Semarang, Pemerintah Kota (pemkot) Semarang memberdayakan pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Hal tersebut terwujud dalam Karnaval Seni Budaya Lintas Agama dan Pawai Ogoh-ogoh, yang dalam pelaksanaannya bekerja sama dengan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang, Minggu (27/3).

Karnaval seni budaya dan pawai tersebut merupakan sarana silaturahmi sekaligus pengembangan kreasi seni bagi seluruh komponen masyarakat lintas agama dan etnis di Kota Semarang. Karnaval dengan tajuk “Merajut Harmoni dalam Keberagaman” ini dibuka dengan tarian tradisional dan simbolik pemukulan gong oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.

“Ini adalah hari yang luar biasa, di mana ada beragam umat di sini. Tapi kita bersama-sama ingin menunjukkan bahwa ada sebuah harmonisasi yang luar biasa di Kota Semarang,” ujar Hendrar.

Acara tersebut dimulai sejak pukul 14.00 hingga 17.20 WIB dan diikuti kurang lebih 1000 orang yang mewakili seluruh agama dan etnis yang ada di Kota Semarang. Karnaval tersebut diramaikan oleh empat ogoh-ogoh raksasa yang dibawakan oleh umat Hindu, tarian barongsai dari umat Khonghuchu, permainan musik rebana dari umat Islam, serta pembawaan miniatur Gereja Blenduk dari umat Nasrani. Adapun, rute yang dilalui adalah dari Kota Lama hingga Kompleks Balai Kota Semarang. (Nina/Manunggal)