Universitas Kasih Sayang

(Ilustrasi: Fitri/Manunggal)

(Ilustrasi: Fitri/Manunggal)

Senin (8/8), suasana Stadion Utama Undip sejak pukul 06.00 WIB ramai dipenuhi seragam putih dan hitam. Rumput lapangan pun masih ba- sah oleh air hujan sisa semalam. Namun, terdapat pemandangan berbeda dalam upacara pembukaan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) dari tahun – tahun sebelumnya. Hal apakah yang membuat upacara kali ini berbeda?

“Undip akan hadir menghampirimu dengan belaian kasih sayang,” begitulah sebuah kuti­pan dari pidato rektor Undip Prof. Yos Johan Utama. Salah satu bentuk kasih sayang, kata Prof. Yos, yaitu dengan disediakannya tenda beserta kursi. “Biasanya kalo PMB selalu ter­buka, berdiri, maka banyak mahasiswa banyak berjatuhan karena pingsan maupun pura-­pura pingsan maka Anda disiapkan semuanya di bawah tenda,” ujar Prof Yos.

Wakil Rektor I, Prof Muhammad Zainuri, menjelaskan bahwa pemasangan tenda tersebut berdasar pada slogan Undip 3M yaitu Mandiri, Mumpuni, dan Madani. “Mampu menciptakan peradaban dalam bentuk yang lebih humanis. Kalau saya duduk mereka juga harus duduk. Jadi secara praktis kita meletakkan kesejajaran ini  tanpa  menghilangkan  hierarki,”  jelasnya saat ditemui oleh Tim Joglo Pos Xpress usai upacara pembukaan PMB.

Keberadaan tenda dan kursi­-kursi yang ber­jejer rapih pun memiliki manfaat yang cukup berpengaruh untuk memberikan kenyamanan bagi para mahasiswa baru. Di tengah matahari yang cukup terik kala itu, manfaat dari adanya tenda dan kursi tersebut terlihat dari berkurang­nya mahasiswa baru yang jatuh sakit. “Pada tahun sebelumnya satu posko kesehatan bisa sampai 60 – 80 mahasiswa. Namun, pada tahun 2016 ini, dari keseluruhan posko kese­hatan hanya 90 mahasiswa yang jatuh sakit,” ujar Herostika Insani, salah satu anggota Korps Sukarela Palang Merah Indonesia Unit Universitas Diponegoro (KSR Undip) yang sedang bertugas saat upacara. Kebanyakan mahasiswa baru yang jatuh sakit saat upacara, menurut Herostika Insani, dikarenakan oleh tubuh yang kurang sehat dan belum sarapan pagi. Sehing­ga, masih ada saja mahasiswa yang jatuh sakit meski sudah dipasang tenda.

Pengadaan tenda dan kursi yang baru per­tama kali diadakan tersebut pun membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Prof Zainuri me­ngatakan, bahwa biaya yang dikeluarkan untuk upacara PMB pada tahun ini tidak mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Untuk penyewaan tenda dan kursi, Prof Zainuri me­nyatakan, bahwa biaya yang berkisar antara Rp180 juta hingga Rp190 juta. Beliau juga me­nambahkan bahwa biaya tidaklah menjadi masalah. “Jangan melihat angkanya tapi lihatlah dari tahun kemarin berapa yang jatuh sakit dan tahun ini berkurang,” jelasnya.

Bagai pisau bermata dua, dari segi kenya­manan memanglah upacara dengan tenda dan kursi itu dapat meminimalkan jumlah maha­siswa baru yang jatuh sakit. Tetapi di sisi yang lain  Tirta  Rizky  Ramadhan,  mahasiswa  S­1 Teknik Industri 2016 mengungkapkan bahwa kursi yang disediakan kurang. “Kalau misalkan sama rata nggak papa. Kalau ini kan nengok­ nya wah ada duduk ada yang berdiri. Kalau pakai tratak dan kursi, ya dapat semua, kalau nggak pakai tratak ya nggak usah semua. Jadi sama rata,”

Meskipun menuai beberapa perbedaan pendapat di kalangan mahasiswa, Undip tetap berusaha untuk memberikan kenyamanan bagi para mahasiswa baru. “Perubahan pada upaca­ra kali ini diharapkan mendapat respons yang baik dari para orang tua/wali, mahasiswa, dan warga Undip,” ungkap Prof  Zainuri. (Dinda, Yunita/Manunggal)

Versi cetak artikel ini terbit di newsletter Joglo Pos Xpress Edisi I / TAHUN XVI /9 Agustus 2016 di halaman 4 dengan judul “Universitas Kasih Sayang”.