Unik, Pocong Jualan Kacang

Mendengar pocong gentayangan di kawasan yang sepi bisa membuat bulu kuduk merinding. Namun, apa jadinya jika pocong justru gentayangan di pinggir jalan raya?


Mas Pocong, begitulah lelaki yang memiliki nama asli Boshido Larufatwa ini biasa disapa. Dengan berpakaian ala pocong, lelaki kelahiran Jakarta, 4 September 1992 ini berjualan kacang di pinggir jalan seberang Kampus Politeknik Negeri Semarang (Polines).

Kacang goreng Hotsweet BBQ, Mumi Kering, dan Owl Roll merupakan beberapa menu kacang yang disuguhkan Mas Pocong. Selain menawarkan varian rasa kacang yang berbeda, Mas Pocong juga menggunakan gaya unik dalam berjualan. Sesuai dengan namanya, dia menggunakan baju pocong buatannya sendiri. Baju tersebut diberi manik-manik yang menarik perhatian pembeli.

Boshido mengaku mendapat ide unik ini setelah mengolah kacang di rumahnya dengan beberapa bumbu lalu mengkreasikan bungkusnya dengan tali. Kacang tersebut kemudian dia namakan Kacang Pocong. Setelah merasa cukup menguasai resep dan ilmu berbisnis, lelaki yang besar di Semarang ini memberanikan diri untuk berjualan kacang setiap malam di seberang Kampus Polines. Sebungkus kacang yang dia jual dihargai Rp 10 ribu. Pelanggan pun diperbolehkan berfoto dengannya.

Sebelum memutuskan berjualan Kacang Pocong, Boshido pernah berjualan mie kornet keju di sekitar Jalan Pahlawan, Semarang. “Dari sanalah, saya mulai belajar tentang cara-cara berjualan dan bisa sampai seperti sekarang ini,” ujarnya.

Meski baru berjalan tujuh bulan, usaha Kacang Pocong mampu menarik perhatian orang yang melewati jalan di seberang Polines. “Bukannya serem, Mas Pocong jadi lucu dan unik berjualan dengan memakai seragam pocong yang berwarna-warni.  Kacangnya juga enak, gurih, bumbunya meresap sampai kacang terdalam,“ kata Febriliani Fitrianita, mahasiswa Undip yang merupakan salah satu pelanggan Kacang Pocong. (Ririn/Manunggal)